
Berjalan dengan adanya lamunan yang menyertai dirinya. Duduk disalah satu kursi taman sembari meminum sebotol air putih. Revan hanya bisa menatap dan memandangi pemandangan yang indah. Akan tetapi keindahan yang sangat indah ini nyatanya tidak sebanding dengan perasaan kecewa yang ia rasakan saat ini.
"Kenapa Nin? Kenapa kamu jadi cepat berubah seperti ini. Pernikahan kita sudah jalan sudah tiga tahun lamanya. Bahkan aku sudah menyiapkan hadiah anniversary kita tapi apa? Lagi-lagi kamu membuatku kesal karena tuduhan yang sama sekali tidak aku lakukan.
BEBERAPA TAHUN YANG LALU.
Pagi yang cerah dan hari ini adalah hari yang ditunggu bagi semua pelajar kelas IPA Xll yang akan mengetahui hasil kelulusan mereka sekaligus nilai dan peringkat mereka.
Dan dalam hitungan menit perasaan mereka akan sangat merasa lega setelah mereka mengetahui pengumuman kelulusan mereka nanti.
Setelah seorang Guru yang menempelkan beberapa kertas di mading Sekolah, dengan segera mereka pun mengerubungi mading tersebut dan melihat data siapa saja nama orang yang lulus.
Tak mau kalah Revan yang sedari tadi sedang bingung mencari keberadaan Putri. Ia pun menyempatkan diri untuk melihat data tersebut. Wajah yang tadinya cemberut dan murung seketika berubah jadi bahagia sesaat ia melihat tiga nama yang tertera pada barisan paling atas.
Revan Gibran Reynaldi
Putri Varelina
Nina Kelana
"Akhirnya kita lulus Revan. Akhirnya kita lulus.
"Alhamdulillah oh iya Putri dimana dia sekarang kenapa dia gak keliatan dari tadi apa dia sudah tahu kalau dia juga lulus. Kemana dia sekarang apa dia tidak masuk hari ini?'
"Revan apa kamu sadar aku sedang berbicara dengan-mu, tapi kenapa kamu malah selalu menyebut nama Putri?'" batin Nina yang terlihat bersedih.
Terdengar teriakan bahagia yang dilontarkan semua orang-orang setelah mereka melihat nama mereka tertera pada kertas pengumuman kelulusan tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi jauh berbeda dengan raut wajah yang ditunjukkan Nina. Nampak kesedihan telah ia rasakan olehnya setelah seseorang yang paling ia cintai ternyata lebih memperdulikan wanita lain dari pada dirinya sendiri yang jelas-jelas ia adalah kekasihnya.
"Nina kenapa kamu diam. Apa yang sedang kamu pikirkan kenapa kamu terlihat melamun, oh iya apa kamu tahu dimana Putri berada sekarang dimana dia?"
"Percuma kamu mencarinya Rev karena orang sedang kamu cari nyatanya tidak akan pernah lagi berada disamping-mu!" timpal Nina spontan membuat Revan yang mendengarnya seketika kaget.
"Apa maksud-mu?"
"Putri hari ini memutuskan untuk pindah Sekolah dan pastinya hari ini adalah hari terakhir dimana ia menginjakkan kakinya di Jakarta.
"Apa? Tidak, itu tidak mungkin kasih tahu jika apa yang barusan kamu katakan tidaklah benar?"
"Maafkan aku Rev, maafkan aku karena aku baru berani memberitahu-mu sekarang. Sekarang dia sudah berada di bandara jadi mungkin sejam atau pun sekarang ia sudah pergi meninggalkan Jakarta.
"Tidak, itu tidak mungkin. Putri tega banget kamu ninggalin aku ....tidak aku tidak akan membiarkannya," gumam Revan yang rasanya inggin menangis setelah mendapat kabar ini. Tanpa berfikir lagi Revan langsung berlari.
"Revan kamu mau kemana?" tanya Nina tapi Revan sudah jauh dari pandangannya.
"Dimana dia sekarang kenapa aku gak melihatnya. Apa mungkin pesawat yang ditumpanginya sudah terbang, kemana lagi aku harus mencarinya.
Dengan perasaan campur aduk yang ia rasakan sekarang ini, ia terus memperhatikan setiap orang yang lewat dihadapannya. Melihat banyaknya orang yang berada di-bandara ini membuatnya sangat kesulitan untuk mencari keberadaan Putri.
Hingga pada akhirnya pandangannya pun teralihkan setelah ia melihat sesosok wanita yang berjalan sembari menyeret koper yang ia bawanya. Melihat jaket yang dikenakan wanita itu, bergegas Revan pun berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang.
Dan ternyata firasat yang rasakan Revan akhirnya membuahkan hasil. Lantaran orang yang ia peluk ternyata memang sungguhan Putri, wanita yang sangat ia cintai atau pun sahabat yang sangat ia sayangi.
Merasakan ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya, bergegas Putri pun membalikkan tubuhnya dan melepaskan pelukan seseorang itu.
"Revan. Kamu? Tahu dari mana kalau aku ada disini dan akan pergi ninggalin Jakarta?" tanya Putri dengan wajah terkejutnya setelah melihat jika sesosok laki-laki berseragam sekolah yang sudah memeluknya adalah Revan.
"Apa yang kamu lakukan, kamu anggap apa aku ini, kamu masih sahabatku tapi kenapa kamu asal mau pergi dan ninggalin aku dengan cara seperti ini tanpa mengucapkan pamit atau pun sepatah kata padaku?"
__ADS_1
"Maaf aku harus pergi sekarang, pesawat yang aku naikin akan segera berangkat," ucap Putri yang mencoba mengelak-nya. Tapi Revan dengan langsung, langsung memegangi atas koper Putri.
"Gak aku gak akan biarkan kamu untuk pergi. Aku akan melepaskan kamu asal kamu berkata jujur kepadaku apa yang sedang kamu sembunyikan dariku. Dan apa alasannya kamu mencampakkan aku seperti ini aku butuh penjelasan yang jelas. Jadi aku minta kamu cepat katakan padaku?"tegas Revan.
"Aku gak butuh alasan lagi untuk menjelaskan semuanya sama kamu. Mama tiri-ku berjanji akan menyekolahkan aku ke universitas yang tinggi. Universitas yang selama ini aku impikan jadi hanya itu ... Hanya itu yang bisa aku jelaskan ke kamu saat ini?"
"Jadi itu alasan kamu? Apa kamu lupa seperti apa sifat seseorang yang sudah kamu anggap Mama tiri-mu itu, dia hanya membohongi-mu dan aku tidak akan membiarkan dia terus-menerus menyakiti-mu jadi tetaplah disini, tetaplah disini bersama kami aku dan Nina aku mohon. Kalau kamu pergi gimana dengan nasib persahabatan kita yang sudah kita jalani hampir 10 tahun lebih ini. Apa kamu akan melupakan persahabatan yang sudah sejak kecil kita lakukan apa kamu akan melupakan aku begitu saja?"
"Maafkan aku Rev, maafkan aku. Aku punya impian yang harus aku wujudkan. Ada Nina yang selalu hadir dalam mimpi dan berada disamping-mu jadi kamu masih punya dia ...kamu masih punya dia. Aku harus pergi selamat tingal ...."
Berusaha tidak inggin terlihat cengeng dihadapan Putri. Dengan berusaha Revan pun menahan air matanya agar tidak terjatuh dan membasahi kedua pipinya. Dan dengan memalingkan wajahnya agar tidak melihat kearah Putri yang mulai menjauhi dirinya.
Putri yang dengan perjalan menuju kearah masuk sesekali ia menatap kearah Revan, tapi Revan tidak membalas tatapan yang diberikannya. Hingga Putri yang sudah sampai diujung pintu ia pun mengucapkan kata selama tinggal untuk yang terakhir kalinya yang akhirnya tubuhnya seketika menghilang dari pandangan Revan.
Revan yang akhirnya menatap kearah Putri tapi ia sudah terlambat yang bisa ia pandang hanyalah punggung Putri yang perlahan-lahan mulai hilang dari pandangannya.
SEKALIAN ADA REKOMENDASI CERITA BAGUS NIH. YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰🥰🥰
Cinta Sendiri
Blurb :
Mencintai tanpa dicintai... Kedekatannya selama ini dengan sahabat abangnya hanya dianggap sebagai adik, tidak lebih.
Anggita Nur Anggraini, biasa disapa Gita telah jatuh cinta pada sahabat almarhum abangnya. Akan tetapi, cintanya bertepuk sebelah tangan. Bahkan dia sampai merelakan kehormatannya, sayangnya lelaki itu tetap tidak melihatnya.
Apakah cintanya akan berbalas?
__ADS_1
BERSAMBUNG.