JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA

JERATAN CINTA ISTRI YANG TERHINA
SENJATA MAKAN TUAN


__ADS_3

Melihat tatapan keduanya yang sangat yang sangat tajam dan terus menerus memperhatikannya membuat Milli tambah merasa semakin takut dan sedikit tegang akan dibuat olehnya.


Akan tetapi semua ketakutan yang dirasakan Milli saat ini, ternyata hanya bersikap sementara. setelah Milli tahu kemana Revan dan juga Gibran akan membawanya pergi.


Bahkan rasa takut yang dia rasakan tadi seketika telah berubah, bahkan dengan beraninya Milli pun menatap balik melihat Revan dengan tatapan yang sangat tajam juga.


Revan yang melihat gadis yang ada dihadapannya sudah tidak ada rasa takut lagi terhadap dirinya, dia pun lantas langsung membentaknya karena tidak terima dirinya diejek seperti ini.


"Apa yang kamu lakukan? Siapa yang menyuruhmu menatapku dengan tatapan seperti itu? Apa kamu tidak takut sama laki-laki yang ada dihadapan kamu ini?" bentak Revan tapi Milli sama sekali tidak menggubrisnya malah sebaliknya.


"Tidak! Aku tidak takut dengan anda, lagian anda kan juga manusia jadi ngapain juga aku harus dengan anda, aku hanya takut dengan Allah. Lagian anda kan juga kan bukan hantu jadi ngapain juga harus takut?" ucap Milli dengan sangat santai yang kemudian membuat mereka terkejut.


"Astaga!" ucap Gibran dengan wajah geramnya dan rasanya inggin sekali mencabik-cabik Gadis dihadapannya saat ini.


"Udah-udah mas jangan marah-marah kenapa nanti cepat tua lo, tapi kalau lihat Mas se-marah ini aku jadi ingat kembaran Mas yang ada di-kebun binatang sana yang juga suka marah-marah kalau ada orang yang sedang lewat dihadapannya.


Dan dia adalah si-Macan jadi kalau lihat Mas suka marah-marah tidak jelas seperti ini lebih baik nama Mas diganti dengan sebutan Mas Macan saja itu lebih baik bukan?" ucap Milli dengan suara ceplas-ceplosnya.


"Kau?" ucap Gibran menatap tajam kearah Milli.


"Kenapa kamu malah jadi tertawa, apa ada yang lucu? Apa kamu juga menyamakan aku dengan si macan yang kamu maksud itu?" tanya Revan dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.


" Ingat aku membawamu kesini hanya untuk mengintrogasi kamu, jadi mendingan sekarang kamu cepat jawab jujur pertanyaan-ku ini, apa benar kalau si Rafa lah orang yang sudah menyuruhmu untuk jadi mata-mata disini, ayo jawab?" bentak Revan masih dengan nada halus.


Melihat Revan yang tiba-tiba menunjukkan wajah kesal dan amarahnya kepada Milli. Milli malah bersikap santai bahkan setelah ada seorang pelayan wanita yang mengantarkan beberapa makanan, pandangan Milli pun seketika hanya fokus pada hidangan tersebut.

__ADS_1


"Hey apa kamu budek Tuanku sedang berbicara dengan kamu? Apa kamu tidak sadar itu?" bentak Gibran yang kemudian, dengan santainya Milli malah bertanya.


"Hey apa aku boleh makan -makanan ini?" tanya Milli yang kemudian membuat keduanya semakin tidak berdaya dibuatnya.


"Iya kamu boleh memakan semua makanan ini, bahkan kalau kamu mau kamu juga boleh makan tuh piringnya, tapi setelah itu kamu harus jawab jujur pertanyaan-ku apa kamu paham?"


"Iya aku paham!" jawab Milli hanya menganggukkan kepalanya.


"Tapi ini sebenarnya yang agak gesrek siapa sih. Dimana kalau yang namanya di introgasi pasti si tersangka akan dibuat sangat tertekan yang akhirnya tersangka akan mengakui kesalahannya dengan sendirinya, tapi ini apa? Apa Tuan yakin yang Tuan lakukan ini sebuah INTROGASI, ini bukannya INTRAKTIRGASI namanya. Karena Tuan malah membawanya ke Restoran dan menyediakan makanan yang sangat banyak seperti ini?" ucap Gibran tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Revan, ia hanya fokus melihat gadis yang ada dihadapannya ini terbilang sangat rakus.


"Aku ngomong sama siapa?" jawabnya apa? nasib ... Nasib punya Tuan kaya dia!" batin Gibran dengan pasrahnya dan mengelus dadanya.


Melihat Milli yang makannya super duper rakus, kedua pria itu pun dibuat tercengang akan kelakuannya.


"Udah berapa tahun kamu tidak pernah makan, rakus amat?" ucap Revan, tapi tak dihiraukannya.


"Pelan-pelan kenapa makannya, gak ada yang akan ngambil juga kali," ucap Revan tapi sama tak dihiraukannya.


Karena sudah menghabiskan hampir 2 piring Milli pun sudah merasa sangat kenyang, tanpa sengaja Milli pun bersendakwah yang akhirnya membuat kedua laki-laki itu pun terkejut.


"Alhamdulillah kenyang juga!"


"Dasar!"


"Ya terima kasih ya atas makanannya," ucap Milli yang kemudian dia yang tiba-tiba akan pergi, Gibran spontan langsung menarik tangannya. Karena terkejut Milli yang hampir saja terjatuh pun seketika membuat Gibran maupun Milli sama-sama tidak sengaja berpelukan, sekaligus bertatapan satu sama lain.

__ADS_1


"Aist ... Apa yang kamu lakukan, modus banget sih kamu!" ucap Milli yang kemudian langsung melepaskan pelukannya.


"Yeee siapa juga yang mau pelukan sama wanita rakus kaya kamu, GR banget?"


"Dah jangan ribut kenapa!"


"Ya sudah aku mau pergi!"


"Eh tunggu? Kamu mau kemana urusan kita belum selesai. Dan kami juga belum jawab pertanyaan-ku tadi, jadi mana mungkin kamu bisa pergi gitu aja?"


"Astaga lagian apa yang mau aku jawab, aku kasih tahu ya, aku ini bukanlah mata-mata dari Rafa. Dan aku juga bukan orang suruhan Rafa jadi jika kamu mau menuduhku setidaknya kamu harus ada bukti, apa kamu paham?" ucap Milli yang kemudian dia pun menghempaskan tangan Revan yang mencegahnya.


"Hey..aku belum selesai ngomong?"


"Ist itu anak ternyata lebih berandal dari yang aku kira, tapi kenapa Putri segitu percayanya dengan gadis itu?"gumam Revan yang merasa kesal.


"Sudahlah Tuan percuma Tuan berkata, lah orangnya sudah jauh," timpal Gibran kemudian tatapan Revan berbalik menatapnya.


"Kamu tadi aku perhatikan kaya sudah mengenal dia apa kamu kenal dekat dengannya?" tanya Revan.


"Tidak. Aku tidak mengenalnya dengan dekat hanya saja aku agak risi ketika berhadapan dengan Wanita secerewet dia.


"Sudah ayo kita pergi aku ingin menemui Putri sekarang," timpalnya lagi Gibran pun akhirnya mengikuti langkahnya.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2