
Setelah mendapatkan pukulan yang lumayan keras, seseorang yang sudah memukulnya akhirnya menunjukkan raut wajahnya. Iya sesosok laki-laki bertubuh cukup kekar telah berhasil masuk kedalam rumahnya.
"Ka ... Kamu ... Siapa kamu kenapa kamu bisa ada di rumahku siapa kamu?"
Sesosok laki-laki itu menutup pintu layaknya tidak terjadi sesuatu. Ia kemudian menguncinya dari dalam sedangkan kunci yang ia taruh dari dalam sakunya membuat Nina yang melihatnya bingung akan apa yang akan dilakukan Pria ini kepadanya.
"Aku tanya siapa kamu kemana kamu berani masuk dan mengangguku siapa kamu!"
Beberapa kali Nina bertanya tapi nyatanya suara yang ia hasilkan bagaikan seperti awan yang tertiup angin yang pergi entah kemana.
"Siapa kamu apa yang ingin kamu lakukan kepadaku siapa kamu?"
"Apa anda sangat ingin tahu siapa aku?"suara yang kokoh telah terdengar, Nina yang mendengarnya ia hanya menggelengkan kepalanya sembari raut wajahnya yang nampak sangat ketakutan.
Pertolongan!" pada siapa ia ingin meminta pertolongan disaat jam yang sudah menunjukkan pukul 20:00 malam. Waktu bagi setiap orang untuk beristirahat sejenak mengistirahatkan tubuhnya.
Berniat akan berlari menghindari laki-laki bajingan yang ingin membunuhnya. Nasib baik tidak menyertainya setelah selangkah ia berhasil pergi, pelaku itu dengan langsung ia meluncurkan sebuah pistol yang tepat mengenai perutnya hingga beberapa kali terjadi.
Dyar
Dyar
Dyar
Darah yang seketika keluar dengan deras membuat wajahnya berubah memucat. Bahkan tubuh yang tadinya berdiri tegak, ia tak mampu lagi untuk bisa menopangnya. Tersungkur kebawah dengan darah yang terus-menerus mengalir membuat ia yang melihat hanya melihatnya dengan tatapan senyum liciknya.
"Nasib yang sangat malang," ucapnya dengan tersenyum sinisnya. Dan langkahnya yang perlahan-lahan mulai menghampirinya.
__ADS_1
Berusaha ingin meminta tolong tapi pada siapa ia ingin meminta bantuan.
Suara minta tolong dan berbarengan dengan rasa sakit yang menyertainya membuat Nina tidak kuat lagi untuk menahan semua ini.
"Aku lihat kamu kayaknya sangat membutuhkan bantuan, berhubung aku baik ini handphone dan bicaralah pada seseorang yang ingin kamu minta tolong," ucapnya dengan memberikan sebuah handphone padanya. Sedangkan Nina yang menatapnya ia hanya menatap berbarengan dengan rasa sakit yang tidak bisa ia tahan.
"Kenapa kamu hanya diam ayo telfon seseorang apa kamu ingin menelfon Revan Suami kamu? Apa kamu yakin dia akan mengangkatnya? Baiklah aku sambungkan ya."
Sambungan telefon yang ia sambungkan pada nomor seluler Revan nyatanya tidak ada sambungan yang ia dapatkan.
Sedangkan Revan sendiri yang masih berada di-kantor tiba-tiba hatinya merasa sangat gelisah tidak karuan.
"Ada apa ini dengan perasaan ku? Kenapa aku jadi gelisah seperti ini ada apa?"
"Nina untuk apa dia menelfon-ku? Sudahlah aku tahu dia pasti ingin memarahiku akan lebih baik aku tidak mengangkatnya," ucapnya yang meletakkan kembali ponselnya itu. Berlalu ia mematikan mode senyap agar suara dering mau pun pesan tidak menggangunya.
"Kamu jahat!"
"Jahat! Iya aku memang jahat tapi jahatnya aku lebih jahat Suami kamu. Baiklah kali ini aku akan menelfon Putri aku rasa dia salah satu Wanita yang sangat kamu benci! Tapi bencinya kamu bagiku itu tidak akan mempengaruhi rasa sayangnya ke-kamu biar pun kamu sendiri tidak pernah memperdulikannya. Dan lihatlah apa Putri akan mengangkatnya," ucap Rafa yang kemudian ia menyambungkan telefon selulernya dan tak berapa lama.
"Nina untuk apa dia menelfon-ku malam-malam gini? Apa Nina ingin bertanya tentang Revan? Baiklah aku angkat saja," ucapnya segera ia pun mengangkatnya.
📞" Nin ada apa kenapa kamu tiba-tiba menelfon-ku? Kenapa?"
📞"Putri tolong aku ... Tolong aku ..."balasnya dengan suara rintihan.
📞"Nin kamu kenapa kamu kenapa Nin? Nin ... Nina ...."
__ADS_1
Belum juga Putri selesai berbicara. Ia merasa panik lantaran Nina yang menelfon-nya dengan suara terbata-bata menahan rasa sakit dan sambungan telfonnya yang tiba-tiba mati.
"Apa yang terjadi dengan Nina kenapa dia malah mematikan telfonnya ada apa? Aku harus hubungi Revan." Berusaha Putri menelfon Revan tapi hasilnya sama telefon itu pun sama sekali tidak Revan balas lantaran mode senyap yang masih ia nyalakan.
"Kenapa sih Revan kenapa dia malah tidak mengangkat teleponnya,"ucap Putri yang merasa sangat cemas.
"Aku harus kerumahnya sekarang aku harus kesana." Tanpa memikirkan resiko besar, Putri segera pergi tanpa memberitahu Gibran terlebih dulu.
"Sayang sekali giliran dia sudah mengangkatnya kesempatan ini sudah terlambat. Dan kamu ingin
"Minta tolong, kepada siapa kamu ingin meminta tolong lagi. Apa kamu lupa nyawa kamu itu sudah berada diujung tanduk apa kamu berharap bakalan ada seseorang yang akan menolong mu. Tidak! Itu tidak akan mungkin terjadi. Baiklah kelihatannya kamu sangatlah kesakitan, untung aku sekarang lagi baik gimana kalau aku bantu kamu untuk melepas rasa sakit itu dengan menerjunkan kamu langsung diatas lantai rumah kamu sendiri ini? Kamu pastinya semasa kecil dulu sudah sering bukan main perosotan dan sekarang giliran masa dewasa kamu aku akan bantu kamu main perosotan lagi, jadi selamat dan selama tinggal dari dunia ini. Salam dariku RAFA selamat tinggal.
"Jangan ... Aku mohon jangan ... Jangan ...,"
Tubuhnya yang seketika dirangkul olehnya. Dan tak berapa lama penjahat yang tak lain adalah Rafa ia melempar tubuh Nina dari lantai atas layaknya melemparkan sebuah sampah pada tempatnya.
Pyar...
Pyar..
Terjatuh dari atas ketinggian Dan terhenti tepat diatas meja kaca yang posisinya tepat dibawahnya membuatnya hanya bisa berpasrah.
Apalagi tusukkan yang ia dapatkan membuat nyawa Nina tak lagi terselamatkan. Apalagi setelah tubuhnya yang menusuk kaca-kaca dari meja makan membuatnya ia kehilangan nyawanya dalam sekejab mata dalam keadaan tengkurap dan darah yang mengalir hampir sekujur tubuhnya hinga mengotori lantai menjadikan saksi akan kematiannya.
SEKALIAN MAAF IJIN PROMO KARYA TEMAN-KU YA CERITANYA SANGAT SERU DAN PASTINYA SANGAT SAYANG UNTUK DILEWATKAN YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰
__ADS_1
BERSAMBUNG.