
"Maaf Tuan paket yang anda pesan sudah datang ini!"ucap seorang Wanita sembari mengulurkan kotak putih pada Revan.
"Paket? Siapa yang pesan paket?"tanya balik Revan nampak bingung.
"Tadi ada kurir yang mengantar paket ini atas nama Milli Oktaviani saya sendiri tidak kenal dengan siapa Wanita itu tapi kata Kurir wanita itu mengirimkan ini untuk tuan?"
"Milli untuk apa dia memberikan paket untuk tuan?"tanya Gibran yang merasa cukup bingung.
"Mendingan kamu buka aja apa isi dari paket itu cepat bukalah!" perintah Revan.
"Kok malah jadi saya sih Tuan kalau seumpama isinya bom gimana?"tanya balik Gibran.
"Ya kalau isinya Bom seenggaknya yang mati bukan saya tapi anda sendiri paham!"
"Ist dasar ditanya balik-balik juga baiklah aku akan membukanya."
Membuka satu persatu paket yang ia terima Gibran mau pun Revan dibuat kesal lantaran paket yang kotaknya sedikit besar setelah ia bukan hanya bertuliskan sebuah surat.
"Surat? Apa dia sudah gila jika ia ingin menemui Tuan harusnya dia langsung menghadap tapi kenapa dia pakai acara ngirim surat segala aneh-aneh saja," timpal Gibran.
"Sudah jangan banyak omong cepat bukalah."
"Baik Tuan."
Membuka lembaran kertas putih, secara perlahan Gibran mendapati satu nomor *********** yang tertulis pada kertas tersebut. Disusul dengan tulisan [ HUBUNGI NOMOR DIBAWAH INI ]
__ADS_1
"Surat ini hanya bertuliskan hubungi nomor dibawah ini apa maksudnya?"tanya Revan.
"Kacau dia sangat gila jika hanya mengirimkan sebuah nomor kenapa pake acar lewat jalur gini kurang kerjaan banget apa dia," gerutu Gibran.
"Mana ponselmu?"tanya Revan.
"Ponselku kenapa harus lewat aku?"
"Jangan banyak omong cepat mana ponselmu,"tegasnya.
"Ini," ucap Revan yang langsung mengambilnya.
📞" Ada apa kenapa kamu menyuruhku untuk menghubungimu apa kamu ingin membuat masalah baru lagi atau mungkin kamu ingin mengatur rencana untuk menyakiti Putri?"
📞" Aku tidak punya banyak waktu untuk bilang apa yang ingin aku katakan padamu, tapi setidaknya sekarang aku ingin mengatakan hal yang sejujurnya aku tahu dimana keberadaan Rafa sekarang jadi kamu bisa kan bantu aku untuk menangkapnya?"
Tanpa berkata mau pun mengatakan sepatah kata lagi pada Milli yang sambungan teleponnya masih tersambung. Revan sekejap langsung mematikannya tanpa memberikan dia kesempatan untuk ngomong.
"Tuan? Tuan kenapa langsung menutupnya dan apa yang Milli ucapkan barusan?"
"Sudahlah jangan dibahas lagi, ia hanya ingin menjebak kita. Dia menyuruhku untuk membantunya menangkap Rafa apa itu masuk akal? Tidak kan sudahlah jangan dibahas lagi aku malas!"
"Sudah aku duga percuma aku meminta bantuannya karena itu juga tidak akan berpengaruh. Sekarang aku hanya sendiri apa aku mampu untuk menangkapnya dengan mengunakan tanganku sendiri? Jika aku minta bantuan Polisi aku takut jika masalah ini tambah akan semakin merambat dan aku takut malah membahayakan orang-orang yang aku sayang apa aku minta bantuan pada Gibran aja ya ia itu ide bagus."
Tanpa memikirkan yang kedua kalinya Milli kembali menghubungi nomor yang barusan menelfon-nya. Sedangkan Gibran yang hendak akan pergi ia dikejutkan dengan dering ponsel yang berbunyi.
__ADS_1
"Gagal membujuk Revan apa sekarang dia beralih ingin menjebak ku dasar Wanita siluman," gumamnya yang langsung mengangkat teleponnya.
📞" Kamu ada apa kenapa kamu malah menghubungiku apa kamu belum puas membuat kekacauan ini? Apa lagi yang ingin kamu lakukan apa?"
📞" Aku ingin menemui-mu?"
📞" Menemui ku untuk apa? Aku tidak mau?"
📞" Aku mohon aku hanya punya kesempatan sedikit dan aku hanya punya kamu maksudnya hanya padamu lah aku bisa membereskan semua kekacauan ini jadi kamu mau ya membantuku untuk saat ini saja aku mohon!"
📞" Kamu pikir dengan begitu mudahnya kamu bisa mempermainkan kita semua tidak! Jika Revan saja tidak memberimu kesempatan gimana dengan aku sendiri, jadi mana mungkin aku bisa memberimu peluang untuk menyakiti Nyonya Putri itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi apa anda paham!"
Sama hal yang seperti dilakukan Revan, Gibran tanpa memberinya waktu untuk menjelaskannya ia langsung menutup sambungan telefon tersebut.
"Aku hanya mendapatkan peluang dari mereka tapi sekarang semuanya sudah sirna keduanya tidak mau membantuku jadi apa lagi yang harus aku lakukan. Saat ini aku sudah berhasil menghindar dari Claudya dengan bersembunyi di Villa ini selama dua hari tanpa berani keluar menunjukkan mukaku ditempat umum tapi aku rasa jika aku terus saja bersembunyi apa yang akan terjadi nanti aku bahkan tidak bisa membayangkan gimana nasibku selanjutnya."
Merasa sangat bingung dan putus asa, Milli tiba-tiba teringat akan video Claudya yang ia curigai dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Monika.
"Mobil lampir itu kenapa bisa bonyok seperti itu? Dan siapa orang yang barusan ia tabrak jika ia menabrak sebatang pohon aku rasa hancurnya akan tambah semakin parah dari ini tapi kenapa bonyoknya hanya pada bagian depan saja," gumamnya yang langsung mengingat akan Monika.
"Monika mengalami kecelakaan tak lama sebelum Rafa dipenjara dan melarikan diri, sedangkan lampir itu bagaimana bisa ia bekerja sama dengan seseorang seperti Rafa yang jelas-jelas Rafa sendiri sangat membenci Kak Putri apa mungkin semua ini terjadi karena secara kebetulan kayaknya itu tidak mungkin apa Claudya sengaja memanfaatkan Rafa untuk misinya ini?"
"Monika? Monika adalah Istri Rafa apa aku meminta bantuan dia aja untuk menangkapnya?"
Tak mau membuang-buang waktu lebih banyak lagi, Milli segera melakukan penyamarannya layaknya seperti orang laki-laki berlalu ia pergi dari Villa yang ia pesan.
__ADS_1
BERSAMBUNG.