
Tak jauh berbeda dengan romansa yang dialami sang adik,Putri dan juga Revan yang sudah tidur sama-sama satu ranjang Putri yang perlahan-lahan mulai menggerakkan badannya dia merasa seperti ada yang sesuatu memeluk tubuhnya itu.
Membuka matanya secara perlahan sambil mengumpulkan nyawanya. Hampir saja dia berteriak saking kagetnya ia menyadari jika ada Revan-lah yang tertidur pulas menghadapnya sambil memeluk pinggang Putri dengan cukup erat.
Memandangnya dengan seksama, ia membelai pucuk rambut Revan sembari berkata.
Aku sangat bahagia akhirnya kebahagiaan ku yang sesungguhnya telah kembali menghampiri-ku, aku pernah berfikir jika aku tidak punya siapa-siapa tapi semua itu ternyata hanyalah cobaan yang harus aku hadapi. Dan sekarang aku sangat beruntung memiliki seorang Mama dan Adik yang sangat kuat biar pun bisa berdiri sendiri setelah Papa meningkatkan kami.
Dan yang terakhir dia? Laki-laki yang sangat aku cintai dan pertama bagi diri-ku mengenal akan cinta dan seorang laki-laki yang sangat tulus mencintai dan mau menerima semua kekuranganku. Biar pun hubungan kita layaknya seperti layangan putus yang mampu untuk disambungkan ketika ditengah-tengah jalan terputus tanpa sebab. Aku sadar semua itu terjadi karena Tuhan lagi menguji akan kemampuan dan ketulusan dua hati kita masing-masing dan sekarang kita sudah melewati ujian itu.
Kamu pangeran yang aku sangat cintai. Aku sangat mencintaimu Revan, aku berharap kamu mampu menjadikan-ku sebagai Ratu didalam hidupmu hinga sampai akhir hayat mu nanti.
Satu kecupan telah dilontarkan Putri pada Suami tercintanya, satu kecupan yang mungkin mampu mempererat akan hubungan keduanya. Tak lama Revan menyadari akan kecupan yang dilakukan Istrinya. Revan yang sedari tadi hanya berpura-pura tertidur, ia berlalu membalikkan tubuh Putri dan menindihnya tepat diatas tubuhnya.
Tersungkur ke belakang, hingga akhirnya Revan pun mendorongnya hingga benar-benar terbaring di bawah tubuhnya. Memegang kedua pergelangan tangan Putri, mengunci dengan tangannya.
__ADS_1
"Revan aku?"tanya Putri, lalu Revan membungkamnya.
"Kamu tidak perlu grogi atau canggung Putri, kita sudah menjadi sepasang Suami-istri jadi selama hubungan kita berjalan kita tidak pernah melakukan hubungan layaknya Suami-istri, aku tidak berfikir kearah yang mana tapi aku sadar jika selama ini aku egois karena hanya memikirkan kebahagiaan ku sendiri dan mengorbankan kamu jadi saat ini apa kamu bersedia?"
"Bersedia apa maksudmu?"
"Haruskah aku menjelaskan semuanya ke-kamu? Kamu pastinya tau kan apa maksud dari permintaan yang barusan aku tujukan ke-kamu?"
Memandang dengan seksama wajah cantik Putri yang sudah berada dihadapannya. Tatapan Revan tak henti-hentinya berkedip, ia terus saja memandang wajah cantik Wanita yang mungkin sudah menjadi Wanita yang sangat ia cintai.
Memberikan satu kecupan yang ia tunjukkan pada Wanita itu, wanita itu nampak tak percaya dengan apa yang barusan diberikan laki-laki yang sudah menjadi Suaminya.
"Aku tidak tau apa ucapanku akan membuatmu terkejut, tapi kali ini aku ijin padamu apa kamu memperbolehkan aku untuk merebut kesucian yang kamu miliki saat ini? Apa kamu memberikan aku kesempatan untuk menanam benih dari rahim kamu?"tanya Revan secara perlahan dan penuh dengan kepastian, Putri yang mendengar akan ucapan yang dilakukan Revan air matanya akhirnya luluh, tanpa berkata lebih panjang ia hanya menganggukkan kepalanya, memperbolehkan Revan untuk meminta apa yang sudah seharusnya ia miliki.
Putri yang memandang jika Revan tambah semakin mendekati dirinya. Dan tak segan-segan ingin melahapnya secara habis-habisan.
__ADS_1
Dan melihat Revan yang berniat inggin menciumnya, lantas Putri dengan sigap ia langsung merangkul pundak Revan dengan pandangannya yang sudah bersiap.
Pandangan Revan yang sedari tadi hanya tersenyum licik sembari memainkan bibirnya hingga berhasil menghisap l3h3r Istrinya secara ba*i buta.
"Aw, kamu? Kenapa kamu mengigit-ku?" tanya Putri.
"Maafkan aku. Aku janji setelah ini aku tidak akan melukaimu lagi," balasnya dengan senyumannya.
Tak sampai disitu tangannya mulai nakal hingga melepaskan satu persatu resleting yang berada dalam ikatan piyama sang istri. Memandang sebuah pemandangan yang jarang ia lihat, ia nampak hanya tersenyum manis.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Revan mencoba meyakinkannya.
"Iya aku sudah siap tapi bisakah kamu pelan-pelan," balasnya yang sedikit malu.
"Kamu tenang saja aku tidak akan menyakitimu, jadi kamu tidak perlu khawatirkan soal itu," balas Revan yang kemudian ia pun mematikan lampu meja yang berada diatas nakas tempat tidur sampingnya, mulai menghisap l3h3r istrinya, gai*ahnya semakin keluar sesaat Putri yang mulai mengeluarkan akan suara desah**nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.