
Sampai dikediaman Nina, Putri yang berniat ingin mengetuknya ia melihat pintu yang sudah terbuka tanpa terkunci.
"Rumah ini kenapa tidak terkunci? Nina!"
Segera berlari kedalam dan mencari Nina ke-penjuru arah, tapi ia tidak melihat Nina memunculkan dirinya tepat dihadapannya.
"Nina kamu dimana Nin kamu dimana Nin!"teriak Putri tapi tak ada sahutan yang dihasilkan.
Sesampainya ia ditempat pembelokan ruangan tamu, ia dikejutkan dengan adanya pemandangan yang sangat mengejutkan. Wajahnya yang seketika memucat bahkan raut wajahnya tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Melihat Nina yang sudah dalam berlumuran banyak darah, lantai yang dulunya putih bersih kini sekejab mata menjadi merah darah yang mengotori semuanya yang membuat pemandangan yang tak bisa dibayangkan lagi.
"Nina ...!
Teriak Putri seketika pecah, bahkan tubuhnya seketika roboh setelah ia melihat Nina yang sudah dalam kondisi tidak bernyawa secara mengenaskan. Bahkan kaca-kaca yang tertusuk ke-tubuhnya membuat darah pada berserakan seakan-akan air yang mengalir tanpa henti dari sudut mana pun.
Tangisannya pecah, berharap apa yang ia lihat saat ini hanyalah mimpi tapi apa yang ia lihat nyatanya benarlah terjadi.
"Siapa kamu?"ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakangnya.
"Mama?"
"Nina Nina ... Ada apa dengan Nina apa yang barusan kamu lakukan padanya? Apa kamu orang yang sudah membunuhnya apa kamu orang yang sudah melenyapkannya dengan cara se'sadis ini?"
__ADS_1
"Tidak Ma bukan Putri yang melakukannya bukan Putri!"
"Bohong! Kamu sangat membencinya jadi pastinya kamu pelakunya tolong ... Tolong ... Tolong ... Ada pembunuh tolong ....
Orang-orang yang mendengar suara teriakan mereka segera menghampirinya. Betapa terkejutnya mereka setelah mereka melihat dengan kepala telanjang seseorang yang tewas dengan se'sadis ini.
"Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?'
"Tangkap dia Pak dia orang yang sudah membunuh menantu saya dia orangnya."
"Tidak Pak bukan aku aku mohon percayalah bukan aku! Bukan aku.
Tak memberinya ampun para ibu-ibu mau pun bapak-bapak berbondong-bondong menyeret Putri dengan kasarnya tanpa perduli jika adanya janin yang tertanam pada perut seseorang yang sedang mereka seret itu.
"Gibran ada apa kenapa kamu tiba-tiba datang kesini bukankah tadi kamu bilang kalau kamu lagi tidak enak badan!"
"Tuan. Ada hal yang sangat penting yang ingin saya katakan pada tuan ini tidak bisa jika aku ungkapkan ditelepon.
"Hal penting apa?"
"Nyonya Nina! Nyonya Nina Tuan."
"Nina? Apa yang terjadi dengannya kenapa dengan dia? Apa dia marah-marah dan mendatangi Putri langsung?"
__ADS_1
"Bukan masalah itu Tuan. Akan lebih baik Tuan cepat datanglah ke-rumah sakit disana Tuan akan menerima jawabannya," perintah Gibran.
"Gibran cepat-lah katakan padaku apa yang terjadi padanya apa kamu jangan bikin aku cemas ada apa?"
"Maaf Tuan saya tidak bisa menjelaskannya sekarang. Akan lebih baik kita sekarang cepat pergi ke-rumah sakit disana Tuan akan tahu apa maksud saya mendatangi Tuan saat ini."
Tanpa se'ucap kata yang Gibran ucapkan. Revan segera pergi mengikuti langkahnya.
Setibanya ia di ruangan yang sudah dipenuhi dengan adanya beberapa orang yang sudah berkerumun menyaksikan sesuatu.
Dengan berbarengan suara tangisan sesegukan yang tambah semakin membuat suasana tambah semakin haru pilu.
Tatapan Revan yang memandang satu persatu kearah orang yang berada dihadapannya dengan tangisan tersedu-sedu.
Tak lama Revan segera menyelinap langsung kedalam ruangan itu. Sesampainya ia mendapati sebuah pemandangan yang menurutnya semua ini hanyalah mimpi, mimpi yang tidak mungkin terjadi.
Melihat salah seseorang yang telah berbaring lemas diatas brangkar tanpa senyuman atau pun sahutan yang diberikannya. sedangkan Revan yang mulai menghampirinya langkahnya mulai melemah bahkan serasa ia tidak kuat untuk menahan langkah kakinya sendiri.
SEKALIAN MAAF IJIN PROMO KARYA TEMAN-KU YA CERITANYA SANGAT SERU DAN PASTINYA SANGAT SAYANG UNTUK DILEWATKAN YUK MAMPIR DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA YA TERIMA KASIH 🥰
BERSAMBUNG.
__ADS_1