
Berhasil terbuka, Milli pun masuk, mendapati ruangan tamu yang sudah terlihat gelap gurita tanpa ada lampu penyinarannya, ia segera masuk kedalam ruangan yang sudah disiapkan Putri jika sewaktu-waktu ia ingin menginap.
"Kak Putri itu suka banget sih mematikan ruangan tengah seperti ini? Tapi jika aku nyalakan gak enak juga tapi ngomong-ngomong aku menyusup kaya gini kenapa aku merasa kaya maling ya? Tapi akan dulu kak Putri pernah bilang Milli sayang jika sewaktu-waktu kamu ingin menginap disini datanglah aku sudah siapkan ruangan spesial untukmu. Dan ini kunci cadangannya sayang. Iya dia sendiri yang bilang jadi gak papa lah kan intinya Kak Putri sudah memberi ijin kepadaku," gumam Milli dengan berita sendiri dan ia jawab sendiri.
Hendak akan masuk kedalam kamar itu, ia merasa bingung lantaran kamar yang terbilang tidak terkunci padahal biasanya ruangan ini selalu terkunci.
"Ruangan ini kenapa tidak terkunci? Pasti Kak Putri lupa tidak menguncinya sudahlah aku masuk aja udah ngantuk banget," ucapnya segera ia pun masuk perlahan-lahan ia pun masuk.
"Aku sudah ngantuk banget lebih baik aku langsung tidur ajalah, tapi ngomong-ngomong ini kamarku kok mati ya lampunya, apa mungkin lampunya harus diganti? Sudahlah aku mau tidur dulu, soal lampu besok kan bisa diurus."
Ucap Milli yang kemudian tanpa ada rasa curiga sama sekali, dia pun akhirnya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya diatas kasur tersebut. Lampu yang dalam keadaan mati yang akhirnya membuat pandangan Milli tidak bisa jelas sepenuhnya jika disamping terdapat-lah Gibran yang sudah tertidur nyenyak.
Melihat ada guling yang tertutup selimut dari ujung sampai bawah yang berada disampingnya, dia pun dengan sekejap langsung memeluknya dengan sangat erat. Karena bagi Milli guling bisa jadi teman untuk tidurnya.
Sedangkan Gibran yang sedari tadi sudah mulai tertidur pulas, seketika matanya pun terbuka lebar setelah dia merasa ada seseorang yang sedang memeluknya dengan sangat erat dari belakangnya. Membuka matanya secara perlahan ia mendapati tangan mungil yang terlihat tepat dari pandangannya.
"Siapa ini yang memelukku?" batinnya yang merasa takut.
Sedangkan Milli yang memeluknya sangking erat, ia tidak sengaja meraba-raba wajah Gibran yang terlihat ketakutan.
"Tunggu tapi kok ada yang aneh ya? Sejak kapan guling itu punya rambut ?" batin Milli yang kemudian dia pun akhirnya menyadarinya jika guling yang dia maksud tadi, bukanlah guling kesayangannya melainkan seseorang sungguhan.
Sama terkejut akhirnya mereka pun sama-sama beranjak dari tempat tidur itu. Dan berteriak sekeras mungkin.
__ADS_1
"Ah...
"Ah.....
"Siapa kamu? Apa jangan-jangan kamu hantu yang inggin tidur sama aku?" balas Milli yang berteriak secara nyeleneh.
"Siapa kamu? Berani-beraninya kamu menodai-ku siapa kamu?"teriak Gibran yang belum sadar. Lantaran lampu yang masih mati jadi pandangan keduanya tidak nampak jelas.
Mendengar ada suara teriakan yang sangat kencang, seketika Revan dan juga Putri pun masuk dan menyalakan lampu tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka, setelah mereka saling bertatapan muka.
"Kamu?" ucap Milli dengan wajah terkejutnya.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan apa kamu berniat ingin menodai-ku?"ucap Gibran dengan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Tidak. Siapa juga yang mau menodai-mu yang benar saja.
"Diam! Disini kamu yang salah jadi jangan mencoba untuk memutar balik fakta kamu paham!" bentaknya yang kemudian membuat Milli pun seketika terkejut, dan terfokus menatap kearah Gibran.
Sedangkan Putri mau pun Revan yang melihat mereka malah melamun, Revan pun berpura-pura batuk untuk membuyarkan lamunan mereka.
Uhuk..uhuk...uhuk..
"Kamu?" ucap Milli yang terkejut. Dan langsung menghempaskan tangan Gibran darinya.
__ADS_1
"Kak? Ini apa maksudnya kenapa dia bisa ada dikamarku?" tanya Milli yang seketika membuat Putri pun terkejut.
"Harusnya aku yang tanya sama kamu Mil sejak kapan kamu datang? Dan kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu berniat ingin menginap?"tanya Putri.
"Maaf aku tadi sebenarnya ingin memberitahu Kak Putri tapi aku lupa dan baru ingat beberapa menit yang lalu. Aku tadi sebelum masuk juga sudah berusaha mengetuk-ngetuk dan memberikan salam siapa tahu Kak Putri menjawab tapi Kak Putri tidak menjawab-jawab juga jadi aku kira Kak Putri sudah tidur," ucapnya dengan menundukkan kepalanya.
"Terus bagaimana caranya kamu bisa masuk ketika Rumah ini sudah terkunci dari dalam? Kamu gak mungkin memanjat dari genteng kan?"timpal Revan, berlalu Milli menunjukkan kunci padanya.
"Ini ... Aku membuka dengan kunci ini," balas Milli nampak malu.
"Baiklah kita akhiri permasalahan ini. Dan kita anggap permasalahan ini tidak pernah terjadi karena ini sesuatu yang terjadi karena tidak kesengajaan," balas Revan mencoba mengakhirinya, sedangkan Gibran tidak terima dengan cara perdamaian.
"Tidak. Aku tidak setuju Tuan dia sudah menodai-ku jadi mana mungkin aku bisa anggap masalah ini sebatas masalah kecil!"
"Astaga menodai-mu darimana? Nyentuh itu mu aja tidak jadi bagaimana bisa itu bisa disebut menodai-mu dasar gila!"kesal Milli.
"Ya sudah kalau kamu anggap si Milli sudah menodai-mu ya sudah minta dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yaitu dengan menikahi-mu," ledek Revan, Putri yang mendengar ia hanya menahan tawa sedangkan Gibran mau pun Milli yang mendengar secara bersamaan mereka langsung mual.
"Astaga menikahinya ogah! Aku gak mau amit-amit nikah sama Pria tidak waras kaya dia yang benar saja bisa-bisa aku tambah ketularan gila bersama dengan Pria aneh seperti ini!"ucap Milli secara blak-blak'kan.
"Hey kamu pikir aku mau apa nikah sama kamu Wanita gembrot bisa-bisa badanku bakal gepeng jika kena tindas Wanita gembrot seperti dia yang benar saja," ucapnya dengan membalikkan badannya.
"Dasar tiang listrik!"
__ADS_1
"Dasar gembrot!"
BERSAMBUNG.