
"Kenapa aku jadi kepikiran terus soal Gibran ya? Aku takut kalau Gibran akan nekat mengatakan hal ini pada Revan tapi apa mungkin ia benar-benar melakukannya? Tapi jika ia benar melakukannya apa yang harus aku lakukan?"
Baru aja Milli membahas soal permasalahannya pada Gibran, sesaat kemudian ponselnya pun tiba-tiba berdering. Dan mendapati nama KADAL BAJINGAN yang tertera pada layar telfonnya.
"Gibran, untuk apa dia meneleponku?" gumam Milli yang langsung mengangkatnya.
📞" Iya ada apa, apa yang inggin kamu bicarakan padaku, kenapa siang-siang gini kamu meneleponku?"tanyanya dengan muka kesel.
📞 "Aku sengaja menelfon mu karena aku inggin mengajakmu untuk berkencan!" balas Gibran yang spontan membuat Milli yang mendengar ia terkejut tidak main.
"Gini, Revan melihat bekas merah yang ada di leherku, dia menuduh kalau aku laki-laki homo yang pacaran layaknya seorang G*y dan kamu? Kamu orang yang sudah bikin kerusuhan ini jadi kamu harus membereskannya dengan menjadi pacar pura-pura ku?"
📞 "Gak aku gak mau!"
📞"Ooo jadi kamu gak mau berkencan denganku, baiklah itu gak masalah, tapi ...."
📞 "Tapi apa? Apa kamu ingin mengancam ku?" tanya balik Milli.
📞 "Tapi...jangan salahkan aku kalau aku bakal menyebarkan berita pelecehan yang kamu lakukan terhadapku kepada semua orang apa kamu paham!"
📞" Oh jadi maksudnya kamu mengancam ku?"
📞" Ya seperti itulah!"
📞 "Hm...baiklah aku mau berkencan denganmu."
📞 "Kamu serius?"
📞" Iya aku serius! Aku tunggu kamu di taman nanti aku bakal share lokasinya."
📞 Baiklah itu gak masalah, ya sudah aku tutup telfonnya."
📞 Baiklah."
"Baru aja diomongin ternyata dia benar -benar berani untuk mengancam ku, kayaknya aku perlu kerjain dia nih!" gumam Milli dengan menunjukkan senyuman sinisnya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
"Gibran akhirnya kamu datang juga mana kekasih yang kamu maksud itu apa dia belum datang? Atau mungkin dia tidak bisa datang?"tanya Revan yang sedari tadi menunggunya.
"Tuan tenang saja dia sudah ada dibelakang Tuan kok, itu orangnya," tunjuk Gibran kemudian Revan yang melihat jari Gibran menunjuk ke belakangnya ia terkejut lantaran ada Milli yang langsung menghampirinya.
"Milli kamu? Jadi kalian pacaran?"tanya Revan tidak percaya.
"MMM iya seperti apa yang kamu lihat saat ini kami memang pacaran!"timpal Milli yang langsung mengandeng tangan Gibran.
"Bagaimana bisa bukankah selama ini hubungan kalian sering bertengkar dan tidak akur?"tanya Revan.
"Memangnya orang yang tidak akur bisa dibilang tidak saling mencintai tidak kan?"timpal Gibran lagi.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah lama naksir sama Milli, tapi berhubung dia orangnya bikin kesel dan jutek aku urungkan niatku untuk mengungkap perasaan ini, tapi seiring berjalannya waktu aku tambah merasa aneh pada diriku ini. Jika aku tidak segera mengungkap perasaan ini, jadi sekarang tuan lihat dan percaya kan kalau aku aslinya memang pria normal yang mencintai Wanita sungguhan?"timpal Gibran lagi yang memandang kearah Milli dengan senyum khasnya.
"Terus jika kalian memang saling mencintai dan sudah menjalin hubungan secara diam-diam, kenapa kalian tidak pernah menampakkan keromantisan kalian disekitar kita?"
"MMM gimana ya menjelaskannya kita bukannya tidak mesra atau jarang romantis. Akan tetapi kita lagi menyesuaikan lokasi dan keadaan sekitar apalagi kita juga punya rasa malu jika harus bermesraan ditempat umum,"cela Gibran lagi.
"Tapi kalian beneran sepasang kekasihkan? Kalian tidak lagi membohongiku kan?"
"Iya kami memang sepasang kekasih tuan. Apa tuan sama sekali tidak bisa percaya juga dengan kita?"
"Iya saya masih kurang percaya. Dan saya baru akan percaya jika kalian berciuman tepat dihadapan ku saat ini, jadi apa kalian tidak keberatan?"
"Berciuman apa itu harus kita lakukan?"
"Tuan ini sangat lucu apa yang dikatakan kekasih-ku ini memang benar. Dan kami tidak pernah berbohong jadi percayalah pada kami," timpal Gibran lagi.
"Ya sudah kalau kamu memang tidak bohong aku mau kalian berciuman di hadapanku sekarang." Terkejut Gibran mau pun Milli yang menatap satu sama lain.
"Apa maksud Tuan? Jadi Tuan menyuruh kita untuk berciuman disini? Ditempat yang banyak pengunjung seperti ini? Yang benar saja mana mungkin ini kan tempat umum. Dan kami masih punya rasa malu jadi maaf kami tidak bisa.
"Iya yang dikatakan dia memang benar mana mungkin kita akan melakukan itu ditempat umum seperti ini?"timpal Milli yang membelanya.
"Jadi kalian takut? Berarti memang benar kalau kalian ini bukanlah sepasang kekasih sungguhan kan? Kalian hanya mempermainkan-ku saja kan?"
"Astaga Tuan ini susah sekali percaya pada kami.Oke baiklah aku akan melakukan itu. Dan aku akan mencium kekasihku dihadapan banyak orang ini termasuk tepat dihadapan tuan sendiri," timpal Gibran lagi yang spontan membuat Milli tidak bisa berkutik.
Pandangan keduanya tak bisa mereka hindari menatap kearah satu sama lain. Bagaikan berada dalam satu kandang yang dipenuhi dengan adanya raungan singa yang siap menerkamnya membuat mereka tidak bisa lagi berkata mau pun melakukan rencana lagi.
Rencana yang sudah mereka jalankan hampir seratus persen jika mereka setitik saja lengah mungkin rencana yang sudah susah payah mereka jalankan akan membuahkan hasil yang sia-sia.
Kedua pandangan yang semakin mendekat jika kedekatan keduanya tingal menghitung jentik jari. Milli yang tidak tahu lagi harus berbuat apa, tatapan matanya akhirnya ia pejamkan tak ingin merasakan apa yang harusnya ia rasakan.
Satu kecupan tepat mengenai bibir mungil Milli setelah Gibran yang dengan sengaja atau melakukannya karena terpaksa berhasil memberikan satu kecupan manis tepat mengenai bibir mungil tersebut.
Niat hati tidak ingin merasakan kecupan tersebut, tapi apa yang ia lakukan nyatanya tidak membuahkan hasil, kecupan yang tepat mengenai bibirnya akhirnya membuat kedua matanya terbuka dengan lebar.
"Astaga apa yg barusan telah aku lakukan? Kenapa aku melakukan itu, tidak itu pasti cuman mimpi, iya itu hanya mimpi," batin Gibran yang tidak berani menatap Milli, sedangkan Milli yang baru saja merasakan kecupan itu pandangannya mulai buyar.
"Astaga aku sama sekali tidak menyangka ini aku benar-benar berciuman dengannya?"batinnya yah terlihat masih sedikit linglung.
Terkejut dengan apa yang dilakukan Gibran tepat dihadapannya. Revan yang sedari tadi melihat apa yang dilakukan mereka, ia tidak bisa berkata sepatah kata lagi.
"Kalian beneran melakukan itu?"tanya Revan.
"Sekarang Tuan paham dan percaya kan kalau kita memang sepasang kekasih?"timpal Gibran mencoba membuyarkan kesadaran Revan.
Belum juga keduanya selesai membahas permasalahan yang terjadi saat ini. Seseorang dengan langsung menepuk pundak Gibran dengan keras, Gibran yang sadar akan hadirnya seorang pria tampan yang tiba-tiba menghampirinya.
"Gibran kamu kenapa berciuman dengan wanita lain kamu jahat Gibran kamu jahat!"ucap Pria itu yang spontan membuat Gibran merasa heran. Revan yang mendengarnya pun hanya bisa bertepuk tangan.
__ADS_1
Sedangkan Milli ia hanya bisa tersenyum diam-diam melihat seseorang itu datang memulai aksinya.
"Kamu? Kamu siapa?"tanya Revan yang merasa penasaran dengan laki-laki dihadapannya.
"Aku?"ucap Pria itu dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu?"tanya Revan lagi.
"Aku pacarnya," balas Pria itu yang seketika mengandeng tangan kanan Gibran.
"Pacar? Maksud kamu kalian ... Kalian pacaran?"tanya Revan yang merasa tidak percaya dengan semua ini.
"Iya kita pacaran kamu kenapa bisa setega ini sama aku Gibran kamu jahat! Kamu jahat!"ucap Pria itu terus-menerus memukul lengan Gibran dengan manjanya.
"Hay apa maksud kamu? Apa kamu sudah gila pake acara bilang aku ini pacar kamu? Aku ini masih waras bagaimana bisa aku pacaran sama seorang Pria yang benar saja?"timpal Gibran yang mencoba mengalihkan semuanya.
"Gibran kamu sangat jahat kamu sendiri yang bilang kalau kamu itu cintanya sama aku tapi kenapa kamu malah bertingkat seperti ini. Luka merah yang kamu dapat dileher apa kamu tidak ingat dengan kejadian pada malam itu kamu jahat Gibran kamu jahat!"ucapnya lagi dengan manjanya.
"Astaga aku benar-benar tidak menyangka kamu benar-benar laki-laki g*y Gibran, sangat-sangat mengejutkan!" timpal Milli mencoba membangunkan suasana.
"Milli coba jelaskan ke Revan kalau aku itu sama sekali tidak kenal dengan pria jadi-jadian ini. Dan aku juga tidak tahu apa yang barusan dia katakan ayo katakan yang sejujurnya padanya ayo katakan?"
"Kamu jangan percaya dengan semua yang dikatakan olehnya Revan. Aku dipaksa Gibran untuk berpura-pura menjadi pacarnya karena aku diancam. Dia juga memberikan aku uang satu juta sebagai jaminannya jadi aku terpaksa melakukan semua itu, jadi aku mohon jangan kasih tahu ini pada Kak Putri aku pasti akan kena marah besar jika dia sampai tahu masalah ini. Apalagi sampai berciuman dengan seorang Pria seperti dia jadi aku mohon jangan beritahu dia," ucap Milli dengan sikap manjanya.
"Bohong! Apa yang barusan dia katakan tidaklah benar! Tuan tidak seharusnya percaya dengan semua yang dikatakan Milli dia penipu! Dia juga orang yang sudah bikin luka merah ini, dia mencoba membalikkan fakta karena dia ingin aman dan terhindar dari ancaman ku jadi Tuan harus percaya tuan, tuan harus percaya sama aku?"
"Sangat disayangkan Gibran aku lebih percaya sama dia karena dia itu adik ipar ku. Aku sungguh tak menyangka jika kamu benar-benar pria yang tidak normal Gibran. Bahkan mencintai laki-laki itu sungguh-sungguh sangat memalukan, sudahlah jangan dibahas aku tidak akan memberitahu siapa-siapa soal ini rahasia kamu aman sama aku jadi percayalah?"
"Tuan saya mohon percayalah sama aku aku bukanlah Pria macam itu aku normal?"
"Gibran kamu itu sama sekali tidak mau mengakuinya ya kamu jahat! Kamu jahat!" ucap pria itu yang langsung pergi dari pandangan mereka.
"Dasar Hulk jadi-jadian," kesal Gibran yang tidak menghiraukannya.
"Tuan aku mohon percayalah aku mohon!"
"Sudahlah Gibran acara pertemuan malam ini aku rasa sudah selesai. Aku ingin pulang, oh iya kamu yang mengajak Milli jadi antarlah dia pulang selamat malam."
Tanpa mengucapkan sepatah kata pada keduanya. Revan bergegas pergi tanpa memperdulikan keduanya, hanya saja mungkin tahan tawanya sudah membuktikan jika misi yang dilakukan Milli berjalan sesuai rencana.
"Ah kenapa jadi seperti ini? Dan siapa Pria jadi-jadian tadi kenapa dia bisa nongol kaya tamu tidak diundang,"gerutu Gibran tak lama pandangannya beralih pada wanita disampingnya.
"Kamu? Kamu kan yang melakukannya? Kamu kan orang yang sudah menyuruh Pria gila tadi untuk mengerjai-ku?"tanya Gibran dengan wajah tegasnya.
"Iya memang aku orangnya gimana apa kamu sudah puas dan kapok sekarang? Kamu duluan yang mengajak duel kepadaku jadi sekarang terbukti kan siapa yang lebih jago yang akhirnya menang?"balas Milli dengan senyum kepuasannya.
Segera pergi dari pandangan Gibran setelah dirinya akhirnya mengakui semuanya. Gibran yang tak terima nama baiknya hanya tingal kenangan, ia segera mengejarnya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1