JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
ADU JAMBAK


__ADS_3

"Kenapa? Kenapa anda hanya diam anda sekarang lagi kehabisan kata-kata kan?"


"Kamu berani sekali menggatakan kata itu pada saya, apa kamu tidak sadar kamu sedang berhadapan dengan siapa sekarang?" ucap Milli yang menatap tajam kearah Wanita itu


Sudah merasa geram akhirnya tanpa aba-aba Wanita itu pun langsung menjambak rambut Milli Dan menyerangnya secara babi buta.


"Dasar Wanita Pelakor, rasakan ini!" ucapnya yang langsung menjambak rambut Milli.


"Aw kamu ... Apa kamu udah gila! Lepasin aku! Lepasin aku!" teriak Milli yang kemudian dia pun membalas dengan menjambak rambut Wanita itu dengan kasar.


"Astaga apa yang kau lakukan lepasin aku! Berani sekali kamu menjambak-ku juga awww ... Lepaskan aku!" gertak Wanita dengan teriakannya.


Sedangkan para karyawan yang melihatnya, mereka malah mendukungnya bukan malah melerainya, sedangkan ada satu Wanita yang mau membantu dia takut kalau akan jadi sasaran selanjutnya.


Milli dan juga Wanita itu yang terus-menerus saling berjambakan tanpa henti. Disisi lain Gibran dan juga Revan yang berhasil keluar dari salah satu ruangan pandangan Gibran tertuju pada dua Wanita yang saling berjambakan.


"Gibran semua tugas sudah aku serahkan ke-kamu? Jadi jika nanti ada rapat atau pun tugas kamu bisa langsung memberitahuku kamu paham kan!" ucap Revan tapi tak ada sahutan sekali pun dari Gibran sendiri.


"Hey aku ini sedang berbicara denganmu? Apa kamu tidak mendengarkan-ku?"tegas Revan.


"Itu kenapa orang-orang pada berlarian kesana? Dan suara itu memangnya ada apa disana?" tanya Gibran yang membuat Revan pun langsung angkat tangan dan langsung menjitak-nya.


"Berani ya kamu! Kamu itu baru sehari jadi asistenku tapi kamu sudah mengabaikan-ku seperti ini?"


"Maaf Tuan tapi aku lagi fokus disana, aku rasa ada keributan disana!"


"Iya? Ada apa disana, kenapa orang-orang pada berlarian kesana, apa ada lomba lari sekarang?"


"Sudah mendingan kita cepat ikuti mereka?" tegas Revan, kemudian Gibran mengikutinya.


Setelah Revan dan juga Gibran sampai ditempat itu, mereka pun terkejut setelah melihat ada dua macan betina yang sedang berkelahi bahkan rambut mereka bak seperti kembaran mak lampir terurai tak beraturan. Para karyawan yang melihat keributan ini mereka malah menontonnya, tapi berbeda setelah melihat siapa yang mereka lihat saat ini.

__ADS_1


"Astaga apa yang mereka lakukan? Ayo Gibran kamu pisah mereka dan kamu bantu dia!" perintah Revan, berlalu satu karyawan ikut membantu Gibran.


Gibran yang berusaha untuk memegangi Milli tapi ia masih tidak sadar dan ia terus berusaha supaya ia tidak memberontak, sedangkan karyawan yang satu yang berusaha untuk memegangi Wanita itu untuk tidak memberontak juga, tapi tenaga diantara keduanya membuat mereka berdua pun kualahan memeganginya.


"hey lepasin aku kenapa kalian malah menghalangiku untuk tidak menerkam wanita mak lampir ini? lepasin aku!"ucap Milli berusaha memberontak inggin segera mencabik-cabik si Wanita itu. Tapi dengan tenaga Gibran yang cukup kuat juga yang membuat Milli kualahan untuk terlepas dari pelukan Gibran.


"Ahh..lepasin aku biarkan aku memukul itu orang, rasanya aku inggin sekali mencabik-cabik tubuhnya, lepasin aku!" gertak Wanita itu yang ingin kalah.


Gibran yang sedari tadi tidak sengaja telah memeluk Milli, akhirnya sekarang ini dia pun telah sadar juga lewat suara seseorang yang ia ingat. Dan sadar juga jika dia telah memeluk orang yang sama sekali tidak dia kenali.


"Wanita ini? Ini kan Wanita lampir itu!"batinnya yang langsung melepaskannya.


Gibran yang sudah tidak tahan lagi dengan tingkah polah yang dilakukan Milli, akhirnya membuat Gibran pun melepaskan Milli. Wanita yang kemudian melihat Milli, dia pun hampir saja mau memukul Milli, tapi entah apa yang ada dipikiran Revan seketika ia pun langsung melindunginya dan beralih Revan sendirilah yang mendapat pukulan mengena punggungnya.


Sama-sama tersadar dengan apa yang mereka lakukan saat ini, Revan dengan penuh perhatian dia pun menatap wajah Milli dengan tatapan sangat lama. Milli yang merasa bingung dia juga ikut terjatuh dari lamunannya itu.


Wanita yang terkejut dengan tatapan yang dilakukan Milli dan juga Revan akhirnya membuatnya menjadi sedikit marah, dengan sigap ia pun langsung mendorong Revan sampai jatuh. Dan ketika melihat wajah Milli, Wanita itu pun seketika seperti melihat musuh bebuyutannya.


Dan yang lebih parahnya lagi Wanita telah salah sasaran menggenai pukulannya. Karena tanpa sengaja dia telah merebut barang berharga yang dimiliki oleh Gibran saat ini.


"Astaga!" ucap Milli sambil membungkam mulutnya sendiri.


"Aw!"ucap Wanita itu dengan wajah terkejut.


"Astaga itu pasti ngilu sekali?" ucap Revan yang tiba-tiba merasa ikut ngilu. Dan menutup matanya sendiri.


"Astaga kenapa anda harus memukulnya juga sih?" ucap Gibran yang kemudian dia pun meringgis kesakitan yang akhirnya membuatnya tersungkur jatuh kelantai. Sambil memegangi itunya.


"Maaf! Maaf ini semua gara-gara dia?" ucap Wanita itu yang inggin menyerang Milli, tapi Gibran langsung membentaknya.


"Diam! Apa kalian akan terus bertengkar seperti ini? Apa kalian tidak lihat sekretaris-ku lagi sekarat sekarang akibat ulah kalian! bentak Revan yang akhirnya membuat mereka berdua seketika langsung terdiam.

__ADS_1


"Kamu? Apa yang membuatmu jadi menyerang petugas saya?" tanya Revan, Milli yang tak beri melihat ia hanya menunduk.


"Dia mengatakan jika Kak Putri adalah seorang pelakor jadi pantaslah aku marah," balas Milli yang masih bisa menunduk.


"Terus kamu? Kenapa kamu bisa berkata selancang itu sampai bilang kalau Istriku adalah seorang pelakor?" tegas Revan dan petugas Wanita itu.


"Maaf Tuan, maafkan saya," balas Wanita itu nampak takut dan ikut menundukkan kepalanya.


"Baiklah kita akhiri masalah ini cepat pergi!" perintah Revan, kemudian seorang Wanita itu pergi dari hadapan mereka bertiga.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


Setelah mendapat pukulan tak terduga itu, Gibran yang akhirnya masuk kedalam salah satu ruangan dia pun ditertawakan oleh Milli yang sedari tadi terduduk santai disalah satu sofa. Dan tak lupa Revan juga masih berada di ruangan itu. setelah Gibran muncul dengan cara berjalannya yang aneh, pandangan keduanya tak henti-hentinya menahan tawanya.


"Ternyata ada untungnya juga ya aku ada disini jadi bisa melihat tontonan lucu seperti ini?" gumam Milli yang menahan tawanya.


"Apa ada yang lucu!"tegas Gibran, Milli pun berhenti tertawa.


"Sudah jangan marah -marah kenapa, nanti kambuh lagi tuh!" ledek Revan yang sedari tadi hanya bisa menahan tawa lihat tingkah Sekretarisnya satunya ini.


"Ini semua gara-gara Tuan, kalau bukan karena Tuan mendorongku apa mungkin aku akan bisa mendapatkan pukulan seperti tadi?"


"Sudah-sudah jangan bahas soal ini. Yang jelas disini ada seseorang yang ingin aku tanya mengenai sesuatu dan orang itu adalah kamu!" timpal Revan dengan melemparkan bulpoin-nya kearah Milli yang masih nampak tertawa. Terkejut ia lantas menunjuk kearahnya sendiri.


"Aku? Kenapa harus aku?" tanya Milli dengan wajah terheran-nya.


Menatap balik kearah dia pria dihadapannya. Milli nampak takut lantaran pandangan keduanya nampak sinis seakan-akan siap menerkamnya.


Milli yang merasa takut, ia mencoba menutup wajahnya dengan buku majalah yang tadinya ia baca.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2