JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
REVISI


__ADS_3

"Milli Perutku kenapa merata ? Kenapa perutku tidak buncit lagi dimana kandungan aku sekarang dimana kandungan aku Milli ayo katakan kenapa kamu hanya diam ayo katakan!"


Wajah panik dan cemas seketika menguasai diri Putri setelah ia menyadari jika dulu perutnya terlihat buncit namun kini hanya bisa ia rasakan merata tanpa gumpalan yang bisa ia rasakan akan hadirnya buah hatinya.


Milli yang melihat kakak kesayangannya terlihat kebingungan ditambah lagi wajah kepanikan dan kecemasannya membuat Milli tak bisa berkata apa-apa selain hanya menundukkan kepalanya dan mematungkan dirinya sendiri.


Hinga akhirnya Milli akhirnya angkat bicara lantaran Putri yang terus saja mengoyak-ngoyak tubuh Milli agar mau angkat bicara.


"Kak Putri yang sabar ya? Kak Putri yang kuat Milli yakin kakak pasti kuat kakak harus sabar ya," satu ucapan yang mampu Milli ucapakan sembari pelukannya yang tiba-tiba terlepas dari keduanya.


"Maksud kamu apa Mil? Aku tanya dimana kandungan aku tapi kenapa kamu malah menyuruh aku untuk sabar. Dan kuat kamu pastilah tahu apa yang sebenarnya terjadi ada apa Milli, dimana kandungan aku sekarang dimana dia?"


"Sebenarnya Milli tidak ingin mengatakan hal ini pada Kak Putri. Tapi kak Putri sangat butuh penjelasan dari Milli, Milli hanya bisa mengatakan kakak yang kuat kandungan kakak sudah tidak bisa terselamatkan kakak yang sabar ya!"


"Apa maksud kamu tidak aku tidak mengerti kamu pasti bercanda kamu pasti hanya bergurau kan aku tidak mungkin kehilangan anakku kan aku tidak mungkin kehilangan janinku kan?"


"Kakak yang sabar aku tahu kakak pasti belum bisa menerima keadaan ini, tapi ini yang terjadi, kandungan kakak tidak bisa terselamatkan kakak yang sabar kakak yang kuat!"


"Tidak itu tidak mungkin aku tidak mungkin kehilangan anakku aku tidak mungkin keguguran itu tidak mungkin itu tidak mungkin!"


"Aku


M


M


Melihat seorang wanita yang terdiam diatas brangkar rumah sakit. Revan yang melihatnya ia akhirnya memberanikan diri untuk menunjukkan mukanya tepat dihadapan seseorang itu yang tak lain adalah Putri.

__ADS_1


Melihat siapa seseorang yang datang untuk menjenguknya. Putri terlihat hanya melirik sekali kearah orang tua, berlalu ia mengatakan sesuatu padanya tapi tidak dengan pandangannya yang menatap langsung kearah seseorang itu.


"Kamu? Ngapain ada disini pergi! Aku bilang pergi karena aku tidak sudi lagi berhadapan dengan kamu lagi ayo pergi!"


"Apa kamu sudah puas sekarang! Ini kan yang kamu mau jadi selamat keinginan anda sudah berhasil selamat!"


"Putri aku tahu aku salah tolong maafkan aku! Maafkan aku!"


"Maaf kamu bilang! Apa kamu pikir dengan kata maaf kamu bisa mengembalikan anakku tidak kan? Jadi untuk apa kamu berada disini memohon-mohon kepadaku untuk memaafkan kamu jangan harap kalau aku akan memaafkan-mu karena itu tidak akan mungkin terjadi. Ini kan sebenarnya yang kamu mau? Kamu senang kan akhirnya tangung jawab kamu sudah ma*i. Kamu pasti senang kan karena kamu sudah tidak punya tanggungan lagi, kamu pasti sangat senang karena tiada anakku kamu bisa bebas bertingkah bahkan dengan cara ini kamu bisa ninggalin aku tanpa harus merasa kasihan lagi kan? Ini kan yang kamu mau!"


"Putri apa yang kamu bicarakan bukan seperti itu maksudku. Aku mau menikahi kamu karena aku memang mencintai-mu!"


"Cinta? Rasanya entah kenapa aku merasa tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Kamu sendiri yang bilang pada Gibran jika kamu berperilaku baik padaku karena kamu hanya kasihan kepadaku jadi apa mungkin aku akan mampu percaya denganmu lagi apalagi percaya jika kamu cinta kepadaku. Dan yang kedua kamu sendiri yang sudah membuatku kecewa terhadapmu Revan jadi jangan salahkan aku kalau mulai sekarang aku sudah tidak akan perduli lagi denganmu dan surat perceraian kamu tunggu aja tidak akan lama aku akan membawa surat gugatan cerai itu jadi sekarang aku minta kamu pergi!"


"Putri aku tahu aku salah tapi bukan seperti ini cara kamu membalas ku Put beri aku kesempatan kedua aku mohon!"


"Sudahlah kamu mendingan pergi dari sini Kak Putri sudah tidak ingin melihat wajah kamu lagi ayo pergi!"


"Gak Milli aku tidak mau pergi sebelum Kakak kamu memberikan aku kesempatan kedua aku tidak akan pergi!"


PLAK


Satu tamparan tepat mengenai pipi kanan Revan setelah Milli yang kesal melihat Revan yang tidak kunjung berubah akan sifat egonya.


"Kamu? Kamu menamparku?"


"Iya aku menamparmu! Tamparan itu anggap sebagai balasan karena kamu sudah egois jadi laki-laki. Disisi lain kamu bilang kalau kamu mencintainya tapi apa? Apa kamu membuktikan jika kamu memang mencintainya tidak akan? Jujur selama ini aku beranggapan kamu adalah laki-laki yang Tuhan titipkan untuk menjaganya tapi ternyata aku salah! Memang benar jika selama ini Kak Putri berada di-sampingmu itu hanya akan membuatnya terkena masalah besar mulai dari bermusuhan dengan Claudya sampai-sampai hampir saja dia dibunuh tapi apa yang kamu lakukan kamu sama sekali tidak becus jadi laki-laki Revan. Bahkan bisa dibilang kamu hanya menjadi Suami pembawa sial yang bisa-bisanya menyakiti hati seorang Wanita. Dulu kamu selalu menyakiti Nina sampai ajal menjemputnya tapi apa? Apa yang kamu lakukan sekarang giliran kamu hanya mempunyai satu istri kamu juga berperilaku sama selalu menyia-nyiakan jadi selamat sebentar lagi kamu akan kehilangan mahkota paling berharga kamu terima kasih sekarang aku minta kamu pergi ayo!"

__ADS_1


"Milli aku mohon beri aku kesempatan aku mohon!"


"Tuan apa yang Milli katakan memang benar mendingan tuan pergilah apa yang Nyonya alami sudah sangat menyakiti hatinya jadi ayo pergilah!"


"Gibran kamu kenapa malah di pihak mereka kamu itu kerja denganku apa kamu mau aku pecat?"


"Aku tahu aku sedang kerja ikut Tuan, tapi yang namanya Wanita maaf aku tidak bisa membela yang salah Tuan. Apa yang tuan lakukan memang sudah sangat keterlaluan jadi maaf jika saat ini aku berada di pihak Nyonya Putri maaf Tuan," ucapnya yang hanya bisa menundukkan kepalanya.


Melangkahkan kakinya pergi dari pandangan keduanya, Revan nampak pasrah tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan seperti nasi yang sudah menjadi bubur berusaha apa ia melakukan hal untuk seperti semua nyatanya tindakannya itu pun hanya akan percuma tanpa adanya keberhasilan.


______________________


Terduduk termenung meratapi nasibnya yang malang. Melihat tanah yang gundukan berselimut banyaknya bunga membuat air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya terjatuh hinga membasahi kedua pipinya.


Mata yang terlihat lebam membuatnya tak tahan meratapi makam dimana janin calon anaknya yang telah terkubur dan menghancurkan semua mimpinya yang sudah ia nanti-nantikan sejak sedari lama.


"Maafkan Mama sayang maafkan Mama. Mama memang sangat egois yang hanya memikirkan kebahagiaan Mama sendiri Mama bodoh karena Mama telah lemah menghadapi semua manusia yang hanya memiliki muka dua dihadapan Mama. Maafkan Mama jika Mama harus mengorbankan kamu akibat kebodohan Mama maafkan Mama, maafkan Mama!"


"Kak Putri jangan menyalahkan diri kak Putri seperti ini, semua itu sudah takdir Tuhan ingin mengetes beberapa kuat Kak Putri menghadapi semua cobaan yang telah Tuhan berikan kepada semua hamba-nya. Tuhan tahu Kak Putri orangnya sangat baik makanya dia memberikan semua cobaan untuk melihat seberapa kuat kak Putri menghadapi semua ini Kak Putri harus kuat ya?"


"Entahlah Milli rasanya aku sudah tidak percaya lagi jika Tuhan memang sangat menyayangiku. Hidupku sejak sedari dulu sangatlah malang, tidak ada orang yang menyayangiku layaknya orang-orang seperti yang lainnya yang ada Tuhan hanya memberikan aku cobaan dan cobaan yang secara terus-menerus membuatku tidak percaya lagi dengan yang namanya Tuhan mencintaiku, aku sudah tidak percaya lagi dengan semua itu, aku sudah tidak percaya lagi!"


"Aku tahu Kak Putri sangatlah terpukul akibat kehilangan baby kecil tapi bukan seperti ini cara kakak meluapkan semua kekesalan, kemarahan Kakak bukan seperti ini?"


"Aku memang bodoh Mil jika sejak sedari awal aku mengikuti kata hatiku mungkin semua ini tidak akan terjadi dan mungkin aku tidak merasa bodoh karena berhasil dihancurkan oleh seorang laki-laki aku sangatlah bodoh!"


Milli yang melihat kakaknya sudah dalam keadaan tidak ada rasa kepercayaan lagi. Yang bisa Milli lakukan hanyalah memeluk dan memeluknya lantaran ia tidak tahu lagi dengan cara apa lagi ia mampu memberikan semangat padanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2