
"Kamu bener-bener pandai dalam memasak Put? Masakan mu bener-bener sangatlah enak," puji Revan dengan lahabnya memakan makanan itu sampai habis.
"Syukurlah kalau kamu suka dengan masakan ku Rev, aku senang mendengarnya," balas Putri yang kemudian dia pun tersenyum malu. Selanjutnya dia pun melihat Nina yang sedari tadi diam berada dimeja makan.
"Kenapa aku merasa enek ketika melihat Revan yang memuji masakannya Putri? Apa karena aku memang tidak pernah memasak sendiri dan hanya mengandalkan Bibik makanya dia menyindir-ku dengan cara seperti ini? Apa memang benar masakan Putri memang sangatlah enak sampai-sampai dia lahab seperti itu. Palingan kalau dibandingkan dengan masakan Restoran jelas enakan masakan Restoran lagi," batin Nina yang merasa kurang senang ketika harus berada semeja makan dengan Putri.
"Nina kenapa kamu hanya diam aja? Kamu tidak akan merasa kenyang jika hanya melihat saja, jadi makanlah," tawar Putri akan tetapi Nina yang menatapnya tak membalas satu kalimat pun pada Putri.
"Nina aku tahu kamu masih marah sama kita. Tapi benar apa yang dikatakan Putri kamu tidak akan merasa kenyang jika hanya memandang makanan ini saja jadi makanlah ini aku ambilkan," ucapnya segera Revan pun mengambilkan se'centong nasi untuknya.
"Baiklah aku akan makan," balasnya tanpa basa-basi lagi dia pun langsung melahab sesendok makanan yang kemudian dia masukkan kedalam mulutnya. Terlihat dari raut wajahnya nampak terkejut setelah ia berhasil merasakan masakan Putri barusan.
"Apa? Ini beneran masakan Putri? Ternyata yang Revan katakan memang sangatlah benar ini memang bener-bener sangat enak. Gak aku gak akan pernah mau kalah dengan Putri. Jika dia terus menerus seperti ini. Yang ada aku akan kalah dengannya," batin Nina yang merasa tak tahan lagi.
"Astaga aku hampir mau telat aku harus segera pergi sekarang!" balasnya segera ia pun bangkit dari tempat ia duduk sekarang.
"Kamu mau kemana Nin? Kamu belum habiskan sarapan kamu?" tanya Putri.
"Ini aku harus segera pergi keRestoran sekarang, karena aku ada janji sama seseorang disana!.
"Apa kamu mau aku antar?" tawar Revan.
__ADS_1
"Tidak usah aku bisa minta tolong Pak Putra untuk antarkan aku, baiklah aku berangkat dulu," balasnya tanpa berkata ia langsung pergi tanpa memberikan salam pada Revan.
"Terlihat dari raut wajah Nina nampak ia masih sangat marah sama aku. Jika aku hanya diam seperti patung disini yang ada aku sendiri akan hancur dengan sendirinya karena terus-menerus mendapatkan perlakuan seperti ini,"batinnya yang hanya terdiam. Revan yang melihatnya ia kemudian bertanya pada Putri.
"Putri kamu gak perlu sedih aku yakin gak akan lama dia akan paham, jadi sudahlah lupakan apa yang barusan terjadi tadi," ucapnya kemudian Putri menimpali pembicaraannya.
"Iya Revan apa yang kamu katakan memang benar butuh waktu bagi Nina untuk menerima semua ini. Oh iya sekalian ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu?"
"Bicarakan soal apa?"
"Lebih tepatnya aku ingin minta persetujuan darimu? Apa kamu mengijinkan-ku untuk tetap kerja di Restoran Tante Cassandra karena jujur aku masih ingin kerja biar pun saat ini aku sudah menjadi Istri-mu?"
"Aku tahu Revan tapi mungkin dengan aku melanjutkan kerja aku bisa lebih mandiri. Belum lagi anak yang ada dikandungan-ku ini bukanlah anak kamu jadi aku tidak mau merepotkan-mu dalam masalah-ku ini. Kita sudah sepakat ingin bercerai secepatnya jadi pastinya aku juga harus memikirkan kehidupan-ku nantinya jadi kamu gak keberatan kan dengan permintaan-ku ini?"
"Baiklah kalau itu memang sudah jadi keputusan kamu aku bisa apa lagi. Apa pun yang ingin kamu lakukan aku akan terus mendukung-mu, tapi ingat kondisi kamu saat ini sedang hamil jadi aku tidak mau kamu terlalu serius menjalankan pekerjaan kamu sedangkan janin yang kamu kandung kamu abaikan setidaknya jika kamu mulai kecapean secepatnya kamu beristirahat karena takutnya akan berpengaruh buruk juga pada janin yang kamu kandung saat ini.
"Iya Revan aku tahu kok dan aku akan menjaga kondisi-ku sekaligus janin yang aku kandung ini dengan baik. Sekarang aku akan mulai kerja jadi kamu gak masalah kan?"
"Iya aku gak masalah kalau perlu aku bisa minta bantuan sama Pak .... untuk selalu mengantar dan menjemput-mu kalau kamu bersedia?"
"Tidak Revan mendapatkan persetujuan darimu ini sudah sangat melegakan. Dan untuk pulang pergi aku masih sanggup kok kamu tidak perlu memerintahkan Pak ....untuk repot-repot menjemput-ku karena dia juga sudah banyak beban pekerjaan disini.
__ADS_1
"Oh iya selain itu ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu. Sebenarnya aku sudah lama ingin tanya sama kamu tapi aku sedikit ragu dan sekarang aku ingin kamu jawab jujur siapa ayah dari anak yang kamu kandung saat ini. Waktu itu kamu sempat bilang kalau bukan Rafa yang jadi Suamimu terus siapa seseorang yang menjadi Suami-mu sebenarnya?"tanya Revan akan tetapi Putri nampak diam.
"Maaf Revan aku tahu kamu memang sudah jadi Istri-mu tapi maaf untuk masalah ini aku belum bisa cerita sama kamu sepenuhnya. Aku masih butuh waktu untuk bisa menjelaskannya sama kamu tapi yang jelas untuk saat ini aku belum bisa maaf ya.
"Baiklah kalau kamu masih belum bisa bercerita sama aku, tapi ingatlah aku akan selalu ada untukmu jadi cepat atau lambat jika kamu butuh teman untuk bercerita maka cerita-lah aku siap jadi teman curhat-mu.
"Baiklah sekali lagi maafkan aku. Maafkan aku gara-gara aku Rumah tangga kalian jadi hancur seperti ini maafkan aku.
"Kamu tidak perlu minta maaf semua ini bukanlah salah kamu, tapi karena memang ada seseorang yang sengaja menjebak kita dalam permainan ini dan cepat atau lambat aku bakal tahu siapa sebenarnya dalang dari semua ini.
"Ya sudah karena hari ini kamu ingin berangkat kerja gimana kalau kita sekalian berangkat bareng kebetulan kita kan satu arah.
"Apa kamu tidak keberatan?"
"Aku sama sekali tidak keberatan kok jadi cepatlah bersiap-siap karena kamu hampir telat.
"Baiklah aku akan bersiap-siap sekarang tunggu ya.
"Baiklah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1