JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
TAMAT


__ADS_3

DUA BULAN KEMUDIAN


"Tempat ini kamu masih mengingatnya?"tanya Putri ketika ia sadar Revan membawanya disalah satu yaitu rumah kosong asal terjadinya ke salah pahaman beberapa bulan yang lalu.


"Tempat? Kamu pastinya ingat kan dengan tempat ini? Tempat ini adalah tempat dimana pertama kali kita dipertemukan dalam satu tragedi, yang akhirnya akibat tragedi itu mau tidak mau kita harus menjalin hubungan Suami-istri tanpa adanya rasa cinta dari kedua hati kita masing-masing. Siksaan, bahkan hinaan batin setiap harinya aku berikan kepada-mu. Bahkan menjadikan kamu menjadi Istri kedua-ku sama halnya dengan menjerumuskan-mu langsung kedalam lembah siksaan. Tapi apa? Apa yang kamu lakukan selama itu kamu selalu sabar bahkan kuat menghadapi sikap-ku yang sangat egois. Apa Putri? Apa yang membuat-mu menjadi kuat dan sabar seperti itu menghadapi-ku? Apa yang membuat-mu masih mencintai bahkan masih memberikan-ku kesempatan lagi padahal jelas-jelas aku sudah sangat menyiksa hatimu kenapa?"


"Apa aku harus menjawab semua pertanyaan kamu?" tanya Putri dengan air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir


"Iya kamu memang perlu menjawabnya?"


"Entahlah aku sendiri masih tidak menyadari kenapa aku bisa sekuat ini menghadapi laki-laki seperti-mu? Bahkan kalau aku mampu aku juga bisa menikah dengan Pria lain, tapi sayangnya hanya mulut yang mampu terucap, sedangkan hati? Nyatanya hati-ku tidak semudah itu untuk melakukannya.


Bagiku mencintai dan memiliki-mu itu sudah jadi hal istimewa yang aku dapatkan selama ini. Jodoh? Kita tidak tahu siapa jodoh kita sama halnya dengan kita.


Walaupun sejak sedari awal kita tidak saling memiliki hati satu sama lain, tapi sekarang dengan bisa berdiri langsung dihadapan-mu seperti ini aku sudah sangat yakin jika kamulah jodoh-ku kamulah jodoh yang selama dikirim Tuhan untuk menjaga-ku.


Jadi mulai sekarang jangan lagi bertanya alasan kenapa aku bisa mencintai-mu karena aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa mencintai-mu, bahkan masih mau menerimamu aku masih tidak tau apa alasannya jadi kamu paham kan?"


Dekapan hangat telah diberikan Revan untuk Wanita yang sangat ia cintai. Memeluknya dengan sangat erat, bahkan hampir membuat Putri sesak nafas lantaran sangking eratnya Revan mendekap tubuh mungil itu tapi semua itu tidak menyurutkan rasa bahagia dari keduanya.


Terlihat dari raut wajah mereka terlihat sangatlah bahagia melihat semua ini, senyum bahagia yang terpancar lepas tanpa beban atau pun ketakutan yang mereka takutkan selama ini.


Beberapa menit mereka berpelukan, Revan mengakhiri pelukan itu ketika ingat dirinya masih punya satu tanggungan lagi.


"Oh iya selain ini ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan ke-kamu! Aku ingin kamu ikut aku ke-suatu tempat jadi kamu gak keberatan kan?"


"Kamu ingin bawa aku kemana lagi?"


"Sudahlah nanti kamu juga akan tau,"balasnya yang langsung mengandeng tangan Putri.


"


"


"


"Kamu kenapa membawaku kesini bukankah kamu sendiri yang bilang kalau tempat ini bukanlah tempat favorit kamu?"tanya Putri, ketika disebelahnya sudah ada Revan yang menemaninya.


"Aku sengaja mengajakmu kesini karena aku ingin menagih akan permintaan kamu yang menyuruhku untuk datang kesini disaat aku buta kemaren.


Karena kondisi-ku sudah lumayan membaik dan aku bisa melihat lagi maka itu sudah jadi hutang aku yang belum aku lunasi aku mungkin telah telat membalas akan permintaan kamu tapi sekarang aku bisa lega karena aku bisa bersanding dengan Wanita yang mungkin sekarang tidak bisa aku katakan jika hanya sebatas seorang Istri.


Aku akui mungkin kata-kata yang aku ucapkan terbilang telat untuk aku katakan, tapi hari ini dan ditempat ini aku ingin mengatakan yang sejujurnya padamu. Aku tidak lagi bergurau atau pun mempermainkan akan cinta tapi sekarang aku jujur jika aku sangat mencintaimu Put, dan ditempat ini aku ingin tempat ini menjadi saksi akan kembalinya cinta pertama kita, suka duka-ku aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku, begitu sebaliknya aku juga ingin menjadi suka duka mu juga akan menjadi suka duka-ku jadi kamu paham kan?"


"Sebelum kamu meminta ijin dariku aku sudah terlebih dulu menerima suka duka mu, sama halnya dengan dirimu aku juga ingin kamu menerima semua suka duka yang akan terjadi pada hubungan kita nanti, pertengkaran? Aku rasa pertengkaran sudah umum terjadi pada hubungan suami-istri, jadi ... Iya aku bersedia hidup bersanding denganmu Revan aku bersedia,"balasnya dengan senyuman Putri yang menunjukkan akan kebahagiannya. Revan yang merasa sangat lega ia hanya mampu mendekap tubuhnya, mempererat pelukannya tak membiarkan Wanita yang ia cintai terlepas dalam pelukan untuk yang kedua kalinya.


Kehidupan. Kehidupan di dunia ini memang pada dasarnya selalu ada jalan yang menikung, curam yang harus dengan siaga kita hadapi jika sewaktu-waktu jalanan yang kita tanjak bisa membelokkan kita pada jurang kehancuran.


Sama halnya dengan sifat manusia. Di-dunia ini tidak ada manusia yang sempurna dari pada penciptanya. Nafsu, gairah dan godaan pastinya sering sekali terjadi pada seseorang yang lupa akan siapa mereka.


Percayalah, roda kehidupan itu selalu berputar. Adakalanya duka datang merundung kepiluan kepada kita. Dan adakalanya juga bahagia datang dengan pelangi kehidupan yang indah setelah beberapa rintangan besar yang telah menghadangnya sebelumnya


Dan kita berdua telah berjuang dengan keras apa yang harus kita miliki, suka duka sudah sama-sama kami lewati dengan rintangan yang sangat besar karena kita yakin takdir tidak akan pernah mengkhianati hasil setelah bersusah payah kita berjuang melawan rintangan terbesar kami.


Aku sangat mencintaimu Putri ... Aku sangat mencintaimu."


Beberapa kata yang mampu ia ucapkan, rasa syukur tak henti-hentinya ia panjatkan, mendapatkan kesempatan kedua untuk menatanya kembali, ia berjanji kali ini ia akan melindungi semampu mungkin dan melindunginya lebih dari melindungi dirinya sendiri.


💝 TAMAT 💝


PENGUMUMAN

__ADS_1



"Makasih ya Netta karena kamu mau mengajakku untuk berangkat bareng. Aku tau mungkin kamu memang sangat membenciku, tapi aku tau dalam hati kamu? Kamu tidak sejahat seperti yang aku kira terima kasih,"ucap Arabella dengan senyum lepasnya.


"Kamu tuh bisa gak sih kalau aku lagi nyetir itu jangan kamu ajak bicara! Apa kamu gak lihat aku sedang fokus sama laju kendaraan ku apa kamu ingin kita ma*i secara bersamaan?"bentaknya yang seketika mematungkan Arabella yang disebelahnya.


"Netta kamu kenapa se'marah ini sama aku? Aku kan hanya mengatakan secara pelan?"balasnya.


"Sudahlah benar apa dugaan-ku kalau aku tetap menampung mu disini yang ada aku akan cepat ma*i karena kecelakaan jadi cepat keluarlah dari mobilku!"pintanya dengan tegas.


"Tapi Netta ini kan jaraknya masih jauh ketempat kampus kenapa kamu tiba-tiba menurunkan ku disini hanya karena aku mengucapkan kata-kata tadi?"


"Hey aku ini memerintahkan mu untuk pergi apa sangat sulit buatmu untuk turun? Apa kamu ingin aku menyeret-mu langsung agar kamu turun dari dalam mobil ini?"bentaknya.


"Baiklah aku akan turun!"ucapnya segera ia pun turun dari mobil Netta.


"Sudahlah kamu pergi sana dan terserah kamu mau naik apa karena itu bukanlah urusanku!"ucapnya langsung menendang Arabella hinga jatuh tersungkur, segera ia menjalankan lagi laju kendaraannya.


"Netta kenapa sih tega banget menurunkan aku disini, ini kan jaraknya masih sangat jauh, ini udah agak siangan lagi aku harus cepat lari sekarang!"


Dalam perjalanan yang sama, Rasya atau geng kampretnya yang juga sedang mengendarai kendaraannya melewati jalanan ini, fokus mereka hilang lantaran bercanda disaat sedang menyetir.


"Woi kamu tuh bisa diam gak sih budek nih kuping denger suara kamu yang hancur banget!"gertak Revan yang mulai menganggu konsentrasinya.


"Ya elah Revan bilang aja klu lo tuh iri kan sama suara emas gue makanya kamu sewot kaya gini?"balas Gibran dengan pedenya.


"Beh suara emas dari hongkong!"balas Revan yang menimpalinya.


"Ya ngeledek lagi emang bener kok kalau suara aku tuh bagus banget mirip sama suaranya justin bieber ya kan Rasya ?"tanyanya dengan wajah pede.


"Terserah lah aku gak ikut-ikutan,"balas Rasya yang nampak lesu.


"Ya elah justin Bieber lagi, klu kamu itu mah bukan justin Bieber tapi justin mleber,"balas Revan dengan cekikikan, Rasya yang mendengar ia hanya menertawakannya secara diam-diam.


"Ya elah anak Mami ngambek lagi?"kesel Revan.


"Ya elah Gibran gitu aja ngambek kamu tuh kayak anak kecil aja sih,"celetuk Rasya.


Sedang asyiknya mereka bercanda di dalam mobil, Rasya yang sedang dalam fokus melajukan laju kendaraannya ia kehilangan kendali saat kendaraannya tak sengaja menabrak seseorang yang sedang menyebrang, menginjakkan rem secara dadakan ketiga nampak terkejut tidak main akibat ulah ketiganya.


"Astaga mati aku! Aku menabrak seseorang?"


"Astaga Rasya kamu itu parah banget sih, itu orang bukan pohon kenapa kamu asal tabrak aja?"celetuk Revan.


"Iah kamu sendiri yang berisik kenapa malah nyalahin aku sih salahkan si Gibran tuh yang dari tadi bikin kerusuhan, kita harus keluar mengecek kondisinya ayo!"


"Gak! Aku gak mau kalau itu orang ma*i gimana? Aku masih muda banget bahkan aku belum pernah merasakan ci*man jadi aku gak mau dipenjara gak mau?"


"Astaga dalam masalah seperti ini kamu bisa-bisanya bahas soal ci*man, ini nyawa orang ayo kita turun,"ajaknya yang tanpa berkata lagi Rasya langsung turun menghampirinya, keduanya yang melihat Rasya turun mereka lantas langsung menyusulnya.


Bersimpuh diaspal, seseorang yang tak sengaja tertabrak seseorang itu ialah Arabella.


" Astaga kenapa apes banget sih aku udah diturunin sama Netta sekarang malah tertabrak mobil lagi sial! Sial!"batinnya dengan kesal.


"Maaf-maaf Mbak aku tidak sengaja telah menabrak anda, soalnya tadi didalam mobil ada tikus makanya kami tidak fokus maafkan kami! Maafkan kami!"


"Idih ini orang bener-bener ya ngatain kita tikus lagi parah banget,"gerutu


"Kamu gak papa kan? Tubuh kamu gak remuk kan?"tanyanya dengan wajah panik.


Sedari tadi Arabella yang tidak memalingkan wajahnya pada pandangan mereka, akhirnya dirinya menatap ke'depan menatap ketiga Pria yang masih dihadapannya dengan terpaan angin yang membuat rambut Arabella yang terurai pun pada beterbangan, kecantikan yang dia hasilkan dengan seketika si trio kampret pun terpesona melihatnya.

__ADS_1


"Astaga ini cewek cantik banget,"gumam Rasya yang tidak berkedip sekali pun, kedua sahabatnya yang memandangnya dirinya juga nampak terpesona dibuatnya.


"Astaga mimpi apa ya aku tadi malem kok pagi-pagi gini sudah ada bidadari secantik ini?"celetuk Revan lagi.


"Astaga dia bener-bener cantik banget seperti bidadari yang baru aja turun dari pohon,"balas Gibran yang ngawur.


"Pe*k! Kalau itu mah bukan cewek cantik tapi kuntilanak kampret dasar!"timpal Revan yang langsung menjitak kepala temannya.


"Suka-suka aku lah mulut-mulut aku kenapa kamu yang sewot sih." Sedangkan Arabella yang dibuat bingung sama kelakuan mereka akhirnya Arabella pun langsung pergi dan ninggalin mereka tanpa sepatah kata yang ia ucapkan.


"Astaga aku udah kesiangan mendingan aku pergi aja,"batin Arabella yang langsung bangkit dari tempat ia bersimpuh, melihat angkutan umum yang lewat dirinya langsung masuk kedalam.


"Siapa cewek itu cantik banget ya?"gumam Rasya yang tak henti-hentinya berhenti tersenyum.


"Hah mana tuh cewek kok ilang gitu aja kan gue belum kenalan sama dia!" ucap Gibran beralih ia lihat Rasya melamun terus sambil senyum-senyum


"Lah ini orang malah melamun lagi woiii jangan melamun?"


"Eh kamu tuh apa-apaan sih budek nih kuping?"


"Lagian kamu sendiri siapa yang suruh malah melamun gitu udah-udah kita mendingan cepat berangkat ke kampus Udah siang nih!"


Kembali melanjutkan lagi laju kendaraannya, tak membutuhkan waktu yang lama ketiganya akhirnya sampai disalah satu Universitas yang cukup keren dijunjung banyaknya Mahasiswa mau pun mahasiswi dari kalangan kaya raya.


Rasya, Gibran dan juga Revan yang melintasi koridor kampus, mereka dibuat terpana setelah melihat tatapan semua cewek-cewek cakep pada melihatnya dengan tatapan tersipu malu.


" Gila cewek-cewek pada lihatin kita berarti itu artinya kegantengan kita tuh sudah kelewatan batas ya?"celetuk Gibran dengan pedenya.


" Gila beruntung banget ya gue punya wajah setampan ini?"timpal Revan yang ikut-ikutan.


" Astaga kalian tuh kenapa sih pada pede banget kalau kalian tuh tampan? Jika kalian memang benar-benar sangat tampan kenapa sampai sekarang kalian masih juga jomblo?"balas Rasya yang membuyarkan kepedean kedua temannya.


"Terus apa bedanya sama kamu apa? Kamu sendiri juga masih jomblo sampai sekarang?"balas Revan yang menyindirnya.


"Tingal bilang senasib gitu aja gampang kan?"balas Gibran.


Sedang dalam obrolan ketiganya yang sedang berlangsung, sesaat kemudian langkah mereka dibuat terhenti setelah ada tiga pria tampan yang tak lain mereka adalah Vanno dan kedua temannya pria yang juga jadi incaran di-kampus ini karena ketampanan yang mereka miliki.


Yang dimana mereka kebetulan lewat tepat dihadapan mereka. Para kaum wanita yang melihatnya mereka pun begitu terpesona bahkan rasanya seperti bertemu dengan para idola mereka.


Akan tetapi biar pun Rasya dan juga Vanno satu kampus yang sama, tak terlihat jika mereka itu teman yang akur, bahkan bisa dibilang mereka adalah musuh bebuyutan sejak masih SMA


"Tak disangka kita bakalan ketemu sama si pecundang disini!"gumamnya Vanno yang menatap tajam kearah Rasya


"Daripada ribut sama dia lebih baik kita pergi saja darisini. Karena masih ada urusan yang lebih penting ketimbang tanggepin omongan si bacot seperti dia!" balas Rasya yang kemudian dia yang hendak akan pergi, Vanno pun menggatakan sesuatu yang akhirnya membuat Gibran pun berhenti melangkah.


"Pengecut yang tetap pengecut jadi diapakan juga masih akan jadi pengecut paham! Dan ingat besok pertandingan antar kelas kita, jadi jika kamu merasa bukanlah Laki-laki pengecut buktikan!"


"Sebelum kamu merendahkan orang lain, setidaknya kamu koreksi diri kamu sendiri apa kamu itu sudah cukup pantas bisa berkata seperti itu?" sahutnya yang kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, Rasya pun langsung pergi meninggalkan mereka.


"Wee Rasya jangan tinggalin aku?" teriak Revan yang kemudian dia menarik Gibran pun mengejar Rasya.


Richard dan juga David yang Melihat prilaku yang ditunjukkan Rasya kepada Vanno akhirnya membuat mereka pun angkat bicara.


"Vanno sebenarnya apa sih permasalahan kalian berdua ini, kalian ini satu kampus harusnya kalian bisa bersifat akur dan juga damai jangan malah ribut ketika bertemu seperti ini? Kalian tuh sudah dewasa jangan jadi Laki-laki pengecut setiap kali bertemu seperti ini?"tanya Richard tapi Vanno tidak menanggapinya.


"Iya yang dikatakan Richard memang benar, kini waktunya bagi kalian untuk berdamai, seenggaknya ini demi nama baik kampus ini, apa kalian pikir dengan perdebatan yang kalian lakukan ini akan memberi nama baik kampus ini? Tidak kan? Yang ada kalian malah akan menjatuhkan diri kalian sendiri. Setiap kali pertandingan apa yang kalian lakukan, kalian malah akan ribut yang akhirnya membuat lawan malah menjadi menang sedangkan kampus ini akan tambah semakin jatuh karena ulah kalian sendiri, jadi tolong pikirkan omonganku ini baik-baik ya?"ucap Richard yang mencoba memberi pertimbangan ke Vanno, akan tetapi Vanno malah tidak menanggapinya dengan serius.Dan berlalu pergi meninggalkan Richard dan juga David


"Sebenarnya aku tadi lagi menasehati siapa sih?"tanya Richard yang merasa kesal.


"Sudah ayo kita ikuti si Vanno dia memang seperti itu orangnya yaitu keras kepala," ucap David yang kemudian mereka pun pergi mengejar Vanno.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2