JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
AKANKAH MALAM ITU TERJADI


__ADS_3

Membuka gaun pengantin yang ia pakai, berlalu ia merendam gaun itu lantaran ada bekas noda minuman yang berceceran pada gaun yang habis ia pakainya.


"Gara-gara ke-tumpahan minuman aku harus repot-repot mencucinya sekarang, udahlah akan lebih baik aku mandi dulu,"gumamnya yang tanpa menunggu ia melakukan ritualnya.


"Akhirnya selesai juga mandi ku,"gumam Milli lantas dirinya yang hendak ingin mengambil pakaian ganti, dirinya dikejutkan akan sadarnya yang lupa tidak membawa pakaian ganti dari luar.


"Astaga Milli ... Kamu kenapa masih aja seceroboh ini? Bisa-bisanya kamu tidak membawa pakaian ganti kamu terus sekarang apa yang harus kamu lakukan, dengan apa kamu ingin ganti pakaian, saat ini bahkan kamu hanya mengenakan pakaian dalam ini saja apa aku harus meminta bantuan padanya?"tanyanya pada dirinya sendiri.


"Tidak ... Tidak ... Milli kamu tidak boleh meminta bantuannya dia itu laki-laki mesum bisa-bisa dia ambil kesempatan ini tidak! Tidak!"


Mondar mandir didepan pintu, ia merasa bingung dengan cara ia keluar dari dalam kamar mandinya bukan karena dikunci atau apa tapi yang membuatnya enggan keluar ia malu jika harus berhadapan dengan Gibran yang jelas-jelas sekarang sudah menjadi Suaminya.


Merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan, Milli berbalik melihat dibelakangnya melihat ada handuk bekas yang lupa tidak ia keluarkan.


"Alhamdulillah syukurlah ada handuk ini yang mampu membantuku, jadi aku gak perlu takut lagi untuk keluar,"gumamnya yang merasa lega.


"Milli kamu itu habis apa aja sih didalam sana kenapa lama sekali, kamu gak lagi nonton drakor kak didalam sana?"


"Ngawur kamu ya enggaklah!"


Melihat Milli yang berjalan kearahnya mengambil pakaian ganti didalam almarinya, pandangan Gibran beralih memandang Milli dari ujung kaki sampai ujung kepala. Putri yang sadar akan tindakan Gibran, dirinya melemparkan satu pakaian berlalu ia menutup tubuhnya dengan pakaian yang lain.


"Hey apa yang kamu lihat kamu jangan macam-macam ya? Biar pun aku sudah menjadi Istrimu tapi aku malu di mandang seperti itu paham!"


"Gak!"balas Gibran yang membuat Milli kesal.


"Dasar menyebalkan! Oh iya aku mau ganti baju bisakah kamu keluar?"pintanya.


"Sekarang?"tanya Gibran yang masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Tidak! Tapi tahun depan puas?"


"Astaga sama Suami sendiri jangan jutek-jutek kenapa, baiklah aku akan keluar,"balasnya tanpa berkata ia pun segera keluar dari kamarnya.


"Hu untungnya biar pun dia tukang mesum, dia masih mau nurut sama apa kata aku, udahlah lebih baik aku ganti baju sekarang sebelum dia belum masuk,"ucapnya.


Sudah hampir 20 menit Gibran keluar dan tidak kunjung kembali sampai sekarang, Milli yang sedari tadi bersantai diatas ranjang ia merasa penasaran, sesekali ia melihat jam yang sudah menunjukkan akan pukul 21:00 malam.


"Apa dia berniat ingin pindah kamar? Tapi kalau itu memang beneran terjadi syukurlah kalau gitu akan tetapi akan lebih baik kalau kamu tunggu dia sampai satu jam lagi, jika dalam satu jam dia tidaklah kembali itu artinya dia benar-benar mengalah," gumamnya dengan pandangan mata yang masih fokus melirik kearah pintu kamarnya.


Akan tetapi berbeda dari dugaan dan rencana yang Milli rencanakan. Gimana belum ada satu jam lamanya Milli memutuskan untuk menunggu kedatangan Gibran kembali ke kamarnya nyatanya ia yang terlebih dulu diserang rasa ngantuk yang akhirnya membuatnya malah jadi tertidur terlebih dulu. Alhasil Gibran yang sedari tadi sengaja tidaklah masuk secara cepat bergegas ia pun masuk kedalam kamar setelah hampir satu jam ia berpura-pura tidak akan kembali.


Melihat Milli yang sudah tertidur pulas dengan memeluk guling dalam dekapannya, Gibran yang melihatnya pun malah menjadi tersenyum dan menertawakannya secara diam-diam.


"Dasar, gadis sepertimu hanya mampu mengucapkan kata-kata tanpa benar-benar berhasil membuktikan apa perkataan yang kamu ucapkan barusan, sudahlah tidur yang nyenyak sayang,"ucap Gibran dengan membelai pelan pucuk rambut Milli.


Memandang dengan seksama wajah cantik yang Milli miliki, pandangan Gibran beralih pada bibir mungil merah jambu itu, ia terus saja memperhatikannya berniat ingin menahan gairahnya tapi apa daya hawa nafsu yang Gibran miliki nyatanya tidak segampang untuk ia kendalikan.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan kamu mengambil kesempatan ini dariku?"ucapnya yang langsung bangkit menutup tubuhnya karena panik.


Gibran yang tiba-tiba langsung mendorongnya, ia tersungkur ke belakang, hingga akhirnya Gibran pun mendorongnya hingga benar-benar terbaring di atas ranjang. Memegang kedua pergelangan tangan Milli, mengunci dengan tangannya. Gibran menatap wajah Milli dengan bringas. Memperhatikan pahatan indah dari wajah Istrinya itu.


Sedangkan cengkraman yang dilakukan Gibran yang semakin mempersulit Milli untuk melarikan diri darinya, sedangkan Gibran yang sudah menatapnya dengan tatapan bergairah bibirnya yang hampir saja menyentuh lekuk lehernya. Pandangan Gibran yang semakin menjadi setelah ia memandang bibir Milli yang sangatlah mungil.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu berniat ingin menodai ku? tanya milli dengan ekspresi cemasnya.


"Kenapa? Bukannya ini memang sudah seharusnya untuk kita lakukan kan, kan malam ini malam pertama kita jadi kamu pastinya sudah tau kan apa tugas kamu menjadi seorang Istri?" tanyanya yang sedikit menggoda.


"Lihat saja jika ia sampai berani mencium ku maka hidungmu yang akan jadi taruhannya, aku belum siap kenapa dia jadi memaksaku seperti ini?" batinnya dengan tersenyum sinis kearahnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu malah tersenyum apa kamu juga menantikannya," balas Gibran lagi.


"Aku belum siap jadi bisakah kamu menundanya malam ini?"tanya Milli.


"Kenapa harus menundanya?"


"MMM karena ada sesuatu yang belum aku pikirkan dengan matang-matang, bukankah sebelum kita sepakat menuju kejenjang pernikahan kita sudah sepakat untuk menggapai impian kita?"


"Baiklah aku akui kalau aku kalah karena hari ini aku belum sepenuhnya menguasai dirimu tapi sudahlah, tapi sebagai gantinya kamu tidak akan aku ijinkan untuk keluar dari kamar jadi selamat tidur," timpalnya yang kemudian Gibran bergegas berlari dan menguncinya dari dalam. Dan kemudian ia kembali membaringkan tubuhnya seolah-olah tidak ada yang terjadi.


"Kamu sungguh tidak apa-apa kalau kita menundanya?"tanya Milli.


"Seperti yang kamu minta aku tidak masalah kok, ya sudah cepat tidurlah!"pintanya, Gibran yang lebih memilih menutup mulut ia berlalu mulai memejamkan kedua matanya.


"Dia tidak masalah jika hari ini kita menunda malam ritual itu, tapi kenapa ia menguncinya dan apa alasannya?"gumamnya yang berkata secara pelan.


"Apa yang sebenarnya telah ia rencanakan? Apa dia sungguh-sungguh tidak ingin melakukannya? Apa hanya dengan satu permintaan ia langsung menyetujuinya seperti ini," gumamnya dengan tatapan tajam pada laki-laki yang telah tertidur pulas.


"Aku jadi haus sekarang aku ingin mengambil air itu,"timpalnya yang berniat ingin mengambil air putih diatas nakas-nya.


Lantaran berjalan tanpa melihat adanya kursi didepannya, sehingga kakinya tersandung kursi dan tubuhnya jatuh tepat menimpa tubuh Gibran yang masih dalam keadaan tertidur. Terkejut dengan posisinya saat ini, bergegas Milli yang ingin bangkit ia pun dibuat terkejut lantaran Gibran terlebih dulu sadar, dengan sigap ia membalikkan tubuh Milli dan menindih tepat diatas tubuhnya menatapnya dengan tatapan manisnya.


"Kau ingin menggodaku, kan? makanya kamu berpura-pura jatuh seperti tadi?" goda Gibran .


"Apa maksud kamu? Apa kamu sudah berani menuduhku. Aku tadi benar-benar jatuh jadi jangan berprasangka buruk dengan mengatakan kalau aku ingin mengambil kesempatan darimu apa kamu mengerti," ucapnya yang berniat ingin segera bangkit, lagi-lagi Gibran tidak memperbolehkannya.


"Apa yang ingin kamu lakukan apa kamu berniat ingin melakukannya hari ini?"tanya Milli nampak takut.


"Kamu tenang saja aku tidak akan menyakitimu aku janji," balas Gibran yang kemudian ia pun mematikan lampu meja yang berada diatas nakas sampingnya. Melihat tatapan Milli yang bersitegang, dirinya lalu menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuh mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2