
Masuk kedalam kediamannya yang besar, Milli melangkahkan kakinya mendapati Mamanya sedang terduduk termenung memikirkan sesuatu, sesaat Milli segera berlutut tepat dihadapan Mamanya.
"Mama, Milli akui Milli salah karena telah membangkang. Dan Milli akui Milli belum bisa berfikir dengan dewasa, maafkan Milli, maafkan Milli jika selama ini Milli hanya menjadi beban Mama maafkan Milli Mama mau memaafkan Milli kan? Milli mohon maafkan Milli maafkan Milli"
"Kamu tidak salah sayang kamu hanyalah anak gadis Mama yang sifatnya masih sama seperti dulu yaitu tidak bisa membantah ketika ada keinginan kamu yang ingin kamu capai. Mama sadar jika selama ini Mama yang terlalu egois karena Mama cuma memikirkan keinginan Mama sendiri tanpa melihat apa kamu suka dengan kemauan itu. Jadi Mama mengijinkan kamu untuk menggapai keinginan kamu sekarang. Dan Mama memaafkan-mu jadi kamu jangan menangis lagi ya?"ucapnya sembari mengusap air mata Putrinya.
"Terima kasih Ma terima kasih, terima kasih karena Mama sudah mengijinkan Milli menggapai keinginan yang Milli inginkan terima kasih, Milli pergi bukan karena menjauh dari Mama tapi ada hal yang ingin Milli fokuskan apa Mama mengijinkan Milli untuk melakukan itu? "
"Baiklah sayang jika ini sudah jadi keinginan dan keputusan kamu Mama bisa mencegah dengan cara apa? Disana kamu bisa diawasi oleh Kakak kamu jadi pastinya kamu lebih terjaga disana kabari Mama jika kamu mendapatkan masalah ya?"
"Iya Ma sekali lagi terima kasih Ma terima kasih."
"Kapan kamu akan berangkat sayang?"
"Jika Mama mengijinkan besok lusa Milli akan berangkat, Milli akan menyelesaikan berkas pindahan Milli dengan begitu Milli bisa merasa lega tapi Mama serius gak kenapa-kenapa kan?"
"Iya sayang Mama gak kenapa-kenapa kok jika kamu bahagia Mama juga akan bahagia jadi jangan pikirkan Mama, kini sudah saatnya bagimu untuk menggapai keinginan yang kamu inginkan sayang jadi maafkan Mama maafkan Mama jika selama ini Mama sudah banyak mengatur kamu maafkan Mama."
"Mama tidak salah, Mama melakukan semua ini demi putrinya jadi Mama sangatlah tidak salah terima kasih Ma terima kasih,"ucapnya dengan memeluk erat Mamanya.
Satu hari telah berlalu. Air Mata kekecewaan yang dulunya menghantuinya kini air mata itu berubah menjadi air mata kebahagiaan.
Berdiri dengan raut wajah senyumannya, gadis itu bisa melihat dengan leluasa menara namsan yang sangat cantik dan indah yang sangat sayang untuk dilewatkan.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa menginjakkan kaki-ku dan memandang dengan leluasa menara cantik yang sudah sedari dulu ingin aku wujudkan. Ayo Milli kejarlah keinginan kamu kejarlah."
Raut wajah bahagia telah terpancar dari wajah cantiknya. Hal pertama yang ingin ia kunjungi setibanya di Seoul, ia ingin menemui Putri sebagai kejutan yang sangat tidak terduga ini.
Disalah satu ruangan kerja yang hanya ada dua manusia didalamnya, keduanya nampak sibuk dengan urusan dan kegiatan masing-masing. Tak lama ketukan pintu telah terdengar, mengijinkan untuk masuk seseorang itu langsung menemuinya.
"Iya Pak ada apa?"tanya Putri pada salah satu Satpam yang menghampirinya.
"Maaf Nyonya ada seseorang yang ingin menemui Nyonya. Katanya dia itu seseorang yang sangat Nyonya kenal apa Nyonya mengijinkan orang itu untuk masuk?"
"Seseorang siapa? Siapa Gibran kamu gak pernah bilang kalau saya mendapatkan tamu spesial hari ini?"
"Saya sendiri juga kurang tahu Nyonya, dari laporan data yang saya terima tidak ada satu pun tamu yang berniat ingin meminta pertemuan pada Nyonya?"
"Baik Nyonya saya akan menyuruhnya untuk masuk,"balasnya sesaat Satpam itu pun pergi dari pandangannya.
"Kenapa Nyonya membiarkan dia masuk begitu saja? Kalau ada apa-apa apa Nyonya akan menerima akibatnya?"
"Sudahlah Gibran kamu jangan perlu takutkan itu, saya rasa dia orang baik ya sudah kita jangan bahas lagi sebentar lagi dia akan masuk."
"Baik Nyonya."
Tepat berada dihadapan pintu ruangan yang didalamnya sudah ada Gibran mau Putri. Seseorang yang mendapatkan arahan dari Satpam untuk masuk, perlahan-lahan langkah seseorang itu mulai nampak jelas.
__ADS_1
Membuka pintu ruangan dan masuk kedalam dalam posisi siaga, Pria berjas rapi itu pun perlahan-lahan mulai menghampiri kedua manusia yang sudah menantikan kehadirannya sejak sedari tadi.
Pandangan Putri mau pun Gibran yang tadinya masih terlalu fokus pada laporan kerja yang menumpuk diatas meja. Pandangan mereka seketika dikejutkan dengan hadirnya seseorang yang sudah mulai nampak memunculkan dirinya tepat dihadapan mereka.
Bukan pandangan raut wajah bahagia mau pun senang setelah tau siapa seseorang yang menghampiri mereka. Tapi raut wajah kecewa lan tidak suka yang terlihat dari keduanya termasuk pada Wanita yang tadinya masih terduduk santai diatas kursi kuasanya.
Melihat siapa yang datang, nampak Putri seketika mengerutkan keningnya dengan tatapan benci.
"Jadi ini perusahaan besar yang mampu membuat Gibran jadi berpaling berpindah kerja disini?"ucap seseorang itu yang tak lain adalah Revan, dengan gerak-gerik Revan yang seakan-akan merendahkan Putri membuatnya Putri tambah merasa tak suka akan kehadirannya.
"Jika aku tahu orang yang berniat ingin menemui ku itu adalah kamu? Sejak awal aku tidak akan pernah mengijinkan mu untuk datang dan menginjakkan kakimu disini!"
"Apa belum puas anda menghina dan menginjak harga diri saya? Apa anda belum puas juga membuat hidup saya menderita sampai-sampai anda dengan beraninya menginjakkan kakimu dihadapan ku seperti ini. Dan yang pasti, sebelum anda berkata yang tidak masuk akal lihat dan sadarlah apa perkataan anda itu sudahlah benar. Dan satu jika anda berkata dengan bilang kalau dia selingkuhan ku maka apa bedanya dengan anda?"
"Sekarang aku sadar Gibran kenapa kamu begitu mudahnya mau menjadi sekretarisnya? Kamu mau menjadikan dia Sekretaris karena kamu ingin bersama dengannya setiap hari kan? Aku sadar ternyata selama ini dugaan ku salah! Aku menganggap jika kamu itu sangat mencintai Milli tapi nyatanya rasa cinta kamu berbeda dengan hati kamu yang sesungguhnya, jika aslinya kamu itu lebih mencintai kakaknya ketimbang adiknya jadi selamat, aku doakan semoga kamu berhasil dengannya selamanya selamat!"ucapnya yang keluar. Akan tetapi Putri sama sekali tidak menggubrisnya.
"Aku tidak tahu apa tujuan tuan tiba-tiba datang kesini. Aku tahu mungkin tindakan ku salah karena pergi dengan alasan yang tidak jelas. Jika kedatangan tuan kesini hanya untuk mencari masalah akan lebih baik tuan pergilah! Tuan sudah terlalu banyak memberinya luka jadi saya mohon berhentilah mengejar nyonya saya mohon!"
"Sekarang aku tanya apa kamu mencintainya?"
"Apa maksud tuan bertanya seperti itu?"
Entah secara kebetulan Milli yang hendak ingin menemui Putri .
__ADS_1
BERSAMBUNG.