
"Tuan ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Tuan?"tanya Gibran ketika ia masuk keruangan Revan.
"Kamu ingin tanya apa? Apa ini soal perusahaan ini?"tanya balik Revan.
"Tidak Tuan ini bukan soal perusahaan tapi soal Nyonya Putri?"balas Gibran, sesaat Revan pun menatapnya.
"Putri ada apa dengannya?"tanya Revan yang terlihat cemas
"Jujur aku sebenarnya agak bingung dengan perubahan Tuan sekarang. Tuan terlihat sangat menyayanginya? Bahkan aku perhatikan Tuan sudah seperti sangat nyaman berada disampingnya apa tuan sungguh-sungguh mencintainya?"tanya Gibran yang seketika membuat Revan terdiam, melangkahkan kakinya tepat di dekat jendela sembari memandangi.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal ini?"tanya Revan yang mulai enggan untuk membalas pertanyaan Gibran.
Entah secara kebetulan Putri yang hendak ingin membawakan bekal untuk Revan. Sesampainya ia didepan pintu ia mendengar Gibran mau pun Revan membahas soal dirinya, alhasil Putri yang berniat ingin masuk pun memutuskan untuk menguping pembicaraan keduanya terlebih dulu.
"Revan, Gibran untuk apa mereka membahas tentang aku? Apa benar jika Revan sudah bisa mencintaiku dengan tulus? Dan bisa menerima janin yang aku kandung ini layaknya seperti calon anak kandungnya sendiri?"batin Putri yang bisa tersenyum.
"Aku merasa seseorang bisa berubah secepat waktu itu tidaklah mungkin. Apalagi Tuan yang baru aja kehilangan Istri tuan yang aku rasa Tuan juga sangat-sangat mencintainya jadi rasanya agak aneh jika tuan berubah secepat ini sampai-sampai bisa mencintai dengan mudah ini serasa agak aneh tuan?"balas Gibran.
"Jujur, sebenarnya aku melakukan semua ini hanya atas dasar kasihan?"balas Revan yang spontan membuat Gibran mau pun Putri pun terkejut.
__ADS_1
"Kasihan? Apa maksud Revan bilang kasihan kepadaku?"batinnya yang membungkam mulutnya sendiri, tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.
"Kasihan gimana maksud Tuan?"tanya Gibran yang ikut penasaran dengan ucapan tuannya barusan.
"Aku merasa kasihan karena selama ini Putri hidupnya sudah sangat menderita, banyak tekanan dan hinaan yang menerpanya. Aku tahu mungkin apa yang aku lakukan ini sangatlah salah karena aku tidak seharusnya melakukan semua ini padanya, tapi setelah aku lihat dia cukup bahagia mendengar jika ada seseorang yang mencintainya dengan tulus jadi itulah alasan pertamaku kenapa aku begitu mencintainya?"
"Jadi maksud Tuan? Tuan hanya membohonginya yang seolah-olah tuan sudah bisa mencintainya dengan tulus? Bahkan sikap keperdulian dan kasih sayang yang selama Tuan tunjukkan semua itu hanya atas dasar kasihan?"tanya Gibran yang nampak tidak percaya dengan semuanya.
"Iya bisa dibilang seperti itu, tapi kamu gak akan mengatakan ini padanya kan?"
"Tuan tenang saja aku tidak akan mengatakan ini pada siapa-siapa termasuk pada Nyonya Putri sendiri, tapi saran aku jika Tuan tidak mencintainya alangkah baiknya tuan berkata dengan sejujurnya pada Nyonya, jika Tuan bersikap seperti ini tuan malah menyiksa diri tuan sendiri, belum lagi jika Nyonya sudah tahu apa yang akan dipikirkan olehnya, dia pasti sangat tertekan tuan?"
"Baiklah terserah tuan aku bisa berkata apa," balas Gibran yang hanya bisa nampak pasrah.
"Iya Tuan saya sudah membawa berkas yang tuan minta dari kemaren. Ada apa Tuan dan apa yang ingin Tuan lakukan pada berkas-berkas ini dan mengenai tanah yang rencananya ingin Tuan bangun sebuah paviliun atau restoran kenapa Tuan tiba-tiba menghentikannya apa ada masalah dengan tanah tersebut atau saya perlu membawa pengacara untuk membantu menyelesaikan masalah ini?"
"Tidak, tidak perlu aku memang awalnya aku ingin membangun Restoran disana tapi setelah saya perhatikan dan teliti lokasi tersebut. Ternyata Desa itu sangatlah jauh dari tempat ibadah bahkan banyak anak jalanan yang terlantar disana jadi akhirnya aku berubah pikiran inggin membangun sebuah masjid sekaligus panti asuhan disana karena itu lebih berarti dan pastinya ini sangat membantu mereka jadi kamu bersedia kan mengabulkan permintaan saya ini?"
"Tapi Tuan. Apa Tuan serius dengan niat baik Tuan ini, Tuan gak lagi bergurau kan? ini beneran Tuan kan?"
__ADS_1
"Gibran ada apa denganmu ini, kenapa kamu malah menatapku dengan tatapan seperti itu, ya jelas apa yang aku katakan beneran nyata apa adanya. Dan orang yang kamu lihat ini beneran Tuan kamu Tuan Revan apa wajahku terlihat beda sekarang?".
"Bukan gitu Tuan, tapi saya masih tidak percaya dengan tindakan yang ingin Tuan lakukan sekarang. Karena saya tahu Tuan ini orangnya sedikit arogan dan tidak perduli dengan orang lain tapi kenapa sekarang Tuan jadi berubah drastis seperti ini jadi inilah yang membuat saya heran dan tidak mempercayainya.
"Di dunia ini kita hanya menumpang. Dan pada dasarnya rumah kita yang sebenarnya bukanlah tanah yang sangat luas mau pun sangat mewah kan mewah. Akan tetapi liang lahat lah tempat asli dimana kita akan akan kita tingal. Sedangkan semua kekayaan yang aku miliki bagiku itu hanyalah titipan dari Tuhan jadi, jika Tuhan sudah murka dan ingin mengambilnya kembali dalam satu kedipan saja semua kekayaan itu akan lenyap tanpa tersisa jadi apa gunanya membanggakan dan memamerkan kekayaan yang aslinya bukanlah milik kita.
"Iya yang Tuan katakan memang benar. Kita hidup memang hanya menumpang dan dunia sudahlah tua jadi kini saatnya kita untuk menata hidup kita yang lebih baik lagi , terima kasih Tuan terima kasih karena Tuan sudah menyadarkan apa arti kehidupan yang sesungguhnya terima kasih.
"Iya sama-sama.
"Ya sudah Tuan saya pamit pergi dulu. Karena saya ingin mengatur rencana pembangunan ini.
"Baiklah berhati-hatilah.
"Baik Tuan.
"Jadi kisah romantis yang selama Revan tunjukkan padaku semua ini hanya rekayasa dia? Revan sengaja membuatku merasa sangat bahagia karena dia hanya kasihan kepadaku?"batin Putri yang merasa hancur, melihat langkah Gibran yang mulai mendekatinya Putri segera bersembunyi agar dirinya tidak ketahuan oleh Gibran.
Melihat Gibran keluar dari pintu ruangan Revan, hati Putri serasa hancur berkeping-keping dan akhirnya ia pun kembali pergi dengan membawa bekal yang tadinya sudah ia bawa.
__ADS_1
BERSAMBUNG.