Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 20


__ADS_3

Pagi hari..


"Wah tuan putri baru bangun?" Dira berkata sinis saat Zara yang memang baru keluar dari kamarnya tengah menuruni anak tangga.


Sebenarnya Zara sudah bangun dari pagi-pagi buta bahkan sebelum saudara tirinya itu bangun.


Zara bangun pagi untuk menyapu serta mengepel lantai mencuci lalu membuatkan sarapan yang sekarang tengah dinikmati oleh Dira.


Mereka memakan hasil masakan Zara tapi tetap saja mencibir Zara yang sudah bersusah payah melayani mereka.


"Kalau gue baru bangun nggak bakalan lu bisa makan sarapan tepat waktu." sahut Zara dengan nada ketus seraya menuju dapur untuk mengambil bekal yang sudah ia siapkan untuk dibawa ke sekolah.


"Dih, ini kan buatan Mamah gue." sepertinya Dira lupa bahwa Mamahnya sedang tidak ada di rumah.


Zara menautkan alisnya mendengar Dira mengatakan bahwa Mamahnya lah yang membuatkan sarapan itu.


"Heh, Lu lagi ngelindur? Mamah lu nggak ada." Zara berkata dengan begitu sengit mengingatkan Dira tentang Mamahnya yang tengah pergi keluar kota.


Ekspresi Dira langsung berubah begitu aneh mendengar ucapan Zara, dan tentu ia pun jadi ingat bahwa memang sang Mamah yang biasa membangunkan dan membuatkan sarapan untuknya sedang pergi.


"Pantes aja gue bisa bangun sendiri." celetuk Dira yang baru sadar bahwa tadi ia bangun lebih cepat padahal ketika ada sang Mamah ia tidak akan bangun sebelum terdengar gedoran dipintu kamar dengan disusul dengan suara Mamahnya yang memintanya untuk bangun karena harus bersekolah.


"Orang aneh." cibir Zara seraya melenggang keluar.


"Elu tuh yang aneh, pergi sama siapa pulang sama siapa." teriak Dira yang membuat langkah Zara terhenti padahal ia sudah akan keluar rumah untuk berangkat ke sekolahnya.


"Ngomong apaan lu?!" tanya Zara dengan wajahnya marah.


"Sok polos banget lagi." sindir Dira saat Zara bertanya seolah tidak tahu apa yang tengah ia bicarakan.


"Lu tuh murahan banget ternyata, pergi sama Davi tapi pulang sama Saipul." kata Dira yang ternyata mengintip Zara saat pulang diantar oleh Ipul semalam.


"Terus masalah lu apa?"


"Lu Maruk, sok kecakepan banget." lanjut Dira mengatai Zara, ia merasa cemburu Zara bisa dekat dan akrab dengan Saipul yang kaya dan Davi yang memang terbilang tampan tanpa tahu bahwa Saipul dan Davi adalah sepupu, jika Dira tahu makin panas sajalah hatinya dipenuhi dengan kedengkian yang menggunung karena Zara bisa mendapatkan dua lelaki yang bahkan masih ada hubungan darah.


Zara sudah terlihat begitu gemas dan tidak terima dengan perkataan Dira yang menuduhnya seenak mulutnya itu.

__ADS_1


"Apa lu." Dira malah semakin menantang Zara yang tangannya sudah terkepal.


Namun suara klakson dari arah luar membuat Zara dan Dira langsung berlari berbarengan menuju pintu luar untuk melihat siapa yang datang.


"Davi." gumam Zara ketika melihat sosok yang sekarang duduk di atas motor dibalik pagar besi yang masih tertutup.


Davi yang melihat Zara melongok dari pintu lantas memanggil wanita itu untuk mendekat.


Hal yang aneh karena sepagi ini dirinya sudah nongkrong didepan rumah orang, padahal biasanya jam segini Davi baru akan bangun tentunya datang sekolah jika sudah mepet dengan bel sekolah yang sebentar lagi akan berbunyi.


"Zara." teriaknya dengan suara serak, sungguh suara yang menggoda apalagi ketika mereka sedang ber teleponan, membuat Zara menjadi terhanyut sendiri.


Meski malas akhirnya Zara menghampiri pemuda itu dengan tas yang sudah berada di punggungnya.


Namun secara tidak disangka Dira malah berlari mendahului Zara dan menuju ketempat Davi entah mau melakukan apa wanita itu sekarang Zara hanya melihat sambil mengunci pintu rumah yang memang hari ini akan kosong jika mereka berdua pergi sekolah karena Dewi sedang tidak ada.


"Ngapain lu?!" desis Davi ketika melihat malah Dira yang sekarang mendekat.


Davi yang memang tidak pernah bisa bersikap ramah pada Dira langsung menunjukkan raut wajah tak begitu senang, kesalnya yang semalam masih tersisa karena Zara memilih pulang dengan Ipul tapi sekarang malah harus ditambah dengan tampang Dira yang dipandangnya sangatlah menyebalkan, sok manis padahal kenyataannya sangatlah berbeda.


"Gue numpang dong, lu mau nganter Zara kan?" Dira malah dengan konyolnya meminta tumpangan pada Davi.


Permintaan yang ngaco karena Davi yang hanya menaiki motor tapi Dira seenaknya meminta tumpangan, tentunya tanpa berpikir panjang Davi akan menolaknya, yah sekalipun dia membawa mobil sepertinya Davi akan tetap menolak Dira numpang di mobilnya.


"Minta cowok lu jemput sana." ketus Davi.


"Zara." panggilnya lagi ketika Zara belum juga menghampiri dirinya.


"Hhmm."


"Naik." perintahnya begitu Zara sudah berdiri di samping motornya.


Zara menggeleng.


"Aku naik jalan kaki aja." tolak Zara.


Davi mendengus saat mendengar Zara menolak ajakannya padahal dia sudah sengaja bangun pagi agar bisa menjemput kekasihnya itu yang semalam dibawa kabur oleh Adik sepupunya.

__ADS_1


"Mau jalan kaki apa lagi nunggu dijemput Ipul?" sindir Davi yang membuat Zara membelalak, ia heran kok Davi bisa mengenal Ipul?


Padahal selama ini ia merasa tidak pernah membicarakan Saipul kepada Davi, dan sebaliknya Davi pun tidak pernah menyebut-nyebut bahwa dia mengenal Ipul.


Terang saja sekarang Zara agak terkejut mendengarnya.


"Iya lah palingan dia mah nungguin Ipul, udah janjian tuh dia sama Ipul, orang semalam aja pulangnya dianter sama si Ipul." Dira menyamber saja persis seperti api yang disiram bensin, nyerocos berniat mengompori Davi agar marah pada Zara.


Mendengar ocehan Dira membuat Zara kesal hingga akhirnya ia dengan cepat naik ke atas motor Davi dan memeluk pinggang Davi untuk membuat Dira kesal, apalagi tadi wajah Davi sudah terlihat akan marah mendengar Dira mengoceh.


"Ayo cepet jalan." ajak Zara pada Davi dengan matanya yang menatap sinis Dira.


Motor pun perlahan melaju dengan Zara yang sengaja memberikan cebikkan bibir kearah Dira yang nampak kesal.


Setelah jauh dari rumah Zara pun meminta Davi untuk berhenti.


"Berhenti."


"Mau ngapain?" tanya Davi yang malas menuruti ucapan Zara terbukti dari motornya yang tetap melaju padahal Zara memintanya untuk berhenti.


"Aku mau turun." sahut Zara.


"Nggak boleh!!" tolak Davi tegas.


"Kamu jemput aja si Dinda sana." Zara mulai mengungkit nama Dinda, tidak dipungkiri ia masih sangat kesal dengan kejadian semalam, sebagai seorang wanita yang mencintai kekasihnya tentulah yang sekarang dirasakan oleh Zara sangatlah normal, cemburu ketika ada wanita lain yang mendekati kekasihnya bahkan dengan sangat berani mencium kekasihnya itu, wanita manapun sepertinya akan merasakan apa yang Zara rasakan saat ini.


"Oh bagus omongin aja terus Dinda, aku jangan dipikir aku nggak marah ya kamu pulang sama Saipul!" Davi yang tidak mau terus disalahkan malah sekarang gantian membawa-bawa Ipul.


"Kok sekarang malah Ipul yang kamu omongin?!" tampak tidak terima temannya terbawa dalam pertengkaran yang menurut Zara berawal dari Dinda namun menurut Davi kekesalannya berawal dari Ipul.


Jadi mereka berdua sama-sama mempunyai orang yang disalahkan atas pertengkaran mereka.


Mereka saling beradu argumen karena tidak mau terlihat salah, bertengkar di atas motor disepanjang jalan menuju sekolah.


Berulang kali Zara hendak turun ketika motor tengah berhenti karena macet, namun tangan Davi malah memegangi tangan Zara dengan kencang.


Terus begitu hingga akhirnya motor berhenti dipintu gerbang sekolah Zara yang seperti biasa masih tertutup rapat.

__ADS_1


***********


__ADS_2