
Setelah perginya Revan, ternyata semua ini hanyalah akal-akalan Mamanya, ia berpura-pura terkena serangan jantung agar Revan merasa bersalah dan akhirnya dia pun mau menerima semua permintaan yang akan ditujukan oleh Mamanya sendiri.
"Revan ... Revan, Mama tahu kalau kamu itu orang yang paling tidak suka dengan adanya paksaan, tapi Mama juga tahu kalau kamu itu paling tidak tega kalau melihat mama mu ini sampai terluka, dan ternyata ada untungnya juga mama berpura-pura kena serangan jantung seperti ini. Karena dengan begini kamu pasti akan mau menerima semua permintaan Mama termasuk perjodohan yang akan Mama pilihkan nanti tanpa tak terkecuali lagi!" batin Mamanya yang dengan senyum sinisnya.
Sedangkan Revan yang tidak mengetahui rencana licik Mamanya, dengan berat hati dia pun akhirnya menerima perjodohan ini, walaupun sebenarnya hatinya sangat terluka sekaligus hancur, Karena tidak tau harus berbuat apa sekarang.
Seperti orang yang lagi kehilangan akal, akhirnya untuk pertama kalinya Revan pun pergi kesebuah bar yang dimana disana penuh dengan minuman-minuman keras, agar dia bisa menghilangkan rasa bersalah sekaligus sedihnya. Dia pun meminum-meminum yang tak seharusnya dia minum. Hampir lima botol Revan menghabiskan semua minuman itu perlahan-lahan minuman alkohol itu pun mulai berhasil membuat kesadaran Revan berkurang.
"Dunia ini tidak adil! Kenapa aku harus merasakan kehidupan yang penuh dengan sandiwara dan paksaan seperti ini kenapa!"ucap Revan yang sembari meminum-minuman itu.
Berjalan dengan sempoyongan Revan terlihat hilang kendali akan minuman beralkohol tersebut. Bahkan dirinya yang hendak ingin masuk kedalam mobilnya terlihat kebingungan.
Entah suatu kebetulan, Milli yang sedang berjalan kaki sehabis membeli sesuatu pandangannya dikejutkan dengan tanpa sengaja melirik kearah sesosok laki-laki yang sedang kebingungan mencari kunci mobilnya.
"Itu kan Si Revan apa yang dia lakukan?"gumamnya yang langsung ia pun menghampirinya.
"Astaga Revan apa yang terjadi denganmu kenapa kamu bisa mabuk seperti ini?"ucap Milli, spontan ia menangkap Revan yang hampir terjatuh.
"Astaga Revan kamu benar-benar sedang mabuk berat?"tanyanya tapi Revan tapi menghiraukannya.
"Dimana kunci-kunci ku aku ingin pulang dimana dia!"ucapnya, kemudian Milli melihat kunci mobil yang terjatuh dibawahnya.
"Astaga memang susah ya kalau orang yang lagi mabuk itu,"timpal Milli yang kemudian tanpa berkata lagi ia segera membantu Revan untuk masuk kedalam mobilnya.
"Mumpung aku baik aku akan mengantarkan kamu pulang jadi berterima kasihlah padaku."
"Aku tidak ingin pulang ke rumahku, jangan bawa aku pulang kesana jangan!"
"Apa maksudmu itu kan rumahmu?"
"Bawalah aku ke tempat kos-kosan itu lebih baik,"timpalnya yang sedikit mengigo.
Ketika Revan bilang jika dia tidak inggin berpulang kerumahnya, memintanya untuk mengantar disalah satu kos-kosan miliknya. Akhirnya Milli pun membawa Revan ke kos-kosan tersebut, setelah menempuh perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka pun sampai juga di kos-kosan tersebut. Kemudian Milli yang melihat Revan sudah mulai kehilangan kesadarannya dia pun membaringkan tubuh Revan keatas ranjang tempat tidur.
"Ya sudah karena tugasku sudah selesai untuk mengantarmu ketempat ini, sekarang sudah tidak ada alasan untuk aku tetep berada disini. Jadi beristirahatlah!"
__ADS_1
ucap Milli yang akan berlalu pergi meninggalkan kamar ini.
Akan tetapi pada saat Milli yang hampir saja mau pergi, tiba-tiba Revan menggenggam/menarik tangan Milli yang seakan-akan ia sedang berhalusinasi jika seseorang yang ada dihadapannya adalah Putri. Melarangnya untuk jangan meninggalkannya. Melihat apa yang dilakukan Revan, Milli pun terkejut.
"Putri aku mohon jangan pergi aku sangat membutuhkan mu aku mohon jangan pergi! Jangan pergi!"
Melihat tangannya yang digenggam erat oleh Revan, sesekali Milli pun berusaha untuk melepaskan genggaman tangan itu.
"Revan sadarlah aku bukanlah Putri gak seharusnya kamu mencegah ku seperti ini sadarlah! Lepaskan aku! Lepaskan tangan ku Revan lepaskan aku!"
"Gak aku akan pernah lepasin kamu Put! Selama ini aku sudah sangat menyesal melepaskan kamu. Aku tidak ingin terlalu lama menunggumu, Jadi aku gak akan pernah melepaskan kamu yang kedua kalinya tidak! Aku mohon jangan pergi!" Jawab Revan yang dalam kesadaran agak berkurang.
"Kamu sekarang baru sadar setelah apa yang telah kamu lakukan padanya? Kamu baru sadar setelah kamu melepaskan berlian berharga itu, tapi ingatlah percuma kamu bersikeras ingin meminta permohonan maaf karena hati yang sudah terlalu terluka akan sulit untuk bisa disembuhkan jadi terimalah nasibmu Revan! Terimalah!"ucap Milli yang tanpa berkata ia langsung mengigit pergelangan tangan Revan untuk menolong dirinya sendiri. Setelah Revan yang melepaskannya Milli segera mendorong tubuh Revan hinga tubuh itu pun tersungkur ketempat tidurnya.
Berniat bangkit ingin mengejar Milli yang masih ada dihadapannya. Langkah Revan seketika terhenti setelah ia merasakan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya, memegang kepalanya dengan sangat erat. Bahkan raungan teriakan meringis kesakitan berpadu jadi satu yang membuat Milli yang masih dihadapannya dibuat bingung akan perilaku yang dilakukan Revan.
Berniat ingin menghampirinya tapi apa daya Milli tidak berani untuk melakukan tindakan itu.
"Ah kepalaku! Kepalaku ah ....!"
"Revan! Kamu kenapa? Revan jangan membuatku panik Revan kamu kenapa?"tanya Milli yang berjaga-jaga.
Merasa tubuhnya tak tahan lagi dengan rasa sakit yang sedang ia derita. Perlahan-lahan pejaman mata Revan tertutup setelah tubuhnya yang tersungkur tidak sadarkan diri.
"Untungnya aku bisa berhasil keluar dari dalam sana coba saja kalau tidak, aku mungkin tidak akan bisa membayangkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya tapi gimana dengan Revan? Dia tadi seperti sedang mengerang kesakitan apa dia sungguh-sungguh sedang sakit atau hanya berpura-pura saja? Sudahlah jangan pikirkan tentang itu, dia sakit mungkin karena efek dari minuman keras yang barusan ia minum ia itu mungkin penyebabnya jadi sudahlah aku pergi saja ini udah malam."Bergegas pergi meninggalkan kediaman ini, Milli tidak menyadari jika Revan memang sungguhan sedang kesakitan ia dengan santainya pergi tanpa mengecek keadaannya terlebih dulu.
Hari berlalu dengan begitu cepat, pagi yang tadinya cerah tanpa ada awan mendung yang menandakan akan adanya hujan yang akan melanda. Kini malam awan mendung mendukung akan suasana gelap gurita lan sejuk ini. Masih terbaring tergeletak tidak sadarkan diri, gerakan jari tangan dari seseorang itu perlahan-lahan mulai akan menyadarkan dirinya. Mata yang perlahan-lahan terbuka dengan pelan telah menunjukkan jika dirinya akhirnya tersadar setelah beberapa jam tergeletak tanpa adanya seseorang yang mengetahuinya.
Segera bangkit, memegang kepalanya lantaran masih sedikit pusing, ia kemudian terduduk diperbatasan ranjangnya.
"Apa yang terjadi denganku kenapa aku bisa ada disini? Bukankah tadi aku ada di Klub? Siapa yang membawaku kemari?"tanyanya yang masih terlihat bingung. Tak lama dering ponsel terdengar yang mengejutkan akan lamunannya.
📞" Iya Ma ada apa?"
📞"Revan kamu ada dimana kenapa kamu tidak menjenguk Mama lagi? Mama sendiri di Rumah sakit tadi jadi akhirnya Mama urungkan niat Mama untuk pulang lebih cepat kamu dimana sayang?"
__ADS_1
📞" Revan sekarang tidak bisa menjenguk Mama, jika kondisi Mama masih belum stabil kenapa Mama masih memaksakan diri untuk pulang, jadi lebih baik saran Revan Mama disana dulu aja demi kesembuhan Mama?"
📞"Tidak Revan Mama sangat bosan disini, Mama sudah lumayan membaik jadi kamu tidak perlu pedulikan kondisi Mama. Jika hari ini kamu masih ada tugas gak papa kalau Mama sendiri di Rumah yang penting kamu selesaikan tugas kamu dulu ya sayang."
📞"Baiklah Ma terima kasih karena Mama sudah mengerti akan kondisi Revan, Revan cukup capek jadi mungkin baru besok Revan bisa kembali."
📞"Baiklah sayang tidak apa-apa jaga diri kamu baik-baik."
📞"Iya Ma selamat malam."
📞"Selamat malam juga sayang."
Kadang aku berfikir dunia ini cepat sekali berputar, kadang dibawah kadang juga diatas. Ada yang bahagia kini bahagia itu hanya tinggal bayangan dan dengan cepat telah berubah menjadi kesepian dan kekecewaan yang akhirnya membuat hati ini akan sangat sulit untuk menyampaikan rasa rindu itu.
Apa aku masih pantas untuk mengatakan rasa rindu jika aku sekarang sangat merindukan akan dirinya. Setelah apa yang aku lakukan kepadanya dan mencampakkannya begitu saja. Aku rasa aku tidak pantas untuk mengatakan hal itu lagi.
Termenung meratapi nasibnya, memperhatikan pemandangan indah nyatanya tidak membuat hidupku cerah seperti yang aku inginkan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Mama? Mama kenapa ada disini bukankah Mama masih belum sembuh total?"
"Revan sayang Mama sekarang sudah cukup ada tenaga . Apalagi setelah kedatangan calon menantu baru Mama membantu Mama bisa secerah dan sebahagia seperti sekarang ini!"ucap Mamanya dengan membanggakan Wanita disampingnya.
"Menantu? Menantu gimana maksud Mama?"
"Revan, kamu sendiri yang bilang pada Mama kalau kamu sudah siap dengan semua permintaan Mama. Kamu bilang sendiri jika kamu tidak ingin melihat Mama terluka jadi ini yang Mama mau? Mama ingin kamu menikah dengan Salsabila. Mama akui Mama salah karena sempat menjodohkan kamu dengan Wanita yang ternyata seorang ******, tapi Mama yakin untuk keputusan Mama ini tidak akan salah lagi, Salsa ini Wanita baik-baik jadi kamu suka kan sama dia?"
"Ma, Revan tahu kalau Revan akan menyetujui semua permintaan Mama termasuk perjodohan yang Mama minta, tapi apa harus Revan menikah lagi pada tahun ini? Revan baru aja kehilangan Nina dan juga bercerai dengan Putri apa Revan secepat ini memutuskan membina rumah tangga baru lagi?"
"Revan kamu masih muda jadi pastinya kamu sangat membutuhkan seorang Wanita untuk jadi pendamping kamu. Biar pun kamu baru aja bercerai mau pun kehilangan seseorang yang sangat kamu cintai, kamu masih punya hak untuk mendapatkan kebahagiaan jadi Salsa inilah Wanita terbaik yang Mama sangat setuju jika kamu berhubungan dengannya kamu mau ya?"
"Berikan Revan waktu untuk memikirkan hal ini. Revan ingin mempersiapkan diri Revan dulu jadi kasih waktu dua hari untuk Revan bisa memikirkannya. Oh iya besok Revan ada tugas keluar negeri dan Revan butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikannya jadi Mama gak keberatan kan kalau Revan tinggalkan Mama sendiri di Jakarta. Ada Salsa yang bisa Mama minta tolong untuk menemani Mama nanti kamu bersedia kan Sal?"
"Tapi Revan aku ... Baiklah Ku bersedia menemani Mama kamu,"balasnya nampak pasrah.
__ADS_1
"Baiklah terima kasih karena kamu sudah mau membantuku,"balas Revan.
BERSAMBUNG.