JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
MENGINAP 1


__ADS_3

"Gila tuh orang bisa-bisanya badan sekurus ini masih dibilang gembrot, lebih untuk aku gembrot dari pada dia badan sudah cungkring, kurus kaya tiang listrik kalau ada angin ****** beliung pasti udah kebawa tuh," kesal Milli dengan ngoceh-ngoceh dijalan.


"Oh iya kalau aku pulang ke-Rumah kan di-rumah tidak ada orang nanti kalau ada orang yang menculik-ku gimana? Lebih baik nanti malam aku datang lagi aja ke-rumah kak Putri itung-itung numpang gratis," gumamnya lagi dengan wajah nyengirnya.


Pagi yang tadinya sangat cerah, dengan adanya awan cantik yang mendukung suasana disiang hari yang sangat menyejukkan ini. Akan tetapi malam harinya suasana nampaknya tidak mendukung awan gerombolan mendung siap mengeluarkan buliran air yang tak lama butiran air itu pun menjadi tetesan air hujan yang tidak terhitung akan jumlahnya.


Gibran dan Revan yang tadinya mau bersiap untuk pulang, kini langkah Revan serasa sangat berat entah apa yang membuatnya berat untuk meninggalkan Putri dikediamannya bersama dengan seorang laki-laki yang jelas-jelas bukan muhrimnya.


"Hujan masih sangat deras apa Tuan yakin ingin pulang? Jalanan yang akan Tuan lewati terbilang tak ada lampu penyinaran nya, belum lagi hujan yang sederas ini akan sangat sulit bagi pengendara untuk melewati jalanan ini belum lagi adanya begal yang katanya suka mancing ditempat itu apa Tuan yakin ingin pulang?"tanya Gibran.


"Iya Revan hujannya sangat deras akan lebih baik kamu istirahat dulu disini, nanti kalau hujannya sudah reda kamu boleh pulang," ucap Putri.


"Tapi kalau menurutku semestinya Tuan gak perlu bingung antara pulang atau tidak, kan Nyonya Putri juga Istri sah tuan jadi sudah sepantasnya Tuan menemaninya apalagi sekarang kan kondisi Nyonya masih belum cukup stabil dan lagi dalam kondisi mengandung juga. Jadi alangkah baiknya lebih baik Tuan tetaplah disini sampai esok," ujar Gibran mencoba meyakinkan Revan.

__ADS_1


"Baiklah aku akan menetap disini. Dan aku akan pulang esok hari, kondisi kamu lagi kurang enak jadi lebih baik kamu masuklah jangan masuk angin kasihan sama janin yang kamu kandung ini," ucap Revan yang mengajak Putri untuk masuk.


"Baiklah kalau itu sudah jadi keputusan kamu," balas Putri.


"Terus kenapa kamu masih ada disini kenapa kamu tidak kembali ketempat paviliun kamu?"


"Disana lagi bocor cukup serius Tuan. Bahkan yang lebih parahnya lagi tepat diatas ranjang bocornya lumayan parah tadi aja sampai aku taroh baskom gede disana biar airnya tidak melebar kemana-mana," jelas Gibran.


"Iya aku sampai lupa memang paviliun itu sudah sedari dulu mengalami bocor yang parah. Dan aku lupa tidak menyuruh orang untuk membenahinya ya sudah kamu tidurlah dikontrakkan ini tapi ruangan mana yang akan kamu buat tidur?"


"Nyonya yakin?"tanya Gibran.


"Iya saya yakin masuk dan tidurlah ini juga lagi hujan deras jadi aku rasa dia tidak akan datang," balasnya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu kamu cepat masuklah. Aku juga ingin masuk karena sudah cukup ngantuk sekarang," ucap Revan.


"Baiklah kalau gitu aku akan menempati ruangan ini terima kasih Nyonya, selamat malam," ucap Gibran yang berlalu ia terlebih dulu masuk kedalam kamar itu, sedangkan Revan mau pun Putri nampak terlihat canggung.


"Syukurlah aku sampai dikediaman Kak Putri, tapi apa Rumah kak Putri sudah dikunci karena aku lupa tidak memberitahunya tadi kalau aku ingin menginap disini? Tapi aku rasa dia tidak akan marah kalau aku asal masuk! Kan Kak Putri sudah memberikan kunci cadangan rumah itu ke aku yang sewaktu-waktu akan menginap jadi gak papa lagi," ucap Milli, tak lama ia sampai tepat didepan pintu.


"Alangkah lebih baik aku ketok pintunya dulu siapa tahu Kak Putri belum tidur," ucap Milli.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


"Assalamualaikum Kak Putri ... Assalamualaikum ... Tok ... Tok ... Tok Kak ... Aku rasa Kak Putri sudah tidur jadi lebih baik aku buka sendiri aja," ucapnya kemudian ia membuka pintu itu dengan kunci cadangan yang ia bawa.


BERSAMBUNG.


__ADS_2