
Apa yang Zara ketahui beberapa hari lalu benar-benar bagaikan sambaran petir baginya, membuat dia bahkan tidak sanggup untuk melihat suaminya, beberapa hari inipun dia sama sekali enggan berbicara tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya meskipun dia masih tetap mempersiapkan semua yang suaminya butuhkan, berulang kali Davi mengajaknya berbicara terus mencoba memohon untuk di maafkan namun tanggapan Zara tetap sama, hanya diam.
Tanpa Davi tahu setiap kali dirinya pergi, istrinya itu akan dengan leluasa menunjukkan betapa rapuhnya seorang istri kala mengetahui suaminya tidur dengan wanita lain, hancur yang tak terkira dan tidak pernah dia bayangkan, bahkan berulang kali menyalahkan dirinya sendiri karena kelalaiannya sebagai istri hingga semua itu terjadi.
Saat ini dia membutuhkan seseorang untuk bisa dijadikan tempatnya mengadu, namun dia merasa tidak punya siapapun, dia tidak ada tempat untuk berkeluh kesah hingga harus memendam semua yang dia rasakan seorang diri.
Entah sudah berapa banyak air mata yang mengalir bebas dari kedua matanya membuat kelopak matanya membengkak tidak karuan, sepertinya menangis sudah menjadi kegiatan rutin dan menjadi bagian dari dirinya saat Davi tidak ada di apartemen.
Suara deringan dari handphone yang ada di sebelahnya menghentikan kegiatannya menangis untuk sesaat guna menjawab panggilan dari sang penelepon.
"Aku akan datang," suara Zara terdengar di buat sedatar mungkin ketika si penelepon menyampaikan maksudnya.
Panggilan sudah terputus membuat Zara kini hanya menggenggam benda yang tadi membuatnya berbicara dengan seseorang itu, cengkeraman terlihat sangat erat menunjukkan urat tangannya yang berwarna kehijauan, lalu menahan napas sebelum akhirnya menghapus sisa air mata yang membekas di kelopak matanya dan juga kedua pipinya.
Tak lama berselang Zara keluar dari apartemen dengan perutnya yang jelas terlihat, sepanjang jalan menuju lift tangannya sibuk mengelus perutnya itu, seperti tengah memberikan ketenangan pada makhluk kecil di dalamnya.
Naik ke dalam taksi yang kini membawanya menuju sebuah cafe bernuansa outdoor tempat dia akan bertemu dengan seseorang yang tadi menghubunginya.
Sepanjang pikirannya hanya fokus pada masalah yang mau tidak mau harus dia hadapi, masalah yang tidak pernah sekalipun terbayang akan ada dalam hidupnya membawanya terpaksa mengingat kembali semua hal buruk yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Tentang bagaimana hidupnya saat tidak ada lagi seorang Ibu dan masa-masa remajanya yang harus berjuang melawan keberingasan Ibu tiri dan juga saudara tirinya, dan ingatan bagaimana perkosaan itu pernah terjadi pun berebut merasuki kepalanya membuat dia yang tadinya tenang harus merasakan kepalanya seperti tertimpa sebuah batu besar.
__ADS_1
Sakit! Zara merasakan kepalanya sangat sakit hingga akhirnya membuat dia menjerit membuat sang supir terpaksa menghentikan kendaraannya.
"Apa yang terjadi Nona?" tanya si supir seraya memutar tubuhnya melihat Zara di kursi belakang yang kini tengah memegangi kepalanya.
Tidak ada jawaban yang Zara berikan membuat pria itu menjadi lebih khawatir sehingga menawarkan untuk membawanya ke rumah sakit.
Tentunya pria itu tidak ingin terjadi sesuatu pada penumpangnya, terlebih penumpangnya itu saat ini masih berada di dalam mobilnya, bukankah jika terjadi sesuatu yang serius dialah yang akan terlibat masalah? dan pria itu tidak mau urusan menjadi runyam nantinya, karena jelas dia akan berurusan dengan pihak kepolisian.
"Tidak perlu, tolong lanjutkan perjalanan," akhirnya Zara mengeluarkan suaranya setelah menekan rasa sakit yang tiba-tiba saja muncul.
Mata Zara menatap sebuah tempat yang memang menjadi tujuannya, tadi setelah membayar ongkos taksi dia segera turun meskipun kepalanya masih merasakan sisa denyutan sakit yang menyerangnya.
Sebenarnya sejak tadi kakinya terasa sangat berat untuk melangkah ke tempat ini, berat untuk bertemu dengan orang yang sudah kembali menanamkan sebuah kesakitan yang berusaha keras untuk dia sembuhkan, tapi dia tetap menyetujui untuk bertemu saat orang itu menghubunginya.
__ADS_1
Kedua kakinya mulai berjalan menyusuri jalan menuju cafe yang berada di luar ruangan, terlihat pemandangan yang cukup indah tapi tetap tidak bisa membuat hati Zara bahagia, ada kesakitan yang terselip sepanjang langkahnya.
Langkahnya terhenti ketika tak jauh dari tempatnya berdiri dia melihat wanita yang sedang menunggunya, seorang wanita yang beberapa bulan menjadi teman terbaiknya di negara ini dan dalam waktu sehari sudah menjadi wanita yang paling dia benci di dalam hidupnya.
Wanita itu menyadari kedatangan Zara dan kini menanti Zara mendatangi tempatnya berada.
Zara berjalan mendekat lalu segera duduk tanpa di minta lebih dulu, tidak ada sedikitpun senyum yang biasa Zara tunjukkan membuat Aleyara pun tidak jadi menampilkan senyum di wajahnya.
Memangnya istri mana yang mau tersenyum pada wanita yang sudah tidur dengan suaminya? sepertinya hanya wanita gila yang akan melakukan hal itu.
\*\*\*\*\*
__ADS_1