JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
LELAH DENGAN SEMUANYA


__ADS_3

Mendengar perkataan yang barusan diucapkan oleh Putri, membuat mulut pun seketika terbungkam dan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun lagi kepadanya.


Jika tadinya Revan marah-marah tanpa henti, kini ia pun berganti menjadi terdiam bak seperti patung dan tidak sepatah kata pun yang ia ucapkan pada Putri.


"Kenapa lagi dan lagi aku harus merasakan rasa sakit ini lagi. Dan kenapa hidupku harus se'menderita ini, kenapa? Mereka orang yang paling aku percayai selama ini, tapi kenapa mereka sama sekali tidak menghargai ku, Tuhan dosa apa yang sebenarnya pernah hamba lakukan selama ini, sampai-sampai kamu tega membuat hidup hamba jadi hancur sehancurnya seperti ini kenapa?"


Hujan yang telah melanda, baju Putri yang tadinya kering, kini menjadi basah kuyup membuat tubuhnya merasa sangatlah keinginan, sesekali ia berusaha mendekap tubuhnya untuk merasa lebih hangat akan tetapi semua tindakannya itu sia-sia saja lantaran ia masih bisa merasakan hawa dingin yang menyengat tubuhnya.


Akan tetapi Putri tidak perduli dengan semua itu, walaupun hujan deras telah menguyur tubuhnya ia tetap berjalan menulusuri anak jalan yang ia lewati sekarang ini.


Dengan air matanya yang sampai sekarang belum juga surut ia tetap berjalan walaupun tidak tahu kemana, dan langkahnya ia akan membawa tubuhnya sekaligus janin yang ada di dalam kandungannya saat ini, yang sudah penuh dengan luka kehancuran.


Pagi yang tadinya cerah tanpa ada masalah yang menganggu dirinya, kini telah berubah menjadi gelap gurita ditambah lagi dengan adanya hujan deras yang menguyur wilayah ini membuat suasana terlihat agak mencekam.


Langkah demi langkah telah ia lalui, dan kemudian seseorang yang tiba-tiba datang ia langsung menariknya dari belakang.


Melihat siapa seseorang yang sudah menarik tubuhnya, Putri tersadar jika seseorang itu ialah Revan.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini, apa kamu tidak tahu sekarang lagi hujan. Apa kamu mau kamu sakit karena kedinginan jadi ayo cepat pergi dari sini, disini bukanlah tempat untuk mu ayo pergi!"ajak Revan dengan memaksa Putri, tapi Putri tak menghiraukannya.

__ADS_1


Akan tetapi melihat kekhawatiran yang dilakukan Revan kepadanya, membuat Putri malah menunjukkan sikap berbeda dari yang biasanya.


"Lepaskan!" perintah Putri yang langsung menghempaskan tangan Revan dengan kasar.


"Putri! Bisakah kamu itu jangan egois karena memikirkan dirimu sendiri! Didalam perutmu ada seorang janin kalau janin kamu kenapa-kenapa gimana?" ucap Revan yang tiba-tiba terhenti, lantaran Putri yang tiba-tiba langsung memotong pembicaraanya.


"Berhenti, aku bilang berhenti sampai kapan kamu akan mempersulit hidupku seperti ini, jujur aku sudah merasa sangat capek dengan semua ini, jadi aku mohon biarkan aku sendiri! Dan satu lagi jika kamu bilang aku egois terus gimana dengan kamu sendiri bukankah kamu itu lebih egois daripada aku?" bentak Putri yang hendak akan pergi, tapi Revan menghalanginya.


"Apa kamu marah seperti ini karena aku masih berada di pihak Mama? Apa kamu marah seperti ini karena aku lebih percaya dengan Mama ketimbang kamu? Satu hal Mama yang sudah melahirkan aku, dia yang merawat ku dari sejak sedari kecil sampai aku tumbuh dewasa seperti ini.


Dia juga orang pertama yang mau mengerti akan kondisi Putranya! Sedangkan kamu? Maaf! Bukankah kamu itu sejak sedari kecil belum pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu.


"Jika aku tidak mau melakukan itu apa itu salah? aku tahu apa yang membuat diri kamu jadi seperti ini? Kamu seperti ini karena kamu gak ingin orang yang kamu sayangi terluka kan? Sedangkan aku? Aku hanya kamu anggap sebagai Wanita malang yang hidupnya penuh dengan penderitaan.


Sedari kecil aku hanya tingal bersama ibu angkat yang selalu mendapatkan ejekan bahkan aku yang hanya dianggap hanya sebatas seorang pembantu tanpa upah bagiku itu semua sudah membuktikan jika aku pernah mengalami masa pahit sedari kecil.


Aku memang belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang Ibu tapi setidaknya aku masih bisa berfikir dengan jernih dan pastinya hidupku bukan menjadi anak manja yang hanya menggantungkan dari kekayaan orang tua makanya kamu berpura-pura mencintaiku karena kamu hanya kasihan kan kepadaku? Bahkan perasaan cinta yang selama ini kamu tunjukkan kamu hanya anggap itu sebagai balas budi sebagai seorang sahabat ya kan?"


"Omong kosong apa itu. Dan tahu apa kamu soal perasaan aku apa kamu masih tidak percaya juga kalau aku memang mencintai kamu? Sekarang aku tanya apa kamu mencintai ku? Kamu sudah bisa mencintaiku makanya kamu jadi bersifat seperti ini kepadaku?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan yang diucapkan Revan, Putri yang akhirnya mengingat kembali masa-masa SMA dimana ia mencintai Revan, hatinya serasa tak kuat ingin sekali ia berlari sejauh mungkin tapi lagi-lagi Revan menghalanginya.


"Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan!"tegas Putri yang tidak berani menatap kearah Revan.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak mau menatap wajahku, ayo tatap aku, dan beritahu tahu aku kalau memang yang aku katakan ini tidaklah salah kan? Kamu memang beneran cinta kan sama aku, aku mohon jawablah aku sangat butuh jawaban dari kamu ayo jawab!"


"Iya, yang kamu katakan memang benar, aku memang mencintai kamu? Bahkan apa kamu tahu aku sudah lama memendam perasaan ini.


Apa kamu ingat dimana hari kamu mesra-mesraan dengan Nina dan disitulah aku datang. Dan apa kamu tahu alasan terbesarku kenapa aku pindah dari SMA kita? Aku melakukan semua itu karena aku tidak ingin hubungan persahabatan kita hancur hanya karena adanya perasaan ku yang sudah mulai mengagumi bukan lagi menjadi seorang sahabat? Apa kamu tahu rasanya gimana rasanya hati ini sangat sakit ketika orang yang kita cintai bermesraan pada sahabat kita tepat dihadapan kita sendiri.


Kamu tahu gimana rasanya tidak kan? Terus jika aku sudah memberitahumu apa yang inggin kamu lakukan sekarang, apa kamu inggin berkata jika kamu sangat-sangat lah mencintai ku tidak kan, jadi sudahlah lupakan saja.


Dan anggap saja diantara kita tidak ada apa-apa, anggap saja aku hanyalah teman kamu, anggap saja kita hanya sahabat yang tidak pernah melakukan pernikahan ini paham!" balas Putri yang tanpa berkata lagi, ia pun langsung berlari meninggalkan Revan.


Mendengar perkataan yang barusan diucapkan oleh Putri secara detail, membuat mulut Revan pun seketika terbungkam dan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun lagi kepada Wanita yang berada dihadapannya tadi


Jika tadinya Revan marah-marah tanpa henti, kini ia pun berganti menjadi terdiam bak seperti patung dan tidak sepatah kata pun yang ia ucapkan pada Putri.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2