
Sesampainya dikediaman Revan, mereka sudah dikejutkan dengan hadirnya dua Wanita yang sudah siaga diruang tamu dengan tatapan keduanya yang cukup memperhatikan keduanya.
"Mama ini udah malam kenapa kalian tidak tidur?" tanya Revan, tapi balasan Mamanya malah bertanya balik pada Revan.
"Mama tidak bisa tidur sebelum kamu pulang, darimana saja kalian kenapa jam segini kalian baru kembali?" tanya Mamanya kemudian Revan membalasnya.
"Kami tidak habis dari mana-mana, ya sudah Revan ingin mandi jadi Revan tingal dulu," timpalnya yang segera ia pun beranjak pergi dari hadapan ketiganya.
"Ada apa dengan Revan kenapa dia sikapnya jadi aneh seperti ini. Dan kamu gadis tidak tahu diri darimana aja kalian kenapa kalian baru kembali?" tanya Mamanya nampak Putri pun takut ingin membalas apa.
"Maaf Putri lagi kebelet pipis nih Ma, jadi maaf Putri tingal dulu," balasnya segera ia beranjak pergi masuk kedalam kamarnya.
"Ada apa dengan mereka. Dan Revan dia terlihat tidak seperti lagi orang marah, bahkan tatapan keduanya nampak biasa saja apa mungkin Revan tidak jadi memarahinya?" tanya Nina.
__ADS_1
"Sudahlah sayang jangan pikirkan mereka lagi mendingan sekarang kamu fokus saja sama ucapan yang pernah Mama katakan kemaren, melihat Revan seperti ini apa kamu masih ingin mikir-mikir lagi?" tanya Mamanya mencoba meyakinkan Nina.
"Baiklah Ma terserah Mama aja Nina capek dan ngantuk jadi Nina pamit pergi dulu selamat malam." beranjak pergi dari tempat ia berbicara saat ini, Mamanya nampak bingung melihat apa yang sebenarnya dipikirkan oleh menantunya saat ini.
Hari berlalu dengan sangat cepat, jika malam dengan cepatnya telah berganti menjadi pagi. Dan menyinari seluruh alam dimuka bumi ini. Cahaya matahari yang perlahan-lahan telah memunculkan sinarnya hinga menembus pada gorden jendela tempat dimana Putri sedang tertidur lelap saat ini.
Alarm yang beberapa kali berbunyi tapi Putri yang berada disamping pun tak merasakan akan getaran tersebut.
Kemudian perlahan-lahan kedua matanya mulai terbuka perlahan, mengambil benda yang sedari tadi berbunyi menganggu akan tidur nyenyak-nya.
"Mama Revan kemana kok pagi-pagi gini aku tidak melihatnya?" tanya Putri tak ada satu pun jawaban yang terlontar dari mulut Mama mertuanya.
"Baiklah Ma kalau Mama tidak mau menjawab aku tidak masalah kok, ini aku udah masak sarapan jadi makanlah mumpung masih hangat."
__ADS_1
Niat hati ingin makan bersama sama mereka, tapi belum juga Putri duduk ia sudah mendapatkan teguran dari Mamanya mertuanya sesaat ia yang ingin duduk disalah kursi yang kosong itu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk duduk disana, apa kamu pikir jika tidak ada Revan saya mengijinkan anda untuk duduk ditempat itu tidak! Jadi cepat bangkit dan pergilah karena di-dapur itulah tempat yang cocok untukmu.
"Baik Ma aku tidak masalah, apa aku boleh ambil ikan itu?" tanyanya lagi dengan pandangannya yang melihat 5 ikan goreng yang siap santap.
"Ikan sekarang mahal, jadi alangkah baiknya kamu makan ini saja tempe sama tahu bukankah ini makanan yang biasa kamu makan setiap harinya ambillah!" perintahnya.
"Baik Ma terima kasih," balas Putri segera ia pun pergi membawa sepiring Nasi dengan lauk tempat dan tahu yang sudah tersaji diatas piring yang ia bawa.
"Kadang aku berfikir apa gunanya aku hidup jika akhirnya keseharian-ku hanya menjadi seorang pembantu? Pembantu dari Rumah kita sendiri tanpa ada bayaran sepeserpun," batinnya yang hanya bisa menitihkan air matanya.
Air mata yang mulai berlinang dari kedua sudut matanya. Hancur! iya mungkin kata itulah yang pantas untuk ia katakan. Jika kebanyakan wanita seusianya pada berfoya-foya dan bermanja-manja tidak seperti Putri yang hanya bisa menjadi membantu yang tak lain di-keluarga mertuanya sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG.