
"Sayang kayaknya melihat amarah yang ditunjukkan Revan pada gadis sialan itu. Mama punya ide gimana caranya menyingkirkan dia dari rumah ini sekaligus membuat Revan tambah membencinya?"timpal Mamanya beralih Nina pun menatapnya dengan tatapan bingung.
"Maksud Mama apa? Apa Mama punya ide licik untuk mengusirnya dari Rumah ini? Apa cara itu tidak terlalu berlebihan?"timpal Nina lagi.
"Sayang sekarang bukan saatnya kasihan atau pun mengalah, dia sudah berani merebut suami kamu sekaligus perhatiannya darimu apa kamu masih ikhlas jika suatu saat nanti ia akan merebut Revan sampai-sampai Revan tidak akan perduli lagi dengan kamu sama sekali?"jelas Mamanya.
"Iya Nina tahu Ma, tapi aku tahu jelas seperti apa Revan. Jika ia tahu kita punya rencana licik gimana tanggapan dia, Nina takut dia akan tambah membenci Nina dan bisa-bisanya ia malah berniat menceraikan Nina tidak Nina tidak mau Ma, Nina tidak mau," ucap Nina dengan raut wajah sedihnya.
"Sayang lihat dan percaya pada Mama. Mama tidak akan membiarkan semua itu sampai terjadi pada dirimu.Jika ada seseorang yang akan bercerai seseorang itu adalah Putri bukan dirimu jadi percayalah pada Mama kamu harus percaya sayang.
"Tapi Ma,"timpal Nina lagi.
"Sudah percaya aja ya.
"Baiklah Ma," balasnya yang nampak miring.
Raut wajah yang terlihat dipenuhi dengan amarah yang menggebu-gebu. Putri yang tadinya berfikir akan mendapatkan hukuman besar dari Revan tapi ternyata semua dugaannya pun salah.
Membawa Putri disalah satu taman yang terlihat ramai dan indah, ditambah lagi hiasan lampu kelap-kelip yang menjalar pada semua batang pepohonan di taman membuat Putri yang tadinya diselimuti kecemasan dan ketakutannya, kecemasan itu pun seketika menghilang setelah Putri sadar jika dugaannya sangat berbeda dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Melihat wajahmu yang nampak memerah dan dipenuhi dengan amarah tadi, aku kira kamu akan marah dan menghukum-ku, tapi kenapa kamu malah membawa-ku kesini?" tanya Putri kemudian Revan pun membalasnya.
__ADS_1
"Kenapa Put? Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau Rafa telah menikah dengan Monika saudara kamu itu. Kenapa kamu hanya diam melihat mereka bahagia sedangkan diri kamu sendiri sangatlah menderita kenapa?"tanya Revan tanpa pandangannya yang menatap langsung kearah Putri.
"Darimana kamu tahu kalau mereka sudah menikah siapa yang sudah memberitahu-mu?"tanya balik Putri.
"Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan mereka disalah Restoran. Dan aku melihat dia sangat bahagia bahkan terlihat dari raut wajahnya dia tidak sedikitpun memikirkan keadaan-mu kenapa? Kenapa semua ini bisa terjadi dan anak yang ada dikandungan-mu siapa sebenarnya ayah dari anak ini?"
"Sama seperti yang aku bilang kemaren ini kehidupan-ku dan ini juga permasalahan-ku jadi aku cukup aku saja yang mengalaminya sedangkan kamu? Aku tidak mau kamu ikut campur dalam masalah ini.
"Putri lihat aku. Aku adalah Suami-mu jadi sudah sepantasnya kamu bercerita padaku tentang siapa ayah dari anak yang kamu kandung ini. Aku sadar pernikahan kita hanya atas dasar paksaan tapi kamu tidak bisa merahasiakan siapa ayah dari anak kamu dariku jadi cepat katakan ayo katakan.
Cengkraman yang dilakukan Revan nampak membuat raut wajah Putri terlihat tambah tertekan. Akan tetapi ia sadar apa yang Revan lakukan bukanlah ada niat jahat untuk menyakitinya. Merasa sangat bersalah berada di kehidupan antara mereka, Putri sangat bersikeras untuk tidak mau mengakuinya siapa ayah dari anak yang ia kandung saat ini biar pun Revan sendiri yang terus memaksa dan memaksanya tanpa henti.
"Kenapa kamu jadi memaksa-ku seperti ini, aku tidak mau aku tidak mau,"
"Baiklah aku bakal kasih tahu kamu anak yang aku kandung ini memang benar Rafa-lah ayah kandung dari anak ini karena sebuah kejadian tak sengaja terjadi, ia menodai-ku dan akhirnya aku hamil sekarang tapi percuma aku meminta pertanggung jawaban darinya jika dia sendiri tidak sadar pada saat melakukan itu, dia dalam kondisi mabuk jadi percuma aku menjelaskannya sedangkan Mama mau pun Monika mereka sama-sama tidak ada yang mempercayai-ku.
"Sudah aku duga pria itu memang pria bajingan baiklah kalau kamu tidak berani meminta pembelaan biar aku sendiri yang menyeretnya untuk mau mempertanggung jawabkan perbuatannya ini.
"Percuma Revan, percuma kamu bersikeras membelaku pada ujung-ujungnya mereka tidak akan pernah percaya sedangkan mereka bukanlah orang biasa aku tidak mau membahas masalah ini lagi biar aku sendiri yang membesarkan anak ini aku tidak mau berbuat masalah lagi dengannya jadi aku mohon jangan, jangan bahas lagi soal ini aku mohon!"
"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat ini, dia sudah bahagia dengan kehidupannya sendiri sedangkan kamu? Kamu malah sebaliknya, kamu malah menangis akibat menanggung semua penderitaan dari ulah si brengsek itu.
__ADS_1
"Tuhan tidak tidur dan suatu saat nanti aku yakin pasti bakal ada penolong yang mau menolong-ku, jadi sudahlah lupakan itu. Besok surat perceraian kita sudah jadi, jadi kamu sudah siap kan mendatangi surat perceraian itu?"
Mendengar pertanyaan yang dilontarkannya, jawaban Revan hanyalah terdiam tak berkutik seolah-olah ada sesuatu yang ia pikirkan saat ini.
"Kenapa kamu diam Revan kamu mau kan menanda tangani surat itu? Kita sudah sepakat jadi aku harap kamu tidak akan menambah lagi penderitaan-ku ini?"
"Kamu lihat besok aja yang terpenting aku kita pulang sekarang," ajaknya yang langsung menarik tangan Putri untuk ia ajak pergi.
SEKALIAN MAAF IJIN PROMO KARYA TEMAN-KU YA CERITANYA SANGAT SERU DAN PASTINYA SANGAT SAYANG UNTUK DILEWATKAN YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰🥰🥰
BERIKUT BLURBNYA
Nama ku Husna Almaida yang akrabnya di panggil Alma. Aku seorang kepala divisi di salah satu perusahaan industri, yang berkembang di dunia gadget/Smartphone. Banyak orang yang mengakui kecantikan ku, meskipun aku sehari-hari memakai hijab.
Di usia ku yang terbilang sudah matang, aku baru memutuskan menikah dengan seorang pria yang juga bekerja di perusahaan tempat ku bekerja.
Kami menikah, dan hingga beberapa tahun aku tidak kunjung hamil, lalu suami ku berselingkuh dengan pembantu di rumah ku sendiri.
Hati wanita mana yang tidak sakit, saat melihat suaminya sendiri bercinta dengan wanita lain di ranjang yang biasa aku gunakan saat melakukan hubungan dengan suami ku. Akankah aku bisa memaafkan suami ku atas segala kesalahannya? Atau aku lebih memilih bercerai dan hidup menjanda?
__ADS_1
BERSAMBUNG.