JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
KETIKA KESABARAN SUDAH HABIS


__ADS_3

Antara pergi atau tidak!


Pergi kamu akan bisa melupakan semua kenangan tentang laki-laki bernama Revan. Dan pastinya kamu akan memulai kehidupan baru disana termasuk melupakan semua kehidupan kamu yang sangat menyedihkan ini.


Tapi jika aku pergi otomatis aku akan jauh dari Milli! Saudara kembar ku yang dimana kita sudah lama terpisah, jadi apa yang harus aku pilih sekarang jujur aku sangat bingung memikirkan masalah ini. Ingin sekali aku pergi ke Seoul tapi gimana dengan Milli?"


"Kakak gak perlu pedulikan aku! Aku baik-baik saja kok disini," timpal Milli yang seketika mengejutkan Putri.


"Milli kamu sejak kapan ada disana sayang?"tanya Putri yang langsung menghampirinya.


"Aku sudah sedari tadi memperhatikan Kak Putri yang terlihat sangat kebingungan Kak. Aku pikir kakak susah untuk meninggalkan Jakarta karena adanya laki-laki bernama Revan itu, tapi ternyata semua itu salah. Kakak tidak bisa ninggalin kota Jakarta ini karena Milli," ucap Milli yang langsung memeluknya.


"Jujur baru beberapa bulan aku bertemu denganmu sayang jadi maka karena hal ini aku sulit untuk meninggalkanmu," timpal Putri yang tidak bisa membohonginya.


"Aku tahu Kakak sangat sulit untuk pergi, tapi Milli mau Kakak pergilah karena Milli lebih lega dan bahagia jika Kakak bisa mendapatkan kebahagiaan Kakak sendiri. Kini saatnya Kakak untuk pergi ninggalin kehidupan yang penuh dengan kegelapan ini! Kini saatnya Kakak menunjukkan pada dunia akan siapa Kak Putri sebenarnya. Milli tidak mau gara-gara Milli, Kakak harus terlunta-lunta tidak mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya jadi Milli mohon pergilah kak! Pergilah!"


"Baiklah sayang jika itu memang pilihan kamu Kakak bakal mengabulkannya. Dan besok Kakak akan berangkat ke Seoul tapi sebelum Kakak pergi ada hal yang harus kakak kerjakan sebelum Kakak pergi meninggalkan kota Jakarta ini," timpal Putri, sedangkan Milli yang melihat Kakaknya ia hanya bisa memberikan dukungannya.


Disalah satu tempat yaitu perusahaan yang sangat besar dan mewah terdapat-lah seorang Wanita yang siap melangkahkan kakinya memasuki perusahaan besar tersebut.


Hendak ingin masuk pada salah satu ruangan, langkahnya dikejutkan dengan adanya seseorang Wanita yang menghalanginya.


"Maaf anda belum ada janji sama beliau jadi anda belum diijinkan untuk masuk jadi tunggulah!"


"Maaf aku tidak ada waktu untuk menunggu. Aku hanya ingin menemuinya sebentar saja jadi jangan halangi aku!"tegas seseorang itu yang tak lain adalah Putri.


"Anda ini keras kepala sekali sih saya kan sudah bilang tidak boleh ya tidak boleh!"


"Disini yang kerasa kepala bukanlah saya tapi anda sendiri apa anda tahu siapa saya? Saya adalah Istri Tuan Revan apa anda mau anda dipecat hari ini juga apa anda mau?"bentaknya yang seketika membuat Wanita itu pun terdiam tak berkutik.


"Baiklah silahkan masuk!"

__ADS_1


Tak berani mengatakan apa-apa padanya. Putri yang berniat ingin masuk langkahnya lagi-lagi terhalangi akan adanya seseorang wanita yang lagi-lagi menghalangi jalannya.


Bahkan kali ini wanita itu dengan beraninya memberikan satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Putri setelah tidak terima Putri berkata seperti tadi.


Menoleh kearah seseorang yang sudah menamparnya, wajah Putri yang sedari tadi tidak menunjukkan akan kecemasannya, kini pandangan itu seketika berubah tidak perduli setelah ia tahu siapa wanita yang sudah berani menamparnya.


"Anda? Astaga aku kira siapa apa anda sudah cukup menampar saya? Apa anda ingin menamparku lagi ayo tampar? Ayo tampar?"


"Siapa kamu? Kamu bukanlah Putri kampungan itu yang biasa hanya bisa menangis dan menangis. Apa kamu sudah berani bergaya dan sok jago setelah berdandan mewah seperti ini? Apa kamu akan memamerkan apa yang kamu miliki saat ini? Apa kamu gak sadar atau mungkin sudah gila bukankah semua yang kamu pakai ini hanyalah barang palsu atau mungkin hanyalah pinjaman semata?"


"Apa kamu sudah selesai ngomong? Rasanya kupingku serasa terdengar ada suara burung ngoceh-ngoceh yang lagi-lagi ngomel-ngomel. Dan suara itu percis sekali sama mulut anda apa anda paham!"timpal balik Putri yang meremehkannya.


"Kamu? Kamu berani sekali berkata seperti itu apa kamu gak sadar siapa aku? Aku ini Mertua kamu apa kamu gak takut jika nanti Revan akan memarahi mu atau mungkin menceraikan mu? Itu kan yang kamu takutkan selama ini, kamu takut jika Revan akan menceraikan mu karena kamu tahu tanda Revan kamu tidak akan jadi apa-apa itu kan yang kamu takutkan?"


"Terserah anda mau ngomong apa yang jelas aku tidak ada waktu untuk meladeni omongan Mbah lampir seperti anda dah!"ucap Putri yang dengan sengaja ia berjalan tergesa-gesa dan menyenggol bahu Mertuanya dengan sengaja.


"Anak itu apa dia udah gila setan apa yang merasukinya sampai-sampai ia berani berkata selancang itu? Lihat saja kamu mampu berbicara lantang seperti tadi tapi lihat apa yang akan terjadi nanti,"gumamnya yang merasa kesal dan menggenggam tangannya sendiri.


"Nyonya ada apa kenapa Nyonya tiba-tiba datang kesini?"


"Revan, ini saya ingin menemui Revan dia masih ada di dalam kan?"


"Iya Tuan masih ada didalam masuklah nyonya,"perintah Gibran segera ia membukakan pintu untuknya.


Terkejut akan kehadiran Putri yang tiba-tiba menghadap kearah dirinya. Revan yang seketika langsung bangkit dari kursi kuasanya tanpa aba-aba Putri melemparkan lembaran putih kearahnya dengan tatapan yang terlihat mencekam.


Mengambil lembaran itu, Revan merasa syok setelah tahu lembaran apa yang barusan diberikan olehnya.


Wajah Revan yang merasa tidak percaya melihat semua ini, ia mencoba menggenggam erat tangan Putri tapi belum juga Revan menggapai tangan itu. Putri terlebih dulu mundur dari pandangannya. Bahkan wajahnya tidak lagi terniat untuk menatapnya secara langsung.


"Putri apa kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan kedua aku tahu aku salah tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk membenahi semuanya aku mohon!"

__ADS_1


"Jangan banyak bertanya tugasku setelah ini banyak jadi cepatlah tanda tangani surat ini. Setelah itu aku harus mengurus masalah ku yang lain jadi cepat tanda tangani-lah!"tegasnya yang tak sekalipun Putri menatap wajah Revan.


"Tidak aku tidak mau menanda tanganinya jadi jangan coba-coba untuk memaksa ku karena aku tidak akan pernah melakukannya apa kamu paham!"


"Revan sudahlah cepat tanda tangani surat gugatan perceraian itu. Wanita itu memang sangat tidak layak untuk menjadi istrimu! Dia hanya akan jadi beban buatmu jadi cepat tanda tangani-lah!"timpal Mamanya Revan yang mencoba memaksa Revan.


"Kamu dengar bahkan Wanita lampir ini sendiri yang menyuruhmu jadi ayo tunggu apa lagi cepat tanda tangani surat ini apa kamu gak sanggup untuk menanda tangani satu saja?"


"Putri kamu masih berani mengatai Mamaku dengan sebutan lampir?"


"Kenapa? Apa kamu gak suka? Bukankah selama ini kamu sendiri yang bilang kalau aku itu berani sama orang yang lebih tua dariku! Bahkan bisa dibilang kamu sendirilah yang bilang aku Wanita yang berani sama mertua? Sekarang aku sudah mengabulkannya permintaan kamu itu, jadi apa lagi yang ingin kamu sebut? Semuanya sudah deal kan?"


"Baiklah jika ini yang kamu mau aku akan menanda tangani surat ini,"timpal Revan yang tanpa berkata ia langsung menandatangani surat yang sudah berada dipandangnya. Tanpa memikirkan kedua kalinya Revan akhirnya berhasil mencantumkan tanda tangan aslinya tepat pada lembaran-lembaran tersebut.


" Aku sudah menandatangani semua permintaan kamu apa kamu puas sekarang?"tegas Revan.


"Sekarang aku mengalah jadi nikmatilah masa-masa keberhasilan anda Wanita lampir, dan kamu Revan aku menyesal karena selama ini aku sudah mencintaimu. Dan aku juga menyesal karena aku sudah memiliki perasaan ini. Dan bagiku perasaan ini seperti lah sampah ini. Terima kasih karena kamu sudah memberikan luka ini dan luka yang aku rasakan ini mungkin aku tidak akan pernah bisa untuk aku melupakannya. Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui.


Kemudian Putri pun melepaskan cincin berlian yang melekat disalah satu jari tengahnya. Setelah berhasil melepaskannya ia pun kemudian menunjukkannya tepat dihadapannya Revan dengan kedua mata telan*angnya.


" Dan satu hal lagi yang aku lupa dan harus kamu terima. Karena aku sudah tidak butuh lagi cincin ini karena bagiku cincin ini sudah tidak ada artinya lagi jadi ambillah ini!"


Dengan sengaja Putri pun melemparkan cincin tersebut tepat dihadapan Revan. Melihat tindakan apa yang dilakukan Putri saat ini, Revan hanya bisa menatapnya dengan tatapan tajam tanpa ada suara mau pun berlawanan yang dilakukannya. Berpasrah seakan-akan mengalah dari semuanya yang seketika membuat dirinya terdiam tanpa berkutik.


Tanpa mengucapkan satu kalimat lagi pada Revan, Putri pun akhirnya membalikkan tubuhnya dan membelakangi mereka.


Langkahnya pun perlahan-lahan mulai meninggalkan mereka tidak ada ucapan mau pun kata yang terlontar pada mulut Putri dan yang bisa ia lakukan sekarang hanya berjalan dan berjalan menjauhi mereka.


"Akhirnya aku bisa merasa lega melihat Revan berpisah dengannya," batin Mama yang merasa sangat lega, wajah senyum sinisnya pun tidak bisa ia bohongi lagi.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2