
"Aku sudah mengetahui fakta yang sebenarnya jadi tugasku selanjutnya aku hanya perlu mencari tahu siapa sebenarnya orang yang sudah mengaku-ngaku menjadi Ibu Kak Putri. Apa mungkin dia sebenarnya orang yang sudah menculik Kak Putri pada waktu itu?"
Tapi bagiku itu bukanlah masalah yang serius. Nanti sepulang kampus aku bisa mencari tahu semua bukti, jika benar dia orang yang sudah menculik Kak Putri maka itu artinya cepat atau lambat orang itu harus siap-siap mendekam dipenjara karena ulahnya.
Berjalan dan berhenti disalah satu halte bis kejadian tak mengenakan pun terjadi setelah datangnya sebuah mobil yang melaju dari arah kanan yang mengendarai kendaraannya lumayan cukup tinggi. Alhasil pakaian rapi yang ia kenakan pun menjadi kotor akibat terkena air genangan bekas dari turunnya hujan tadi malam.
Wajah cerah yang ditunjukkan kini dalam hitungan detik senyuman bahagia yang terpancar dari raut wajahnya pun telah berubah menjadi kesal.
Entah sengaja atau memang tidak menyadarinya hal apa yang barusan terjadi. Pengendara mobil putih berplat ***** itu pun berlalu pergi tanpa terdengar satu ucapan yang terlontar dari mulut si pengendara tersebut.
"Astaga pakaian ku, gila apa orang itu sudah gila," celetuknya akan tetapi orang yang sedang ia marahi nyatanya tidak mendengarnya.
"Pakaian ku sudahlah kotor lihat saja aku sudah mengingat no plat tersebut jadi jika nanti aku melihat mobil itu maka jangan salahkan aku kalau aku akan memberikan perhitungan pada pengendara belagu itu," kesal Milli.
Waktu berlalu dengan sangat cepat akibat seragamnya yang kotor ia pun menyempatkan diri untuk membersihkannya terlebih dulu alhasil jam keberangkatan yang lebih awal yang ia atur sejak awal pertama pun lenyap lantaran kenyatannya ia telat 10 menit dari jam perkiraan sebelumnya.
__ADS_1
"Aku telat 10 menit apa mungkin pak Dosen akan mengijinkan-ku untuk masuk mengikuti pelajaran hari ini?" gumamnya yang kemudian ia terlebih dulu mengetuk pintu.
Tok
Tok.
Tok
"Masuklah!"
"Milli kamu darimana aja kenapa kamu bisa sampai telat seperti ini kamu itu niat apa tidak kuliahnya?"
"Terus pakaian kamu itu kenapa sangat kotor? Kamu itu sebenarnya niat apa tidak sih untuk kuliah? Jika kamu hanya ingin main-main saja silahkan keluar karena pintu ini terbuka dengan lebar apa kamu paham!"
"Maaf Pak saya akui saya salah tapi semua ini terjadi bukan karena keinginan saya jadi maafkan saya ...maafkan saya.
__ADS_1
"Didalam pengendalian-ku tidak ada yang namanya kata maaf jadi silahkan keluarlah karena Bapak tidak akan mengijinkan-mu untuk mengikuti pelajaran hari ini cepat keluar dan tutup pintunya."
"Tapi Pak saya tidaklah salah, saya mohon berikan saya kesempatan saya mohon!"
"Keluar!"
"Baik Pak saya akan keluar." Dengan wajah lemah lesu Milli akhirnya keluar dengan raut wajah sedihnya.
"Semua ini gara-gara pengendara tadi lihat saja nanti kalau aku tahu aku bakal beri perhitungan kepadanya lihat saja."
Berjalan layaknya tidak ada tenaga yang mampu membangkitkan semangatnya. Pandangan Milli yang tadinya sibuk benerin pakaiannya kini pandangannya pun teralihkan setelah ia melihat salah satu mobil putih yang terparkir diparkiran salah satu tempat yang agak ramai dengan plat yang sama yang pernah ia temui waktu itu.
Menyadari mobil ini milik dari seseorang yang waktu itu telah membuatnya kena apes, tanpa pikir panjang lagi, Milli pun langsung menghampirinya sekaligus memperhatikannya dari jarak yang sangat dekat.
"Mobil ini? Ini kan mobil yang waktu itu. Iya ini beneran mobil waktu itu, tidak salah lagi, sekarang mana pemiliknya? gara-gara dia, aku harus kena apes lantaran tidak boleh mengikuti pelajaran sekarang mana dia biar aku bejek dan pites tuh kepalanya," kesal Milli sambil mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Akan tetap Milli yang melihat kearah kanan maupun kekiri, dia tidak melihat keberadaan dari laki-laki itu. Dan tidak ditemukan juga tanda-tanda akan kehadirannya.
BERSAMBUNG.