
Zara dan teman-temannya sedang memainkan sebuah permainan dan siapa yang kalah akan mendapatkan hukuman dan harus menjalankannya.
Sejak tadi sebenarnya Zara terus saja memprotes hukuman nyeleneh yang harus dilakukan oleh yang kalah.
Bayangkan mereka yang kalah di paksa harus berkenalan dengan orang-orang Australia yang ada di cafe itu, tidak pandang bulu mau tua ataupun muda yang jelas mereka harus berkenalan.
"Nggak apa-apa Zara, sekalian kamu cari kenalan bule, katanya kan mau punya suami bule." celoteh Titi saat Zara tidak terima dengan hukuman yang harus ia jalankan karena saat ini ia kalah dalam bermain.
"Kamu sama aku aja Bian, tipe Zara bukan cowok indo soalnya." ucap Sinta yang juga pramugari kepada Abian yang nampak tidak suka mendengar pernyataan seniornya barusan tentang suami bule yang sedang di cari oleh Zara.
"Nyerah aja Bi, nyerah." timpal Dewa yang duduk di sebelah Abian yang semakin menekuk wajahnya.
"Syut, berisik." Reni pun ikut bersuara.
Sedangkan Zara kini sedang menoleh kesana kemari mencari orang Australia yang akan ia ajak berkenalan.
"Itu aja Zara." kata Sinta seraya melihat kearah meja yang tak jauh dari tempat mereka.
"Dari tadi yang dua itu kayaknya lihat kesini terus, lebih gampang ngajak kenalannya." sambung Sinta mengatakan apa yang sejak tadi dilakukan oleh kedua lelaki berambut pirang dan bermata biru itu pada mereka.
"Nah tuh, ya udah itu aja." sambut Titi.
"Kalau kamu nggak mau nggak usah Zar." Abian masih berusaha agar Zara tidak mengajak lelaki itu berkenalan.
"Diam Abian!" sontak saja yang lainnya meminta Abian untuk diam.
Zara hanya menahan senyum manakala melihat wajah Abian makin di tekuk karena di keroyok oleh teman-temannya yang lain.
"Cepat Zara." rupanya Sinta sudah tidak sabar melihat Zara menjalankan hukuman yang tadi juga sudah di lakukan oleh Reni, tapi sialnya Reni malah mendapat Omelan oleh istri dari lelaki yang ia ajak berkenalan.
"Kalau tiba-tiba istrinya Dateng lagi kayak Reni tadi gimana?" Zara tampak ragu seraya melihat Reni, cukup saja Reni yang mendapat makian dari wanita Australia, tidak perlu dirinya.
__ADS_1
"Nggak mungkin kayaknya, tuh mereka bertiga kelihatan masih muda kok, lagian si Reni mah ngaco, udah tahu ada istrinya tuh bule malah dia ajak kenalan." sahut Titi tentang kekonyolan Reni yang malah mendatangi lelaki yang bahkan di sebelahnya ada seorang wanita sedang duduk memainkan HP.
Zara menarik napasnya lalu mengeluarkan perlahan sebelum akhirnya beranjak dari kursi yang ia tempati, namun sebelum melangkah ia kembali merasakan debaran jantungnya, debaran yang sama seperti saat ia akan berangkat ke Australia.
Namun wanita cantik itu mulai mengabaikannya, ia merasa itu hal yang cukup wajar mungkin karena dirinya yang memang belakangan ini menjaga pola makannya karena tidak ingin berat badannya itu bertambah dan selalu mengkonsumsi teh diet setiap malam.
Zarania melenggang gontai menuju meja yang di tempati oleh tiga orang pria dan dua dari pria itu tak hentinya melihat kearah dirinya dan semakin tersenyum lebar manakala wanita yang sejak tadi mereka perhatikan tengah mengarah pada tempat mereka berada.
"Hallo." Sapa Zara ketika sudah sampai di tempat pria-pria itu.
"Hallo." sahut dua orang itu berbarengan sedangkan atau orang pria lagi tampak sedang menunduk sibuk dengan HP yang ada di tangannya.
Davi tengah berkirim pesan dengan kekasihnya, Lisa, bahkan seperti tidak mendengar bahwa ada seorang wanita yang mendatangi meja mereka.
"Boleh kenalan?" kata Zara dengan bahasa asing uang cukup baik,apalagi kalau bukan karena pekerjaannya sebagai seorang pramugari yang di tuntut untuk bisa berbahasa asing apapun itu, agar tidak kebingungan saat ada penumpang Drai negara lain yang menaiki pesawatnya.
"Oh tentu." sahut Robert dan Lugo bersamaan dengan begitu antusiasnya dan wajah yang memerah, mungkin karena cuaca yang mulai dingin tapi hal itu tidak berlaku bagi Zara sebab terlihat dari pakaian yang ia kenakan sekarang ini, ia hanya memakai kaos serta celana jeans saja padahal sejak keluar hotel tadi ia sudah di ingatkan untuk memakai jaket karena sebentar lagi Australia akan memasuki musim dingin dan akan semakin terasa dingin saat angin malam berhembus.
"Indonesia sedang sangat panas, jadi biarkan aku menikmati musing dingin di negara orang ini." jawaban Zara yang membuat temannya kompak menggelengkan kepala.
"Rania." Zara menyebutkan namanya seraya menyodorkan telapak tangan dan di sambut bergantian oleh Lugo dan Robert dengan menyebutkan nama mereka.
"Senang berkenalan dengan kalian." kata Zara yang ingin cepat kembali menuju temannya yang sekarang tengah memperhatikan dirinya terutama Abian yang seperti tidak rela Zara berkenalan dengan lelaki lain bahkan sampai berjabat tangan.
"Oh kenalkan teman kami juga." kata Lugo membuat Zara tak jadi beranjak dari tempatnya berdiri sekarang ini.
"Kamu juga belum duduk dan Minum bersama kami, sepertinya kamu dari Indonesia?" timpal Robert yang berharap Zara mau duduk dan lebih lama bersama mereka.
"Oh ya benar sekali saya dari Indonesia." ujar Zara.
"Sama seperti teman kami ini, dia juga Drai Indonesia." kata Robert ke arah Davi yang tidak juga berpaling dari layar HPnya.
__ADS_1
"Ayo kenalan, siapa tahu kalian bisa bertemu di Indonesia." imbuh Lugo lagi.
"Maaf, saya tidak terlalu tertarik dengan pria Indonesia." sahut Zara yang tepat berdiri di samping Davi dan anehnya baru setelah mendengar pernyataan Zara barusan Davi pun meletakkan HPnya ke atas meja merasa kesal dengan ucapan yang baru saja dia dengar.
"Saya pun juga tidak suka dengan wanita seperti an.." perkataan Davi terhenti ketika mengangkat wajahnya dan melihat seraut wajah yang masih sangat dia ingat tengah menatap kearahnya, mata mereka saling bertemu dengan Zara yang bersikap sangat tenang.
"Zara." bibir Davi bergerak tanpa suara melihat wanita yang berdiri di samping.
Kekagetan Davi sangat berbeda jauh dengan Zara yang seperti tidak terjadi apa-apa.
"Oke kalau gitu, saya permisi. sampai jumpa." ujar Zara lalu pergi begitu saja seraya melambaikan tangan pada Robert dan Lugo, Zara sama sekali tidak menatap Davi yang jantungnya seperti berhenti bekerja dengan semestinya matanya menatap kosong ke tempat dimana Zara berdiri tadi.
Zara berjalan tenang menuju teman-temannya yang sudah menunggu seraya menghembuskan napasnya seperti tengah mengeluarkan beban yang sangat berat dengan tangan yang terus menyentuh bagian dada kiri dimana jantungnya saat ini yang berdebar sangat cepat.
"Lelaki brengsek." gumamnya seraya duduk membuat Reni yang ada di sampingnya mengerutkan kening tak mengerti kenapa Zara tiba-tiba mengumpat seperti itu.
"Mereka nggak melakukan pelecehan kan?" tanya Reni pelan karena tidak mau yang lain mendengar.
"Nggak." geleng Zara.
"Terus kenapa kok bilang lelaki berengsek?!" tukas Reni ingin tahu.
"Udahlah nggak usah di bahas." sahut Zara.
Sedangkan Davi masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat, wajah, suara, mata itu Davi masih sangat ingat, itu semua milik Zara wanita yang dulu dia kecewakan, jika itu bukan Zara kenapa wanita itu sangat mirip dengan mantan kekasihnya? tapi andaikan itu benar Zara sedang apa dia di Australia sekarang ini? batin Davi terus berpikir hingga akhirnya dia memutar tubuhnya untuk memastikan siapa sebenarnya wanita yang barusan berdiri di sampingnya.
Sepertinya kekagetan Davi membuatnya tidak bisa berpikir logis tentang nama yang tadi di sebutkan oleh wanita itu, Rania, itu adalah kepanjangan dari Zarania.
Davi terus melihat ke tempat dimana Zara duduk sekarang ini namun posisi Zara yang membelakanginya membuat dia tidak bisa melihat wajah wanita yang membuatnya hampir mati tak percaya.
****
__ADS_1