Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 100


__ADS_3

"Jangan nangis sayang." kata Davi lemah kala sejak sampai di rumah orang tuanya istrinya itu tak kuasa menahan tangis, beruntung Davi gegas mengajak Zara ke dalam kamarnya ketika menyadari kedua bola mata istrinya sudah di penuhi oleh buliran air mata, dia tidak mau orang tuanya mengetahui permasalah yang tengah dia hadapi, sebenarnya dia tidak berniat menyembunyikan apapun tapi di lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat tidak ingin orang tuanya turut pusing dan khawatir akan apa yang dia hadapi sekarang ini.


Dia sudah dewasa dan sudah menikah, sudah sepatutnya dia menyelesaikan masalahnya sendiri selama dia yakin bisa menghadapi itu semua tanpa harus merepotkan Ayah dan Mamahnya.


Zara masih terus mengeluarkan isakan lirih yang menyanyat hati suaminya, di dalam dekapan sang suami wanita itu terus meneteskan air mata.



Wanita mana yang tidak akan sedih seperti ini jika baru saja menikah harus di tinggalkan oleh suaminya untuk sebuah urusan yang menyakitkan hatinya, urusan tentang seorang wanita yang hamil dengan lelaki lain tapi malah suaminya yang sekarang di tuntut untuk bertanggung jawab.


Pedih? sudah pasti itulah yang Zara rasakan saat ini. Marah? jelas ia sangat marah jika saja Davi mau mengajaknya tentu Zara akan senang hati untuk melabrak Lisa juga orang tuanya yang begitu egois dan ngotot meminta pertanggung jawaban pada suaminya, ia sangat percaya pada suaminya, suaminya sudah bersumpah bahwa bukan dialah Ayah dari anak yang sekarang sedang tumbuh di rahim mantan kekasihnya itu, dan Zara sangat yakin itu.


Zara tak menjawab apalagi berniat untuk menghentikan tangisannya, biarlah ia menangis saat ini untuk melegakan hatinya nanti sambil menunggu suaminya kembali padanya.



Davi memejamkan matanya kala sang istri tak juga meredakan tangis pilunya, telapak tangannya pun berinisiatif untuk menepuk-nepuk punggung wanita tercintanya itu, wanita yang dulu sangat menyebalkan baginya namun juga sulit dia lupakan hingga membuatnya tak bisa tidur dengan tenang selama bertahun-tahun.



Setengah jam kemudian akhirnya Zara pun mulai tenang, tangisan yang tadi terdengar pun perlahan menghilang berganti dengan tarikan napas yang seolah mengisyaratkan betapa sesaknya wanita bertubuh kurus menurut suaminya itu.


__ADS_1


Merasa istrinya sudah mulai tenang Davi pun melepaskan dekapannya lalu memegang bahu sang istri, membuat mereka saling menatap tangan Davi terulur guna menghapus sisa air mata di bawah mata istrinya.



"Aku janji tidak akan lama Za, Aku akan selesaikan dengan cepat, tidak akan terjadi apapun padaku." tutur Davi menenangkan wanita yang ada di depan matanya, wanita cantik sang pramugari yang kini tampak sangat pucat karena tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan suaminya.



Mendengar janji dari suaminya itu bahu Zara malah bergetar menandakan bahwa wanita itu sudah siap untuk kembali mengeluarkan air matanya.



"Suuuuuut." tukas Davi seraya menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dia tidak ingin melihat istrinya itu kembali menangis.




Davi menggeleng. "Tidak." larangnya, dia tidak mau Zara bertemu dengan orang tua Lisa, Davi tau betul bagaimana perangai dua orang tua itu. tidak berbeda jauh dengan Lisa, keras kepala mau menang sendiri dan apa yang mereka inginkan harus di dapatkan. ya sepertinya Lisa memang menuruni sifat orang tuanya terlihat jelas dari semua yang sudah Lisa lakukan selama ini.



"Bukankah besok kamu sudah harus kembali terbang." kata Davi, karena sebelumnya Zara memang sudah memberitahu dirinya bahwa ada jadwal penerbangan esok hari.

__ADS_1


"Ini saatnya kamu untuk menikmati pekerjaan kamu sebelum mengundurkan diri sayang. dan setelah itu kamu tidak akan aku biarkan untuk bekerja, kamu hanya boleh mengurus aku menunggu aku dengan manis di rumah kita." kata Davi lembut seraya memberikan senyum, sebuah senyum yang sangat mendamaikan hati Zara yang sejak semalam begitu gelisah.


"Tapi.."


"Tidak ada kata tapi! selesaikan pekerjaan kamu dengan baik, atau aku akan meminta kamu untuk berhenti bekerja hari ini juga!" ancam Davi dengan wajah yang di buat serius, hanya berniat memberikan ancaman saja meski tidak akan membuktikan ancamannya itu, karena dia sangat mengerti perasaan istrinya yang sejak dulu bercita-cita untuk menjadi pramugari, sangat kejam rasanya jika dia memaksa istrinya untuk berhenti bekerja sekarang ini.


Zara menghembuskan napasnya dengan sangat panjang lalu mengangguk. "Cepat pulang, jika kamu tidak pulang dalam tiga hari aku akan menyusul kamu dan mengunci kamu di dalam kamar agar tidak bisa kemana-mana!" Davi mengerutkan kedua alisnya mendengar peringatan dari sang istri lalu mengulas senyum.



"Kalau begitu aku tidak akan pulang, biar kamu datang dan mengunci ku di kamar, karena kita bisa melakukannya berkali-kali." kata Davi menyebalkan.



"Hanya kamu yang ada di kamar, aku tidak mau mengunci diri dengan kamu." Zara mendesis tajam.



Davi tersenyum samar lalu kembali menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya, mengecupi seluruh wajah wanita itu tanpa henti karena sebentar lagi dia sudah harus berangkat ke Australia mengurus masalah kurang ajar yang di buat oleh Robert dan juga Lisa, masalah tak tau diri yang mengganggu dirinya sebagai seorang pengantin baru.



\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2