
Pagi yang cerah telah menampakkan sinarnya untuk menyinari alam semesta ini, Putri yang masih terbalut selimut berwarna putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya membuat dia tambah semakin nyenyak dan larut dalam mimpinya.
Dalam keadaan masih terbaring seseorang datang dan dengan sengaja menyiramnya mengunakan segayung air.
"Heyy bangun dasar anak malas ayo bangun.
Bentakan seseorang terdengar nyaring. Tak lama mata Putri akhirnya terbuka lebar, menyadari akan dirinya yang sudah dalam keadaan basah kuyup ia berbalik menatap kearah seorang wanita yang sekiranya usianya 40 tahun-an keatas.
"Mama, tapi ini kan masih jam 5 pagi kurang ini masih sangat pagi Ma.
"Berani kamu membantah Mama. Apa kamu lupa hari ini tidak ada Bibik jadi kamulah yang jadi penggantinya jadi cepat bangun dan cuci semua baju-baju kotor itu!" perintahnya.
"Baik Ma Putri akan mencucinya sekarang.
Bergegas Putri beranjak dari tempat tidurnya. Menghampiri tempat yang tak lain kamar mandi, pandangan Putri dikejutkan dengan adanya dua bak besar yang sudah terisi pakaian kotor yang sudah menumpuk.
"Ma?" apa ini tidak terlalu banyak. Dan pakaian ini? ini kan baru aja dicuci Bibik kemaren dan aku belum melihat Kak Monika sempat memakainya jadi untuk apa dicuci lagi?"
"Astaga kamu itu bawel banget sih. Saya kan sudah menyuruh-mu untuk mencuci apa kamu masih mau membantah lagi. Apa kamu masih ingin aku membongkar semua isi di dalam almari?"
"Jangan Ma, ini udah cukup kok jangan ditambah lagi," perintahnya.
"Baik Ma Putri akan mencucinya,"balasnya yang tanpa berkata ia segera terduduk mengunakan kursi kecil.
"Kadang aku berfikir apa gunanya aku hidup jika akhirnya keseharian-ku hanya menjadi seorang pembantu? Pembantu dari Rumah kita sendiri tanpa ada bayaran sepeserpun," batinnya yang hanya bisa menitihkan air matanya.
Jam yang sudah menunjukkan pukul hampir setengah tujuh pagi. Putri yang sudah selesai mencuci ia kemudian menghampiri meja makan. Dan melihat Monika saudara sepupunya yang baru aja bangun.
"Monika sayang kamu cepat sarapan sayang di meja sudah ada banyak makanan yang menunggu-mu," ucap Mamanya dengan membelai rambut putri kesayangannya.
"Ma aku juga lapar, jadi ijinkan aku untuk makan bersama Kak Monika? sayur dan ayam itu Putri juga ingin minta ayam itu apa Mama mengijinkan?"tanya Putri dengan membawa satu buah piring kaca bening.
"Tidak. Saya tidak mengijinkan. Kamu itu cuma anak pungut bahkan kalau bukan karena aku baik hati mau memungut-mu dulu saya juga gak akan Sudi menganggap-mu sebagai keluarga-ku. Dan makanan ini terlalu mahal untuk kamu makan jadi inilah makanan yang sangat cocok untuk-mu," timpalnya dengan memberikan satu tahu dan tempe goreng pada Putri.
"Ini makanlah dan jangan membantah apa kamu paham!" gertaknya.
"Iya Ma Putri paham,"balas Putri yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
Anak pungut apa kata itu memang sangatlah cocok untuk aku dapatkan. Biar pun aku anak pungut aku juga masih punya hati. Bahkan kalau aku diijinkan memilih aku juga tidak mau menjadi seorang anak pungut seperti ini.
Air mata yang mulai berlinang dari kedua sudut matanya. Hancur? iya mungkin kata itulah yang pantas untuk ia katakan. Jika kebanyakan wanita seusianya pada berfoya-foya dan bermanja-manja tidak seperti ... Dia hanya bisa menjadi membantu yang tak lain di Rumahnya sendiri.
"Mama ini sudah jam setengah 7 jadi Monika pamit berangkat dulu ya?"
"Iya sayang jaga diri kamu baik-baik ya. Dan ini uang sakuku sekaligus mobil kamu. Papa kamu kan masih ada diluar kota jadi Mama akan mengijinkan-mu memakai kendaraan ini.
"Mama makasih ya. Mama memang Mama yang paling pengertian sama Monik," ucapnya dengan memeluk Mamanya.
"Ma aku juga ada kelas agak pagi. Jadi Putri pamit berangkat dulu ya. Dan mana kunci motor Putri kenapa Putri tidak melihatnya?" tanya Putri akan tetapi balasan yang diucapkan Mama tirinya malah sebaliknya.
__ADS_1
"Motor ...enak banget kamu mau pakai motor. Kamu itu cuma anak pungut jadi pantasnya kamu naik angkot itu lebih baik bukan. Dan ini uang jajan kamu!" ucapnya lagi dengan memberikan satu lembar 10 ribu pada Putri. Sedangkan uang jajan yang diberikan pada Monika lebih besar darinya yaitu 100 ribu.
"Cepat kamu berangkat. Apa kamu mau bilang kalau ini kurang?" gertak Mamanya.
"Tidak Ma ini lebih dari cukup. Ya sudah Putri berangkat dulu," ucapnya yang tanpa berkata ia segera pergi. Ingin sekali ia mencium tangan Mamanya tapi itu sangatlah mustahil.
15 MENIT KEMUDIAN.
"Astaga bagaimana ini aku sudah tidak punya cukup banyak waktu, mendingan aku langsung berangkat sekarang saja. Karena aku tidak mau telat!" bergegas Putri pun berlari keluar rumah dan menuju ketempat parkir yang tersedia dirumahnya.
"Sekarang aku harus naik apa sedangkan aku tidak ijinkan Mama untuk membawa kendaraan-ku dan ini sudah hampir pukul jam tujuh aku tidak mau telat aku harus berbuat sesuatu?" ucapnya yang kemudian dia pun pergi kejalan. Kemudian dia melihat ada ojek yang melintas dihadapannya tak mau menunggu terlalu lama dia pun langsung menghadangnya.
"Stop!" ucap Putri yang langsung menghadang tepat didepan ojek yang kebetulan lajunya tidak terlalu kencang.
"Astaga?"
"Cepat antarkan aku ke SMA Permata indah sekarang mas, cepat?"
"Sekarang mbak?"
"Tidak tahun depan, " Ya sekarang lah mas ayo cepat antarkan aku sekarang"Aku sudah tidak punya cukup banyak waktu jadi saya mohon cepat antarkan aku cepat?"
"Ada apa si mbak kayaknya buru-buru amat?"
"Astaga mas ini pake acara menjawab lagi, cepat antarkan aku?"
"Mas. Apa mas pernah merasakan pukulan maut, jika mas belum pernah merasakannya saya akan membuat mas bisa merasakannya sekarang?"
"Iya..iya..saya akan mengantar mbak sekarang jangan marah-marah kenapa nanti cantiknya ilang lo?"
"Astaga ini orang?"
Sesampainya di depan gerbang kampus Putri pun bergegas turun dari motor dan baru aja Putri mau beranjak pergi dari sini, mas ojek sudah terlebih dulu menghadangnya.
"Mbak tunggu?"
"Ada apa lagi?"
"Mbak kan belum bayar ongkosnya jadi jangan asal lari dong mbak?" kasihan keluarga yang di-rumah pada nunggu?"
"Astaga oh iya maaf-maaf?" ini ambil kembaliannya ya mas?"ucapnya yang kemudian memberikan selembar uang 100 ribu pada si mas ojek. Dan kemudian Putri yang akan berlari lagi-lagi si mas ojek menghalanginya.
"Tunggu mbak."
"Ada apa lagi sih mas saya kan sudah membayarnya?"
"Saya hanya inggin mengatakan kembalikan helm saya mbak, itu masih cicilan soalnya?" ucapnya si mas ojek dengan pasrah sembari menunjuk kearah Helm yang masih tertempel di-kepala Putri.
"Astaga maaf ...maaf mas, maaf?" ucapnya Putri yang merasa malu.
__ADS_1
"Ya sudah terima kasih?"
*
*
*
"Maaf Pak saya telat.
"Kamu lagi ... kamu lagi ... sebenarnya kamu itu niat apa tidak sih belajarnya. Ini udah kesekian kalinya kamu selalu telat, sekali kamu telah maka saya tidak segan-segan akan mendatangkan orang tua kamu untuk datang kesini apa kamu paham?"
"Iya Pak saya paham, sekali lagi maafkan saya Pak, maafkan saya.
"Baiklah sekarang mendingan kamu duduk.
"Baik Pak.
"Hadeh kebiasaan nih si anak pembantu selalu datang telat. Kamu itu sebenarnya niat apa tidak sih kuliah, jika kamu tidak ada niat mendingan kamu pergi ke sawah aja itu lebih cocok kali untuk-mu," timpal wanita yang tak lain adalah teman Monika sendiri.
Tak mau memperdulikan omongan wanita itu. Putri yang beranjak berlari menuju ke kursi duduknya. Kaki seseorang sengaja membuatnya terjatuh tersungkur kelantai.
Bruak
Aw...
"Astaga anak pungut apa sih yang kamu cari?" apa kamu sedang mencari uang disana percuma tidak akan dapat," timpal Monika yang ikut menertawakannya.
Hinaan sudah aku lalui setiap harinya jadi menurut-ku mendengar ocehan mereka itu sudahlah tidak Bearti karena aku sudah tahan akan hinaan semua itu.
"Berdirilah,"
Satu kata yang spontan membuat Putri berdecak kaget. Mendengar ada suara dari sampingnya ia kemudian memalingkan pandangannya keatas. Dan ternyata hadirlah pria tampan yang dengan suka rela mau membantunya yaitu Revan.
"Ayo berdirilah," ucapnya lagi dengan nada lembut.
"Iya aku akan berdiri,"
"Kalian? Siapa diantara kalian yang sudah dengan beraninya mengerjai Putri ayo jawab?"gertak Revan dengan amarahnya yang mulai memuncak.
Melihat Revan yang nampak marah semua orang yang berada dikelas ini pun dibuat bungkam. Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengucapkan sepatah kata pun padanya.
"Sudahlah Revan aku tidak apa-apa kok, jadi mendingan ayo kita duduk lagi pelajaran akan segera dimulai.
"Tapi Putri.
"Tidak ada tapi-tapian ayo," ajaknya langsung menarik tangan Revan.
BERSAMBUNG
__ADS_1