JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
AKANKAH GIBRAN SUNGGUH-SUNGGUH AKAN MENEMBAK MILLI


__ADS_3

"Ini minuman buatmu kamu pasti hapus minumlah!"pinta Gibran dengan memberikan pada Revi.


"Terima kasih,"balasnya.


"Apa kamu sudah membuat surat gugatan cerai?"


"Iya aku sudah membuatnya bahkan sekarang aku juga sudah melakukan perceraian itu. Dan Alhamdulillah sekarang perasaan ku cukup lega karena aku akhirnya bisa terbebas dari Pria kejam seperti dia jadi terima kasih! Terima kasih karena kamu juga sudah membantuku semua ini gak akan terjadi kalau bukan karena bantuan kamu juga terima kasih ya?"


"Iya sama-sama santai aja lagi, aku kan juga teman Kakak kamu jadi kamu gak perlu khawatir soal itu?"


"Elleh membantu bukan dia lagi yang punya rencana untuk menangkap Suami bajingannya, tapi sudah jelas aku yang membantunya apa dia tidak sadar?"gumam Milli yang merasa kesal melihat mereka berdekatan, sedangkan Gibran yang melihat ekspresi Milli ia hanya menahan senyumnya.


"Oh iya rambut kamu ada apa tuh?"ucap Gibran.


"Ada apa?"tanyanya.


"Oh tidak ada apa-apa, ya sudah aku pergi ya nanti aku akan kembali, oh iya ini ada tissue untukmu gadis secantik kamu gak pantas untuk nangis jadi usap lah"balasnya dengan mengepalkan sesuatu berwarna putih padanya.


"Baiklah,"balas Revi, kemudian Gibran pergi dari pandangannya.


Berniat ingin mengambil tissue yang dimaksud Gibran, tapi nyatanya dikasih Gibran bukanlah tissue melainkan sepucuk surat kecil yang berisi sesuatu.


"Untuk apa dia memberikanku surat kecil ini!"batinnya yang langsung membukanya.


MAAF AKU TADI SEMPAT MENGGODA MU, AKU HANYA MENGECEK APA CCTV BERJALAN YA MEMBUNTUTI-KU MERASA CEMBURU ATAU TIDAK. JADI JANGAN MERASA BAPER YA


"Astaga aku kira dia sungguh-sungguh menggodaku ternyata ada alasan lain kenapa dia melakukannya,"batin Revi dengan tersenyum sendiri.


"Itu anak kenapa malah senyum-senyum sendiri? Apa Gibran sungguh-sungguh naksir kepadanya dia hanya janda, cantik kan juga aku lagi?"gerutu Milli yang serasa ingin memakannya.


''Milli hari ini kakak tidak bisa dikantor bisakah kamu hari ini menghantikan kakak satu hari aja


''Memangnya kakak gak bisa jika kita tukar tempat aja au yang menjaga revan sedangkan kakak yang dikantor milli lebih enak disini soalnya


''Gak bisa milli apalagi kakak kan sekarang sudah jadi istri revan jadi ini sudah jadi tugasku kamu mau ya kamu hanya perlu menegur karyawan yang kerjanya gak teliti itu aja kok jadi kamu bersedia kan?''


''Baiklah kakak milli akan menggantikan kakak satu hari,itung-itung milli belajar jadi boslah


'' Baiklah sayang kalau kamu sudah setuju gibran kamu gak masalah kan berangkat bareng sama milli?"


''Iya aku gak papa kok nyonya kita sudah bisa berangkat kan?"

__ADS_1


''Iya berangkatlah


''Ya sudah kaka Milli pamit berangkat dulu ya kabari Mili kalau ada apa-apa."


''Iya sayang Kakak akan kabari kamu nanti ya sudah silahkan berangkatlah!"


Berada dalam satu ruangan yang sama, Gibran mau pun Milli yang terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing, Gibran sesekali melirik kearah Milli yang terlihat sibuk dengan tugas di mejanya.


Tak lama dering ponsel Gibran berbunyi. Milli yang sedari tadi terlihat sangatlah sibuk dengan laporan kerja yang berada bertumpukan diatas meja kerjanya. Kini tatapan itu berpindah menatap Gibran yang terlihat tersenyum sebelum mengangkat telfonnya, dengan tatapan tajam Milli terus saja menatapnya sekaligus rasa penasarannya yang tiba-tiba muncul.


"Rencana satu," batin Gibran yang kemudian ia mengangkat sambungan telfonnya.


"Iya sayang ada apa kenapa pagi-pagi gini kamu menelfon-ku. Apa kamu sudah sangat kangen dengan pacar kesayangan kamu ini?"balasnya dengan tersenyum. Dan sekali-kali Gibran menatap Milli yang terlihat tegang.


"Pacar. Jadi dia sudah punya pacar tapi kapan? Enak aja apa dia pikir tempat ini untuk pacaran apa? Kak Putri membawanya kesini supaya dia cari uang bukan untuk pacaran" batin Milli yang dengan emosinya meremas kertas yang hendak ia tanda tangani tadi tanpa berkata ia bergegas bangkit dan tempat duduknya. Kemudian dengan sigap ia merebut telfon dari genggaman tangan Gibran yang belum selesai berbicaranya.


"Aku beritahu anda. Ini kantor jadi kalau mau pacaran nanti aja apa anda paham," gertaknya yang tanpa berkata atau pun menatap Gibran, ia berlalu pergi meninggalkan ruangan ini sebelum mengembalikan ponselnya terlebih dulu.


Gibran yang melihat raut wajah Milli berubah memerah layaknya orang yang cemburu. Senyumannya tidak bisa ia bohongi jika ia sangatlah senang melihat jika Milli masih bisa merasa cemburu biar pun ia lupa akan siapa dirinya.


"Aku tahu Mil kamu berkata seperti itu kamu sedang cemburu kan? Memangnya enak dikerjain?"batin Gibran yang senyum-senyum sendiri, tak lama dering ponsel tiba-tiba berbunyi lagi.


📞" Maaf-maaf kamu bilang, apa kamu gak sadar apa maksud kamu memanggilku dengan sebutan sayang aku ini masih laki-laki normal jadi apa maksud kamu? Kamu gak lagi suka sesama jenis kan? Kita ini masih sama-sama pisang gak kurang mau pun lebih jadi gimana kamu paham kan maksudku ini?"


"Astaga Van otak kamu itu cepat sekali sih menjalar kesana, aku masih normal lagi! Tadi aku berkata seperti itu karena tadi ada Milli gak sadar apa sih teman lagi usaha juga?"


"HM ... Pantes!"


"Ya sudah aku tutup ya?"


"Okelah!"


"Apa sih maunya dia. Dan Kak Putri? Apa yang membuatnya percaya sampai-sampai mempekerjakan seorang laki-laki seperti dia," gerutu Milli yang berkata sendiri, tak lama tangan seseorang menepuk pundaknya.


"Hey apa yang kamu lakukan kenapa kamu marah-marah sayang?"tanya Putri yang tiba-tiba berada dibelakangnya.


"Kak Putri kenapa ada disini?"tanya Milli.


"Iya Kak kesini karena kebetulan Revi ingin melihat-lihat tempat ini, oh iya gimana apa kamu kesulitan mengantikan kakak satu hari ini?"


"Apa kakak masih bisa bertanya juga? Apa kakak gak lihat kalau di-perusahaan Kakak ini banyak yang bandel bahkan ada juga yang tidak niat untuk kerja apa kakak paham!"

__ADS_1


"Apa maksud kamu sayang kakak tidak mengerti?"


"Astaga Kak Putri ini, apa aku perlu menjelaskan semuanya sama kakak tentang laki-laki itu?"tegas Milli dengan kesal.


"Tentang laki-laki. Laki-laki siapa?"tanya Putri tidak tau menahu.


"Iya siapa lagi kalau bukan Gibran . Dia itu sama sekali tidak ada niatan untuk kerja apalagi jadi sekertaris Kakak. Bayangkan disaat banyak orang lagi sibuk kerja dia malah seenaknya pacaran tanpa melihat-ku yang jelas-jelas aku ini Adik dari atasannya apa itu tidak keterlaluan namanya.


"Oh ..


"Oh ...jadi itu jawaban kakak. Setelah panjang lebar aku menjelaskannya kakak hanya membalas hanya satu kata Oh itu. Dasar gak kakak gak dia sama-sama pengen aku jitak ya!" gertak Milli yang hampir saja pergi, dengan sigap Gibran menarik tangan Milli.


"Astaga Milli kalau kamu memang cemburu, kan tingal bilang aja lagi gak harus marah-marah panjang lebar seperti ini," timpal Gibran dengan tersenyum malu-malu. Milli yang menatapnya ia pun melontarkan satu injakan mengenai Kaki Gibran.


"Astaga Milli apa yang kamu lakukan sakit tau?"


"Bodoh!"


"Sudahlah gak ada gunanya aku berdebat sama kalian," ucapnya lagi yang kemudian ia beranjak pergi meninggalkan keduanya.


"Astaga si Imut kalau lagi cemburu ternyata tambah manis aja ya?"gumam Gibran yang merasa gemas, dirinya yang akan pergi lupa jika dibelakangnya ada Putri, sigap Putri yang melihat ia menjambak Gibran yang berniat ingin mengabaikannya.


"Nyonya?"


"Apa maksud dari perkataan Milli barusan kamu suka sama Wanita lain lagi?"


"Maaf Nyonya biar aku jelaskan, aku sama sekali tidak ada niat untuk mencintai Wanita lain tapi aku hanya berpura-pura mencintai Revi karena aku hanya ingin tau apa Adik nyonya benar-benar mencintaiku dan sekarang aku tau kalau dia memang sungguh-sungguh mencintai ku Nyonya jadi saya mohon jangan berfikir yang tidak-tidak saya mohon!"


"Baiklah kalau semua ini hanya ide kamu kembalilah dan lanjutkan misi kamu!"


"Baik nyonya sekali lagi terima kasih,terima kasih,"ucapnya dengan menundukkan kepalanya.


"Sama-sama saran aku cepat tembak dia,"pintanya.


"Nyonya tenang saja tidak akan lama aku akan segera menembaknya jadi sekali lagi terima kasih!"


"Ya sudah saya pergi dulu!"


"Baiklah."


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2