
Pagi yang cerah telah menampakkan sinarnya untuk menyinari alam semesta ini. Sesosok gadis cantik berkulit putih, dengan rambut panjang yang dimilikinya membuatnya terlihat sangatlah cantik.
Apalagi bibir merah jambu yang ia miliki nyatanya mampu menenggelamkan gairah yang amat sangat bagi seseorang pria yang melihatnya.
Masih tertidur pulas dengan balutan selimut yang masih terbalut tubuhnya membuatnya sangat nyenyak dan berlarut dalam mimpinya.
Langkah seseorang yang mulai datang menghampiri si gadis yang masih tertidur pulas itu. Langkah itu semakin mendekat dan terus mendekatinya.
"Ternyata dia kalah dipandangi dalam keadaan tertidur gini tak kalah cakep juga. Bahkan bisa dibilang dia sangat manis dan cantik," batin seseorang itu yang tak lain adalah Gibran, mendapati Milli yang masih tertidur ia tidak segera langsung membangunkannya malah memandangnya dengan tatapan senyum yang terukir dari senyum manisnya.
Tersadar akan ucapan apa yang barusan ia katakan barusan. Gibran dengan sigap ia langsung menjitak kepalanya sendiri berharap apa yang barusan ia ucapkan hanyalah sebuah mimpi.
"Astaga Gibran apa sih yang ada dipikiran kamu ini? Bagaimana bisa kamu memuji wanita seperti ini? Dan bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan kata cantik yang benar saja," ucapnya yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan Milli yang mendengar akan suara kedua matanya perlahan-lahan terbuka, mendapati Gibran yang ngoceh-ngoceh sendiri ia langsung menimpali pembicaranya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila?"tanya Milli beralih Gibran menatapnya.
"Kamu bisa gak sih kalau ngomong dijaga, kamu baru sadar kenapa dengan mudahnya bilang kata gila?"
"Lagian kamu kan sendirian jadi ngomong sama siapa tadi Kalau bukan sama hantu, atau gak ya kamu gila makanya aku asal ceplos," timpalnya.
"Sudahlah terserah cepat kembalilah tidur jangan menganggu waktuku," timpal Gibran lagi.
"Baiklah," balas Milli yang akhirnya tanpa berkata ia kembali memejamkan kedua matanya.
Merasa tidak tenang, akhirnya Milli pun memutuskan untuk terbangun dari tempat tidurnya. Dan membawa sebuah selimut yang kemudian dia pun berjalan menuju kesofa dimana Gibran tidur disana.
"Yahh dia rupanya sudah tertidur, baiklah biar aku sendiri yang menyelimutinya?" ucap Milli yang kemudian tanpa berfikir dengan apa yang dia lakukan saat ini, dia pun memasangkan selimut ini untuk menutup tubuh Gibran agar tidak kedingginan, ataupun diganggu sama si nyamuk.
Merasa ada seseorang disampingnya, Gibran yang belum sepenuhnya tertidur pun seketika bangun. Dan terkejut siapa seseorang yang ada dihadapannya saat ini.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Gibran secara tiba-tiba.
"Astaga kamu ngagetin aku saja?" balas Milli yang terkejut.
"Apa kamu kawatir sama aku?"
"Hhh kawatir, ya enggaklah gila kali, kamu jangan GR aku memasangkan selimut ini ke kamu. Karena ... Karena ... Hanya sebatas rasa kasihan itu saja. Dan ti..tidak lebih ataupun kurang apa kamu mengerti?" balas Milli yang kemudian dia pun pergi kembali ketempat semula dengan diselimuti wajah yang merasa akan kecanggungan.
"Apa sih kamu Mil? Bagaimana bisa kamu lakukan itu padanya yang benar saja?"batinnya yang merasa kesal sendiri, sedangkan Gibran yang terlihat menatapnya Milli kembali membentaknya.
"Apa kamu lihat-lihat aku? Jangan menganggap jika apa yang aku lakukan tadi sebuah perlakukan istimewa atau lebih karena itu tidak akan pernah terjadi paham!"kesalnya yang langsung menutup wajahnya dengan selimut lantaran malu.
"Dasar malu-malu tapi mau aneh," batin Gibran yang akhirnya bisa tersenyum.
BERSAMBUNG.
__ADS_1