
''Sekarang kamu sudah lihat kan mereka semua tidak lagi mempercayaiku. Dan kamu juga lihat sendiri kan kalau aku sudah melakukan semuanya yang kamu inginkan jadi apa lagi yang kamu inginkan sekarang apa kamu masih belum puas memainkan ku?"
''Memang saat ini kamu sudah berhasil membuat orang-orang tambah membencimu, tapi semua itu bagiku masih sangatlah kurang sayang jadi tunggulah rencana yang harus kamu jalankan nanti. Ya sudah hari ini terserah kamu mau pergi kemana kamu bebas untuk melakukan apa yang kamu mau, tapi ingat kemana pun kamu pergi aku akan selalu memantu dimana pun kamu berada apa kamu paham!"tegas Claudya tapi nampak Milli memperhatikannya. Berlalu pergi dari hadapannya Milli tak menghiraukan akan adanya Wanita yang masih siaga dihadapannya.
"Anak itu! Baiklah tidak apa-apa kamu mengabaikan-ku kamu masih aku butuhkan jadi aku akan menganggap ini hanyalah angin yang lalu Milli, tapi sadarlah tak lama aku pastikan nasibmu tak akan berbeda dengan apa yang dialami oleh Putri jadi tunggulah," gumam Claudya yang berbangga diri.
''Semuanya sudah hancur bahkan tidak ada orang lain lagi yang mempercayaiku jadi apa lagi yang harus aku lakukan. Aku berhasil hampir membuat janin yang kak Putri kandung menggalami keguguran dan aku juga udah berhasil mempermalukan dia ditempat umum dengan banyaknya orang yang akhirnya merendahkannya. Apa sekarang aku harus mengulanginya lagi sampai-sampai nyawa Kak Putri berada tepat di tanganku apa aku memang harus membunuh kakak-ku sendiri apa aku harus melakukan semua itu?"
''Sungai ini sungai yang sangat indah biarlah tempat ini menjadi saksi akan kematian ku biarkan sungai ini menjadi bukti jika aku sudahlah kalah dari peperangan ini. Aku lebih memilih mati dari pada aku harus membunuh kakak kandunganku sendiri biar sungai indah inilah yang menjadi saksi buat semuanya selamat tingal semuanya maafkan aku Ma. Maafkan Milli Ma karena Milli telah kalah menghadapi peperangan ini maafkan Milli.
Berjalan tanpa adanya tenaga yang kuat sekaligus tujuan yang akan ia tuju, ia pun akhirnya melihat sebuah jembatan yang bawahnya sudah teraliri sungai yang sangat deras. Lantas ia pun menghampiri sungai tersebut dengan wajah putus asanya.
"Sekarang hidupku sudahlah hancur jadi untuk apa aku masih bertahan hidup jika hidupku hanya akan jadi taruhan seperti ini. Mama Maafkan Milli karena Milli sudah lemah maafkan Mill. Papa ... Milli kangen sama Papa Milli kangen sama Papa Milli ingin bersama dengan Papa."Tangisannya pecah, sesekali ia menatap air sungai yang mengalir dengan sangat deras membuat air mata Milli tak henti-hentinya terhenti.
Berdiri tepat diatas batu besar dan berdiri diatas sungai yang mengalir dengan sangat deras, Milli pun melambaikan kedua tangannya yang kemudian ia pun memejamkan kedua matanya dengan tersenyum lepas, hingga tinggal selangkah lagi Milli melangkah, sungai ini akan jadi saksi tiadanya seorang wanita cantik dan berambut panjang.
Akan tetapi niat yang Milli rencanakan telah gagal total, setelah ada seseorang yang tiba-tiba menarik tangan Milli dari belakang dengan tarikan kerasnya membuat dirinya pun terjatuh.
Bruak...
Suara jatuhan pun terdengar, melihat dirinya gagal melakukan tindakan bun*h di*i yang hendak ia lakukan barusan. Milli pun menatap balik sosok seseorang yang berdiri tegak didepannya dengan menunjukkan raut wajah geramnya.
__ADS_1
''Kamu? Apa yang ingin kamu lakukan disini apa kamu ingin terjun dari sini?"ucap seseorang yang tak lain adalah Gibran.
''Jangan halangi aku, lepaskan aku! Lepaskan aku biarkan aku terjun dari sini aku tidak mau menambah beban lagi lepaskan aku! Lepaskan aku!"
''Kamu jangan gila apa kamu pikir dengan cara bunuh diri kamu bisa lari dari permasalahan kamu tidak itu tidak akan pernah terjadi jadi ayo turun !"
''Tidak aku tidak mau lepaskan aku! Lepaskan aku!"
''Baiklah jika kamu tidak ingin turun baiklah biar cara ku sendiri yang memaksamu untuk turun!"
Memberikan pukulan pada Milli tepat mengenai belakang lehernya, Milli akhirnya tak sadarkan diri. Melihat Milli yang dalam keadaan tidak sadarkan diri Gibran segera mengangkatnya dan melarikannya ke-Rumah sakit.
''Dia baik-baik saja jadi anda jangan cemaskan soal ini,"
''Baik Dok sekali lagi terima kasih."
''Iya sama-sama ya sudah mari saya tingal dulu."
''baik dok."
'''Apa yang sebenarnya ia alami dan apa yang membuat ia jadi kepikiran untuk melakukan bunuh diri seperti ini? Apa semua ini ada hubungannya dengan perubahan yang belakangan ini muncul. Apa ini yang membuat kenapa ia putus asa dan akhirnya nekat melakukan tindakan gila seperti tadi tapi apa mungkin itu alasannya dan apa alasan yang sesungguhnya kenapa ia bisa berubah secepat ini?"
__ADS_1
Tak berselang lama Milli akhirnya tersadar, sesaat ia tersadar ia melihat Gibran yang masih siaga disampingnya.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan kenapa kamu bisa ada disini?"
"Itu tidaklah penting, yang terpenting sekarang kamu harus mengatakan yang sejujurnya apa penyebab kenapa kamu jadi berubah secepat ini? Dan apa yang membuatmu jadi bersikap kasar dan membenci Nyonya Putri seperti sekarang ini apa penyebabnya?"bentaknya, Milli yang tak mau menjawab ia berniat ingin pergi tapi langkahnya terhalangi oleh Gibran yang langsung mencengkeramnya dengan erat.
"Berubah atau pun tidak itu bukanlah urusan anda! Anda hanyalah seorang sekretaris Revan jadi jangan sok-sokan ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan satu lagi bukankah anda senang jika aku berubah seperti ini? Bukankah perubahan aku anda bisa gunakan kesempatan ini buat menggodanya? Dan pastinya sekarang anda punya banyak kesempatan untuk bisa mendapatkannya kan?"
"Apa maksud kamu aku tidak mengerti dengan semua perkataan kamu?"
"Sudahlah kamu itu jangan sok-sokan gak mengerti dengan apa yang aku maksud ini. Kamu itu suka kan sama Putri makanya kamu mau menjadi sekretaris Revan karena kamu mengunakan kesempatan ini untuk bisa mendapatkannya kan? Itu kan yang kamu inginkan?"
"Gila! Sangat gila sudahlah capek berdebat dengan orang sepertimu. Baiklah jika perubahan anda ini murni aku ucapkan segera berubah lah karena tidak mudah mengembalikan kepercayaan yang sudah berhasil kamu hancurkan apa anda paham!"
Satu ucapan yang Gibran ucapkan. Tak ingin mencari masalah Gibran berlalu pergi dari pandangan Milli, sedangkan Milli yang masih nampak sedih ia hanya bisa bisa meratapi nasibnya yang malang ini.
SEKALIAN MAAF IJIN PROMO KARYA TEMAN-KU YA CERITANYA SANGAT SERU DAN PASTINYA SANGAT SAYANG UNTUK DILEWATKAN YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰
'BERSAMBUNG.
__ADS_1