JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
KAMBUH LAGI


__ADS_3

"Apa aku memang tidak pantas ditakdirkan untuk bahagia kenapa takdir penderitaan yang aku alami sebesar ini.


Tuhan. Hamba tidak akan mengeluh jika takdir kebahagiaan Hamba sudah ditakdirkan seperti ini, tapi hamba hanya minta satu permintaan tolong... tolong kuatkan hamba menjalani kehidupan hamba yang sangat menyakitkan ini. Tolong ... beri kesempatan kepada hamba untuk menata hidup hamba lebih baik dan lama lagi hamba mohon.


Air mata yang tidak bisa hentikan lagi dan terus membasahi kedua pipinya. Menangis dengan sesegukan Revan tidak memperdulikan jika ada seseorang yang melihatnya. Karena dia tahu air mata yang semakin ia pendam air mata itu akan mampu membuat luka yang lebih menyakitkan jika ia tidak segera membuangnya.


Terduduk melamun sembari menikmati pandangan di-taman dekat Rumah sakit. Tak lama Putri menghampirinya.


"Astaga Revan aku cari kamu kemana-mana ternyata kamu disini. Apa yang kamu tunggu disini? Apa kamu menunggu kedatangan seseorang? Kamu menangis?"tanya Putri akan tetapi Revan hanya menggelengkan kepalanya. Dan kemudian dia pun mengatakan sesuatu.


"Putri?" tanya Revan dengan pandangannya berpaling padanya.


"Iya,"balas Putri yang langsung duduk berlutut disamping kursi roda Revan.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?"tanya Revan.


"Bertanya?" tanya balik Putri.

__ADS_1


"Iya."


"Baiklah tanya aja."


"Jika nanti aku meninggal. Apa kamu akan menikah dengan seorang laki-laki dan melupakan aku dan hidup bahagia bersamanya?" tanya Revan yang membuat air mata Putri menetes.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak mau membalas pertanyaan macam itu," balas Putri dengan ikut membelakanginya.


"Put? Jika pada dasarnya setiap manusia yang ditakdirkan bahagia dan merasakan apa itu cinta dan arti ketulusan. Apa di-dunia ini kamu sudah menemukan seseorang yang menurutmu dia adalah lelaki yang tulus?"


"Kenapa Revan, kenapa kamu selalu mengatakan seolah-olah kamu itu sudah menyerah dengan situasi ini?"


Mata Revan melebar saat tangan mungil


Putri yang menyentuh pipinya, ternyata wanita itu menghapus bulir demi buliran air mata yang menempel di pipi pria itu, senyuman manisnya terukir di wajah Revan, walaupun hatinya masih terasa sakit, ia akan menahan rasa itu karena ia tahu Revan sudah cukup berubah dan sangat berbeda dari Revan yang sebelumnya.


"Jangan menangis!"

__ADS_1


Sentuhan tangan Putri mampu membuat senyuman Revan seketika mengembang, Putri segera mendekap tubuh Revan dan berjanji akan selalu menjaga dan terus menjaganya hinga ajal datang menjemputnya


"Semua orang di-dunia juga pasti akan mati sama halnya dengan diriku sendiri. Jadi jangan beranggapan jika penyakit kamu ini tidak bisa disembuhkan aku sangat yakin jika nanti kamu sudah dapat obat aku sangat yakin kamu akan kembali normal seperti semula aku sangat yakin jadi kamu harus kuat ya?"ucapnya yang tak mau berhenti merangkul Revan.


"Tidak Putri. Aku tau kebanyakan orang yang mengidap penyakit ganas ini banyak yang tidak bisa selamat. Dan aku sangat yakin jika salah satunya nanti adalah aku sendiri. Dan kamu? Aku mau jika nanti aku mati kamu mampu menemukan Pria setia, tulus yang mampu bisa membuat kamu bahagia hanya itu permintaan aku Put, jadi aku ingin kamu bilang jika ada seseorang yang kamu kagumi kamu bilang padaku biar aku yang mempersatukan kalian ayo bilang!"


"Akan tetapi mengagumi sangat berbeda dengan menyukai Revan. Mengagumi bukan berarti harus mendapatkan apa yang ingin kita miliki. Apalagi tahu jika seseorang itu sudahlah punya berlian spesial yang melekat pada hatinya pada seseorang pilihannya. Jadi aku tidak mau merebut berlian itu dari genggaman-mu," timpal Milli yang seketika datang dari belakang mereka.


"Milli kamu sudah bilang kalau kamu mau mengabulkan permintaan aku itu, tapi kenapa lagi-lagi kamu sekarang mengingkarinya?"


"Aku berani mengingkarinya karena aku berpendapat sama seperti Kak Putri, karena? Karena pada kenyataannya umur manusia kita tidak akan pernah tahu dan bisa saja nyawaku sendiri yang terlebih dulu diambil oleh Tuhan, begitu juga dengan Kak Putri. Aku percaya Tuhan tidak pernah tidur untuk menolong hambanya.


Jika kamu memang sudah ditakdirkan untuk mati dengan cepat, kenapa? Kenapa tidak sedari dulu kamu meninggal?"


Belum selesai pembicaraan yang sedang mereka bicarakan selesai. Tiba-tiba Revan merasa jika dirinya sangat lemah dan pandangan matanya pun perlahan-lahan menjadi rabun.


Kemudian Revan yang tadinya baik-baik saja dia pun merasa  kesakitan dan terus menahan rasa sakit yang sedang menyerang dirinya sekarang ini. Karena tidak bisa menahan rasa sakitnya Revan akhirnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2