JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
Kondisi memburuk


__ADS_3

Menyetujui permintaan rujuk yang dikatakan oleh Putri, Akhirnya setelah dua Minggu kemudian pernikahan mereka pun kembali terselengara dengan cepat .


Dengan balutan kebaya putih yang menghiasi tubuh Putri, Ditambah lagi dengan riasan yang gak terlalu berlebihan membuat kecantikan Putri terlihat sangat natural dan terlihat sangat cantik.


Akan tetapi dihari pernikahan yang sudah lama juga pernah ia lakukan Putri tidak bisa menghentikan air matanya yang terus-menerus membasahi pipinya.


Dia tidak tau apa ini air mata bahagia atau air mata kesedihan yang sedang dia rasakan saat ini. Melihat Putri yang sedang menangis, Mamanya akhirnya menghampirinya dan menenangkannya


"Sayang kamu kenapa nangis, Ini adalah hari bahagia kamu, Jadi kamu tidak boleh menangis seperti ini ya, usap air mata kamu gadis secantik kamu tidak pantas menangis seperti ini..jadi usap lah!"pinta Mamanya yang akhirnya mengusap air matanya.


"Ma ... apa yang aku lakukan ini benar, apa aku tidak terlihat bodoh karena melakukan semua ini?" tanya Putri pada mamanya.


"Kenapa kamu berkata seperti itu sayang, yang kamu lakukan ini sangatlah benar, sebagai seorang Mama yang melahirkan kamu? Mama mengatakan apa yang kamu lakukan ini sangatlah benar, jika Mama ada diposisi kamu, Mama juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan, Jadi jangan menangis ya, Penghulu dan para tamu sudah pada datang, Jadi kamu harus bersiap-siap sekarang, ingat jangan menangis lagi ya, Revan akan sakit jika ia tau mempelai Wanitanya menangis seperti ini Jadi usap lah!"ucap Mamanya sembari membantu mengusap air mata Putrinya.


"Baik ma, terima kasih ya ma, karena Mama sudah selalu ada disamping ku, terima kasih!" ucap Putri sambil memeluk Mamanya.


"Ya sudah, Sekarang sudah waktunya kamu untuk keluar, Jadi bersiaplah!"


"Baik ma!"


Pernikahan yang hanya terselenggara dan hanya mengundang beberapa tamu undangan,teman, keluarga dan penghulu.


Para tamu dan penghulu yang sudah pada datang, bisa merasa lega melihat Putri keluar dari kamarnya, berjalan turun tangga kamar dari lantai 2 dengan didampingi Mamanya, perlahan-lahan Putri pun berjalan menuju ketempat Revan yang sedari tadi telah menunggunya, biar pun pandangannya tak bisa menatap wajah cantiknya.

__ADS_1


Melihat penampilan Putri yang sangat cantik, semua mata pun tertuju padanya. Milli yang menjadi juru bicara lantaran Revan tidak bisa melihat akan kecantikan yang dimiliki Istrinya, Milli dengan senang hati membantu Revan untuk mengungkapkan semuanya.


"Revan lihatlah kakak ku sangatlah cantik pastinya kamu akan sangat bahagia bisa mendapatkan Istri seperti dirinya. Dan aku sudah sangat bahagia akhirnya kalian bisa bersatu lagi, Milli yang menyuruh Putri untuk duduk bersandingan dengan Revan , setelah duduk bersandingan Milli membantu memasangkan selendang putih diatas kepala masing-masing mempelai.


Milli yang melihat Kakaknya seperti ingin menangis karena terharu, ia memberikan pelukan semangat untuk kakaknya. Dan mengusap air matanya secara perlahan tanpa ada suara yang ia tunjukkan pada Pria disamping Putri.


"Apa ijab kabulnya sudah bisa dilakukan sekarang? Apa para mempelai juga sudah siap?"tanya sang penghulu.


"Iya kita sudah siap pak!"jawab Putri mau pun Revan secara bersamaan.


"Baik mari kita mulai ijab kabulnya sekarang,"balas penghulu yang langsung menjulurkan tangan kanannya pada Revan, kemudian Revan yang dibantu Gibran ia menjabat tangan penghulu tersebut.


Belum juga ijab kabul hendak dilakukan, belum juga Revan berkata sepatah kata lagi, tubuhnya tiba-tiba menjadi gemetaran, keringatnya yang tiba-tiba keluar.


Pandangan mata juga mulai rabun, rasanya sudah tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun lagi, melihat Revan yang sedari tadi terdiam dan orang-orang yang melihatnya tambah semakin panik.


Melihat Revan yang sedari tadi terdiam, Putri mau pun orang-orang yang lainnya pun terkejut setelah melihat kondisi Revan yang mulai drop.


Lantaran tak mampu menahan dirinya, yang akhirnya membuat dirinya pun terjatuh dipangkuan Putri. Melihat hal ini tidak ada kata lain yang bisa diucapkan oleh Putri terkecuali dia hanya bisa menangis.


"Revan kamu harus kuat ini demi aku kamu harus kuat! Kamu harus kuat!"ucap Putri mencoba menahan tangisannya.


"Tuan harus kuat, tuan harus kuat menahan rasa sakit ini jangan buat kita harus kehilangan seseorang seperti Tuan, tuan harus kuat saya yakin tuan pasti kuat!"ucap Gibran dengan menahan cengkraman tangan Revan yang sedari tadi mencengkeramnya.

__ADS_1


"Aku tau ramuan itu pasti ada hasilnya aku yakin kamu pasti kuat! Aku mohon bertahanlah, aku mohon bertahanlah aku mohon!"ucap Milli yang memberikan dukungannya dengan mencengkram pergelangan tangan kanan revan.


"Bantulah aku untuk mengucapkan kata syahadat, dan menyelesaikan ijab kabul ini aku mohon bantulah aku?"ucap Revan dengan suara rintihannya.


"Baiklah Tuan aku akan membantumu,"balas Gibran yang langsung membangkitkan tubuh Revan, menahan tubuh Revan agar tidak kembali terjatuh.


"Pak tolong bisa bimbing saya mengucapkan ljab kabul itu?"


"Baiklah mari,"balas penghulu dengan wajah kasihnya.


Menjabat tangan pengantin Pria, suara penghulu dengan lancar telah menyebutkan kata-kata itu, dan dengan lancarnya Revan mengikuti semua arahan yang dilakukan penghulu


''Sah ...''


Revan mengucapkan ijab kabul tanpa satu cela sedikitpun, membuat semua yang hadir di sana mengucap kata 'sah' secara bersamaan dan di iringi suara riuh tepuk tangan berdampingan dengan air mata yang mulai menjatuhi dari semua penerima tamu.


Wajah Revan terlihat begitu sangat bahagia, namun, berbeda dengan pengantin wanita yaitu Putri, ia menundukkan kepala menitikkan air matanya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang ia inginkan akhirnya hari ini ia mampu menggapainya biar pun keinginannya sudah seperti diujung tanduk .


Rasa sakit yang semakin tidak tertahan telah ia rasa, dengan berusaha ia mendekap dan terus mendekap tubuhnya yang seketika mati rasa bahkan tenaga berbicara yang sedari tadi ia keluarkan untuk bertahan.


Pelan-pelan tubuh Revan akhirnya merosot kebawah dan pelukan yang ia lakukan perlahan-lahan mulai terlepas kebawah.


Kedua mata yang tadinya terbuka dengan lebar, kini dalam hitungan detik pejaman mata itu mulai kusut. Meringis kesakitan dilantai dengan banyak darah akibat batuk yang tiba-tiba menyerang yang keluar hinga mengotori lantai ruangan ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2