JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
PENGEROYOKAN 2


__ADS_3

Kerumunan orang terlihat mengerubungi sesuatu yang membuat pandangan mereka terhenti dari langkahnya. Entah suatu kebetulan tak jauh, berbeda dari tempat kejadian saat ini Gibran yang sedang melajukan mobilnya ia dibuat penasaran setelah melihat kerumunan orang-orang yang terlihat menyaksikan sesuatu. Memperhentikkan laju kendaraannya.


"Ada apa disana? Kenapa orang-orang pada berkerumun apa telah terjadi sesuatu? Apa barusan ada kecelakaan yang terjadi?"ucapnya segera ia menghentikan laju kendaraannya ke-tepi jalan. Dan bertanya pada salah satu warga yang kebetulan lewat dari jalanan ini.


"Maaf Mas kalau boleh tahu disana ada apa ya? Kenapa saya perhatikan orang-orang terlihat pada kebingungan apa disana habis ada kecelakaan?"


"Tidak Mas, itu ada korban pengeroyokan sesama mahasiswi. Dan yang lebih parahnya lagi yang jadi pelaku mengeroyok itu seorang 2 perempuan dan 1 laki-laki sendiri dan korbannya terlihat lemas tidak berdaya setelah mendapat pukulan bertubi-tubi barusan," jelas warga.


"Apa korban pengeroyokan seorang cewek?"tanya Gibran.


"Iya Mas seorang cewek," balas seseorang itu.


"Dasar itu laki-laki pengecut atau apa bisa-bisanya ia menghakimi seorang Wanita?"kesal Gibran.


"Iya Mas dia seorang cewek kasihan sekali, kita sudah mencoba memangil ambulans tapi sampai sekarang belum kunjung datang, belum lagi korban dalam keadaan lemas dan tidak sadarkan diri jadi kita tidak mungkin menanyakan dimana anggota keluarganya," jelas orang itu lagi.


"Apa ponsel atau identitasnya tidak ditemukan?"


"Hanya ada KTP aja mas yang tersisa disana saya rasa ini bukanlah korban perampok soalnya semua barang berharga milik korban masih ada,"jelasnya lagi.


"Ya sudah kalau Ambulan belum datang biar saya aja yang mengantarnya ke Rumah sakit kebetulan saya tidak lagi terlalu sibuk."


"Baiklah terima kasih Mas."


"Ya sudah saya bantuin korban untuk mengangkatnya."


Langkah Gibran yang mulai mendekati arah kerumunan itu. Pandangan Gibran seketika dikejutkan dengan adanya sesosok Wanita muda yang terlihat babak belur tidak berdaya terkapar dipinggir jalan setelah para warga yang mengangkatnya tadi.


Pandangannya yang tadinya nampak biasa tidak diselimuti dengan rasa kepanikannya kini rasa panik itu seketika hadir dalam benaknya.


"Astaga Milli?"ucap Gibran yang langsung berlutut memeriksa keadaannya.


"Mas kenal dengan wanita ini?"tanya salah satu warga.


"Iya saya kenal kebetulan dia itu teman saya, ya sudah biar saya yang mengangkatnya," ucapnya segera Gibran langsung mengangkat tubuh Milli tanpa ada seorang yang menyuruh.


Memasukannya kedalam mobil, Gibran terlihat panik dan segera ia melajukan kendaraannya cukup tinggi.


Dalam perjalanannya Gibran yang masih sibuk fokus melajukan kendaraannya, suara dering ponsel terdengar nyaring. Dengan tangan kanannya Gibran akhirnya mengangkat telfon itu.


"Gibran kamu dimana kenapa sampai sekarang kamu belum datang kamu lupa dengan siapa kamu bekerja saat ini?"


"Maaf Tuan aku telat, tadi pada saat menuju ke-kantor aku tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang menjadi korban pengeroyokan dan apa Tuan tahu siapa korban itu?"


"Memangnya siapa korban itu?"

__ADS_1


"Milli! Dia yang jadi korban pengeroyokan itu entah apa yang terjadi sehingga dia mengalami hal macam seperti ini apa Tuan bisa memberitahu Nyonya Putri saya rasa Nyonya berhak tahu soal ini?'


"Baiklah aku akan memberitahu Putri soal ini, kamu tetaplah disana sampai kita datang oke."


"Siap Tuan."


"Ini anak sebenarnya apa sih permasalahan-nya bisa-bisanya ia mengalami pengeroyokan seperti ini apa dia mencoba cari masalah dengan seseorang?"ucapnya dengan sesekali ia melirik Milli, tapi Milli masih tak sadarkan diri.


Beberapa menit ia tempur dengan arus jalan yang lumayan padat, kini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit ia akhirnya telah sampai disalah satu Rumah sakit.


Mengendong dan melarikannya keruangan rawat, Gibran kemudian menunggu Dokter sampai selesai memeriksa keadaannya, beberapa menit kemudian Dokter Wanita itu pun keluar dan disambut Gibran yang sudah siaga didepan ruangan.


"Dokter gimana keadaan teman saya apa dia baik-baik saja?"


"Luka yang dialami pacar anda cukup memprihatikan. Pukulan yang ia alami tepat mengenai perutnya menjadikan luka memar pada bagian itu. Dan untung saja organ dalamnya tidak terjadi pembekakan mau pun pembekuan darah jadi masalah ini bisa secepatnya diatasi dan kita bisa memberi pertolongan dengan segera, tapi tetap awasi dan waspada jika gejalanya bulan berikutnya muncul karena ini baru pemeriksaan awal ya sudah saya pamit dulu."


"Baik Dok sekali lagi terima kasih. Tapi apa dia sudah bisa dijenguk kan?"


"Untuk saat ini dia masih belum kunjung sadarkan diri jadi beri dia waktu beberapa menit nanti dia juga akan siuman."


"Baiklah Dok sekali lagi terima kasih."


"Iya sama-sama mari saya tingal dulu."


"Baik Dok."


"Gimana Gibran apa yang terjadi pada Milli apa dia baik-baik saja? Dia tidak terluka cukup serius kan?"tanya Wanita itu yaitu Putri.


"Putri kamu yang sabar dulu biarkan Gibran menjelaskan ke-kita mengenai kondisi Milli!"


"Dokter bilang tidak ada luka yang cukup serius yang dialaminya jadi Nyonya tidak perlu cemas dia hanya jatuh pingsan,"ucap Gibran yang mencoba membuat Putri tidak panik.


"Kamu dengar kan Milli dia baik-baik saja jadi kamu jangan cemas ya!"ucap Revan.


"Astaga Milli bagaimana bisa kamu jadi seperti ini?"ucapnya tak lama salah satu Suster keluar dari ruangan itu.


"Maaf Sus apa pasien sampai saat ini belum kunjung tersadar?"tanpa Gibran yah menghentikan langkah Suster itu.


"Pasien baru aja tersadar beberapa menit yang lalu silahkan masuklah!"


"Baik Sus terima kasih,"ucapnya.


"Iya sama-sama mari saya tingal dulu."


"Baik Sus."

__ADS_1


"Ya sudah mendingan kalau Nyonya ingin menemuinya masuklah dia sudah sadar."


"Baiklah aku akan masuk aku sangat cemas dengan keadaannya."


Melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan itu. Milli terlihat sudah tersadar dan masih terbaring diatas.


"Milli sayang kamu gak papa kan? Gak ada yang sakit kan?"tanya Putri dengan membelai pucuk rambut Milli.


"Tidak ada apa-apa kok Kak aku hanya mengalami luka memar sedikit akibat pukulan tadi nanti juga akan sembuh."ucap Milli langsung.


"Terus kenapa kamu memakai masker seperti ini!"


"Aku agak flu jadi alangkah baiknya aku mengunakan masker biar kalian tidak dapat tertular nanti."


"Apa itu masuk akal? Jujur lagi kamu memakai masker biar kita tidak tahu luka memar di-wajah kamu kan?"sahut Gibran.


"Tidak. Aku tidak bohong,"timpalnya.


"Kamu pasti bohong!"sahut Putri yang langsung menarik masker itu.


"Kak jangan!"


Berusaha Milli menghalangi Putri untuk tidak membukanya. Langkah dan tarikan Putri sudah keduluan ia lakukan yang akhirnya dengan mata tel4n*4ng ia melihat wajah memar yang terdapat pada wajah Milii. Milli yang melihat Putri sudah mengetahui keadaannya ia kemudian hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Astaga Milli siapa yang setega ini berbuat kasar seperti ini? Ini bukan hanya pemukulan tapi ini lebih tepatnya sudah jadi kekerasan apalagi sama seorang Wanita cepat katakan siapa yang melakukannya?"tegas Putri dengan wajah kepanikannya.


"Sudahlah jangan dibuat serius masalah ini, lagian ini hanya masalah kecil aku gak papa kok nanti juga akan sembuh. Soal pelaku yang sudah mengeroyokku alangkah baiknya kita jangan bersangkutan lagi karena dia Putri dari orang yang sangat disegani jadi aku tidak mau diantara kalian ada yang kena masalah gara-gara aku jadi lupakanlah!"


"Tapi Milli apa yang sudah dia lakukan sudah sangat keterlaluan. Ini bukan hanya candaan mau pun prank tapi ini sudah jadi kekerasan kamu lihat wajah kamu babak belur seperti ini? Belum lagi perut kamu aku tahu pasti disana juga ada banyak luka memar kan jadi apalagi yang kamu lindungi dari mereka?"timpal Gibran kemudian.


"Sebenarnya awal mula aku dikeroyok juga karena kesalahaan aku sendiri sih," ucap Milli dengan menundukkan kepalanya.


"Memangnya kamu melakukan kesalahaan apa?"tanya Revan.


"Kan tadi pagi di-kampus ada korban perundingan gimana ada satu mahasiswi yang dibully oleh mereka, tapi karena aku tidak tahan dengan sikap mereka aku melaporkan mereka yang akhirnya mereka pun dihukum. Dan pengeroyokan ini terjadi juga aku rasa mereka berniat ingin balas dendam dan mereka sebenarnya juga teman lamaku jadi itulah alasan aku tidak mau memperpanjang masalah ini." timpal Milli.


"Terus jika kamu teman dari mereka apa kamu masih punya hak untuk melindungi seseorang dari musuh-mu sendiri? Apalagi seseorang itu sudah berbuat kriminal seperti ini?" tanya Revan.


"Intinya aku tidak mau membahas dan memperpanjang masalah ini itu aja


"Apa kamu merasakan sakit sekarang?"tanya Putri tapi Milli yang hanya menggelengkan kepalanya.


SEKALIAN MAAF IJIN PROMO KARYA TEMAN-KU YA CERITANYA SANGAT SERU DAN PASTINYA SANGAT SAYANG UNTUK DILEWATKAN YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰🥰


__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2