JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
MENCOBA MEMPERSATUKAN


__ADS_3

"Apa aku memang harus menyembunyikan rahasia ini dari Kak Putri? Dia selama ini menganggap Revan laki-laki bajingan yang bisanya hanya membuatnya menderita, tapi jika aku tidak memberitahunya aku akan sangat bersalah jika merahasiakan masalah sebesar ini!"gumam Milli yang merasa bingung.


Merasa bingung apa yang harus ia lakukan, pandangannya seketika beralih pada ponsel yang tiba-tiba mengeluarkan suara deringnya.


"Kak Putri astaga aku sampai lupa belum memberitahunya kalau aku sudah sampai di Seoul,"balasnya segera ia mengangkatnya.


"Iya Kak maaf aku tadi belum mengabari Kak Putri. Aku sekarang masih ada dijalan tidak akan lama aku akan sampai di Apartemen yang Kakak tunjukkan lokasinya jadi Kakak tunggu ya?"ucapnya.


"Milli, kakak belum berkata apa-apa kenapa kamu malah terdengar panik seperti ini ada apa sayang?"tanya Putri nampak penasaran.


"Mm tidak ada apa-apa kok Kak, hanya saja Milli merasa agak gugup setiba di Seoul, ya sudah Milli lanjutkan jalan lagi ya Mili lagi main hp soalnya jadi Milli takut berjalan sambil main hape takut akan kena jambret,"balasnya.


"Baiklah tidak apa-apa sayang kalau kamu sudah sampai kamu kabari kakak ya?"


"Iya Kak, Nanti Milli akan kabari kok ya sudah Milli tutup telfonnya ya!"


"Baiklah berhati-hatilah."


"Baik Kak."


Berada dalam satu meja makan yang sama, Putri mau pun Milli yang siap makan malam pandangan Milli nampak kosong yang tidak seperti biasanya hanya terdiam dalam lamunannya.


Putri yang merasa terheran lantaran sikap yang ditunjukkannya, Putri memegang tangan Milli yang seketika langsung menyadarkan dirinya.


"Milli sayang kenapa kamu setibanya disini, kamu malah banyak melamun kamu gak suka ya tingal bersama dengan Kakak?"tanya Putri yang spontan membuat Milli terkejut dan gelagapan ingin berkata apa.


"Bukan seperti itu Kak. Aku hanya kesel padahal niat ku ingin memberikan Kakak kejutan tapi ternyata Mama malah terlebih dulu memberitahu Kak Putri jadi kesel kan jadinya?"


"Astaga Milli ya udahlah lagian bagus lagi kalau Mama memberitahuku jadi Kakak kan bisa mempersiapkan semuanya untuk kamu. Kamu sungguh-sungguh gak bohongi kakak kan?"


"Iya Kak Milli gak bohongi kakak kok,"timpalnya.


"Baiklah kalau kamu memang tidak membohongi kakak, Ya sudah kamu makanlah kamu pasti belum makan apa-apa kan dari Rumah tadi?"


"Kak Putri tau aja kalau aku memang belum makan,"balasnya yang hanya bisa tersenyum.


"Ya sudah makanlah, oh iya sebelum kamu makan kamu bisa kan mengantarkan ini untuk Gibran? Dia tingal di apartemen depan pintu kita, dia juga belum makan jadi ayo berikanlah!"

__ADS_1


"Tapi kok malah aku sih kak,"balasnya.


"Milli kamu gak akan membantah dengan permintaan Kakak kan?"tanyanya.


"Baiklah aku tidak akan membantah,"balasnya yang langsung mengambil semangkuk ramen untuknya.


"Akhirnya aku berhasil juga membujuk Milli untuk mau mengantarkan makanan itu,"batinnya dengan tersenyum.


Tok


Tok


Tok


Mendengar suara ketukan Gibran yang berada dari dalam ruangan Apartemennya ia segera keluar dan membukanya. Setibanya ia keluar ia nampak senyum melihat siapa seseorang yang sudah berada dihadapannya saat ini.


"Kamu kenapa hanya bisa tersenyum ayo ambillah kak Putri memberikan untukmu!"balasnya yang terlihat kesal.


"Dasar aku kira dia mau ikut ke Seoul hanya karena masalah keuangan, tapi nyatanya dibalik niatnya itu ada keinginan lain yang terselip dari dalam hatinya dasar!"batinnya yang sesekali menatap Gibran dengan wajah juteknya.


"Kenapa lagi?"


"Ada sesuatu yang kurang untuk kamu lakukan!"


"Ada sesuatu yang kurang apa?"


"Ini,"balasnya dengan jarinya yang menunjuk kearah tombol kode masuk pintu.


"Kode pintu buat apa? pa kodenya rusak?"tanya Milli.


"Kayaknya aku membutuhkan kode sidik jarimu jika sewaktu-waktu kamu hendak ingin masuk entah karena apa, jadi ayo lekatkan jempol kanan kamu kesana,"pintanya.


"Kenapa harus aku, kan ada seseorang yang kamu suka kenapa kamu tidak meminta sidik jarinya saja,"balasnya yang spontan membuat pandangan Gibran teralihkan.


"Seseorang yang aku suka siapa?"tanyanya dengan wajah penasaran.


"Sudahlah aku ingin pergi!"

__ADS_1


"Tunggu! Kamu kan belum melekatkan sidik jarimu jadi lekatkan dulu,"pintanya.


"Astaga ini orang baiklah aku akan memberikan sidik jariku,"balasnya yang hanya menuruti akan permintaan Gibran.


Menggenggam tangan kanan Milli, lalu ia membantu Milli buat melekatkan jari jempol kanannya yang ia tempel pada kode sidik jari pada gagang pintu. Milli yang tidak tau menahu ia hanya menuruti akan permintaan Gibran dan memberikan dia kesempatan untuk bisa menggenggamnya sesuka hatinya.


Gibran yang menyadari jika dirinya telah membelakangi tubuh Milli, sekaligus menggenggam tangan kanannya ia hanya bisa tersenyum menyadari akan situasi yang mungkin tidak akan bisa lakukan lagi.


"Apa sudah selesai?"tanya Milli yang membuat Gibran reflek dan langsung melepaskan genggaman tangannya.


"Sudah kok ini sudah teratur sekarang jadi selain sidik jariku sidik jarimu juga sudah bisa dibuat cadangan di pintu ini. Oh iya apa kamu membenciku?"tanya Gibran.


"Membencimu Maksudmu?"tanya Milli nampak bingung.


"Aku perhatian tatapan kamu kepadaku cukup terlihat kesal. Kamu sudah membuktikan jika kamu terlihat membenciku tapi aku agak bingung apa yang mampu membuatmu se'benci ini padaku?"


"Jika kamu ingin tanya kenapa aku membencimu harusnya kamu tanya pada dirimu sendiri apa kamu memang pantas menjadi orang spesial untuknya. Dan satu lagi jangan harap kamu akan menjadi Kakak Ipar ku karena itu tidak akan pernah terjadi paham!" Segera pergi dari pandangan Gibran, Gibran yang merasa terheran akan ucapannya ia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.


"Apa yang barusan ia ucapkan apa dia sudah gila?"ucapnya yang ingin masuk ke-kamar, langkah Gibran terhenti ketika ia ingat akan sesuatu.


"Astaga aku lupa aku belum memberitahu Nyonya jika besok ada acara peresmian yang harus ia hadiri,"gumamnya, ia mengetuk pintu kamar depannya yang tak lain adalah kamar Putri.


"Iya Gibran ada apa kenapa kamu mengetuk pintu ada apa?"


"Itu Nyonya saya lupa memberitahu Nyonya kalau besok nyonya dapat undangan untuk hadir di acara peresmian Tuan Reza jadi Nyonya bisa kan untuk menghadirinya?"


"Baiklah aku akan menghadirinya tapi kamu ikut ya?"


"Baiklah Nyonya tenang saja aku akan ikut mendampingi Nyonya ."


"Baiklah baguslah kalau gitu, ya sudah saya permisi dulu."


"Baiklah."


"Acara peresmian apa ini kesempatan untuk aku mempertemukan Revan pada kak Putri? Aku rasa ini kesempatan emas jadi aku tidak bisa menyia-nyiakannya,"batin Milli kemudian ia memberikan beberapa pesan pada Revan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2