
Selangkah Claudya hendak ingin melarikan diri, langkahnya terhenti setelah suara tembakan yang tiba-tiba mengenai kaki kanannya yang akhirnya tubuhnya pun seketika tersungkur.
DYAR...
"Ah...!. Suara jeritan Claudya yang seketika terjatuh sungkur setelah mendapat tembakan tersebut.
"Kalian, angkat keatas kedua tangan kalian sekarang, kalian sudah tertangkap, jadi menyerah lah?"perintah Polisi yang akhirnya membuat para pelaku pun terduduk dan mengarahkan tangannya keatas.
"Revan kamu berani sekali melukai aku seperti ini tega kamu Rev tega!"
"Bukan aku yang tega menyakiti mau pun berniat ingin menyakiti kamu, tapi kamu sendirilah yang memaksaku untuk berbuat kejam sama kamu. Mungkin dengan keputusanku untuk memasukkan kamu kepenjara sekarang, cara ini bisa membuat pikiran kamu jadi jera, maafkan aku karena aku sudah tidak bisa menolongkmu mau pun memberimu ampun karena ini sudah sangat tepat untuk kamu dapatkan, cepat Pak bawa dia kekantor Polisi dia pantas untuk mendekam disana?"
"Gak Rev! Kamu gak bisa melakukan semua ini sama aku, kamu tidak bisa bersikap tidak adil seperti ini sama aku!"balas Claudya yang berusaha untuk memberontak.
"Cepat Pak tunggu apa lagi cepat bawa bawa dia sekarang!"
"Baik Tuan?"
"Gak Rev kamu gak bisa sejahat ini sama aku, kamu tidak bisa ...Rev ... lepaskan aku! Lepaskan aku!"
__ADS_1
"Akhirnya si lampir itu berhasil kita kalahkan juga, oh iya dimana Milli sekarang kenapa dia tidak nampak diluar gedung ini?"tanya Gibran seketika Revan pun mengingatnya.
"Mendingan kita cepat naik ke lantai paling atas aku rasa Claudya telah menculiknya disana,"ucap Revan segera ia berlari terlebih dulu kemudian Gibran pun menyusulnya.
"Gak aku gak mau mati disini aku masih mau hidup. Aku masih belum menikah jadi aku mohon jangan ambil nyawaku sekarang Tuhan Ku mohon!"
Berusaha Milli berniat ingin berdiri, tapi tubuhnya tak bisa menopangnya lagi.
Mendengar suara akan kedatangan Revan dan Gibran yang muncul entah dari arah mana, Milli segera berteriak yang akhirnya suaranya pun terdengar oleh mereka berdua.
Setelah mendengar keduanya langsung menghampiri Milli yang nampak terduduk lemas bersimbah darah.
"Astaga Milli kamu terluka," ucapnya seketika Gibran langsung melepaskan jasnya berlalu ia gunakan buat pertolongan pertama agar darah tidak keluar secara terus-menerus.
"Baiklah!"balas Revan yang langsung menghubungi nomor darurat.
Membutuhkan waktu sekitar 20 menit lamanya akhirnya ambulans yang ditumpangi Milli pun telah tiba disalah satu Rumah sakit yang tak jauh dari tempat lokasi kejadian. Milli yang nampak masih tersadar ia terlihat mengerang kesakitan, bahkan darah yang keluar pun sudah terlihat jelas membasahi seluruh pakaiannya.
Segera dimasukkan keruang unit gawat darurat, Revan mau pun Gibran nampak sedikit panik bolak balik kesana kemari menunggu akan jawaban dari Dokter Wanita yang menanganinya.
__ADS_1
Tidak menunggu waktu lama Dokter pun keluar setelah beberapa saat mengatasi dari dalam ruang unit gawat darurat tersebut.
"Gimana Dok keadaan pasien dia baik-baik saja kan luka tembakan yang mengenai dirinya tidak parah kan?"tanya Revan.
"Iya Dok apa dia masih hidup?"tanya Gibran lagi.
"Anda tenang saja kondisi teman anda baik-baik saja, ia hanya mengalami luka tembakan yang tidak cukup serius dan untungnya tembakan itu hanya satu kali jadi janganlah cemas dia baik-baik saja bahkan sekarang ia sudah siuman," timpal Dokter tersebut.
"Baik Dok terima kasih."
"Sama-sama ya sudah mari saya tingal dulu,"ucapnya.
"Baik Dok," balas keduanya.
"Ya sudah mendingan kamu disini aja jaga Milli biar aku sendiri yang menjemput Putri sekarang," ucap Revan.
"Baik Tuan,"balas Gibran.
"Kabari aku kalau ada apa-apa,"ucap Revan lagi.
__ADS_1
"Baik Tuan," balasnya lagi.
BERSAMBUNG.