Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 57


__ADS_3

Zara yang beberapa jam lalu baru saja sampai di Australia dan sekarang tengah berada di kamar hotel yang memang selalu disediakan oleh maskapai tempatnya bekerja setiap kali keluar kota dan harus menginap beberapa hari sambil menunggu jadwal pesawatnya kembali terbang ke Indonesia dengan membawa penumpang.


Wanita dengan tubuh yang sungguh terawat itu terlihat sangat malas untuk pergi kemana-mana bahkan ketika dua orang rekan pramugarinya yang juga tidur sekamar dengannya mengajaknya keluar untuk sekedar mencari hiburan, Zara menolak dan memilih untuk tetap berada di kamar hotel itu dan tiduran di atas ranjang.


"Ayo dong Zara kita keluar sebentar." suara Reni mengganggu ketenangan Zara yang sedang memejamkan mata.


Reni yang memang masih terus berusaha untuk mengajak Zara keluar.


"Besok aja Ren, Aku ngantuk." keluh Zara tanpa membuka matanya.


Zara sungguh ingin tidur saat ini apalagi melihat langit sudah sangat gelap, ya pesawatnya berangkat siang lalu sampai 4 jam kemudian belum lagi perbedaan waktu antara Indonesia yang beberapa jam membuat langit Australia sudah lebih dulu gelap di banding Indonesia, lagi pula berjam-jam di dalam pesawat membuatnya butuh mengistirahatkan tubuhnya. akan tetapi sepertinya itu tidak berlaku untuk teman-temannya yang lain, buktinya baru beberapa jam sampai mereka sudah mulai sibuk mengatur rencana untuk keluar dari hotel dan berkunjung ke tempat yang sudah mereka incar sebelumnya.


"Gimana mau dapat suami bule Zara kalau setiap sampai di negara orang kamu langsung asik bergumul dengan kasur dan selimut." omel Reni yang selalu ingat dengan perkataan Zara yang akan mencari pacar bule meskipun ia tahu bahwa ada Abian yang menyukai Zara namun Reni tidak mau pusing jika memang Zara tidak suka pada Abian.


"Cinta memang tidak bisa di paksakan." begitu kata Zara ketika Reni memintanya untuk membalas perasaan Abian.


Mendengar pernyataan Reni Zara malah menyumpal telinganya dengan bantal, tak mau mendengar ocehan temannya.


"Zaraaa." kali ini satu suara yang cempreng muncul hingga Zara mau tak mau langsung terduduk, suara siapa lagi kalau bukan suara seniornya Titi yang akan ngoceh panjang lebar tak henti jika Zara tak juga mau menuruti kemauan mereka.


"Iya Mbak aku ikut." kata Zara pada wanita yang lebih tua darinya itu seraya bergegas turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti pakaian.


"Dari tadi harusnya Mbak." kata Reni pada Titi sambil mengulas senyum jahil.

__ADS_1


Titi hanya tersenyum tipis lalu berjalan menuju meja dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut dan sedikit memoles wajahnya dengan riasan.


"Ayo." ajak Zara ketika keluar dari dalam kamar mandi pada dua wanita itu.


"Gitu aja?" kata Reni ketika melihat Zara dengan kaos putih dan celana jeansnya dan rambutnya di kuncir asal.


"Mau gimana lagi?" kata Zara yang memang enggan berdandan jika sedang tidak berada di dalam pesawat sebagai pramugari, baginya wajahnya sudah cukup lelah dengan berbagai alat make up ketika bertugas sudah sepantasnya saat ini ia mengistirahatkan wajahnya.


"Dia nggak dandan juga udah cantik." timpal Titi yang memang sangat menyukai wajah Zara ketika tidak memakai makeup apapun, wajah polos dari Zara cukup mengagumkan baginya yang seorang wanita.


"Iya sih." imbuh Reni akhirnya menyetujui ucapan Titi.


"Nah nggak heran kan kalau si Abian makin mabuk kepayang." tutur Titi seenaknya seraya melenggang menuju pintu tak peduli dengan bibir Zara yang berwarna merah muda alami di majukan mendengar omongannya.


Mereka bertiga langsung bergabung dengan dua orang pramugara dan satu lagi pramugari yang satu kamar dengan Titi yang memang sudah menunggu, sedangkan pilot dan co-pilot mereka memilih tidak ikut karena ingin beristirahat dan pastinya menghubungi istri-istri mereka masing-masing.


Mereka berenam pun langsung pergi, entah mau pergi kemana Zara tidak tahu menahu dengan tujuan teman-temannya itu.


Di sebuah cafe yang cukup terkenal karena pemandangannya yang indah terlihat 3 orang lelaki yang sepertinya tengah melakukan perpisahan karena 3 hari lagi salah satu dari mereka akan kembali ke negara kelahirannya yah meski mereka tahu lelaki itu akan kembali lagi karena mempunyai tanggung jawab di tempatnya sekarang ini.


Salah satu dari mereka memang orang Indonesia dan sudah bertahun-tahun tinggal di Australia hingga cukup fasih menimpali omongan kedua teman bulenya itu.


Sesekali lelaki itu tersenyum yang akan memamerkan giginya yang gingsul, nama lelaki itu adalah Daviandra Arrayan, rupanya dia hidup dengan baik meskipun tidak bersama orang tuanya dan tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan dan gagah pantas jika banyak wanita bule yang menaruh hati padanya, tapi ternyata Davi menjatuhkan pilihannya pada wanita Indonesia bernama Lisa yang tak sengaja dia temui di sebuah pusat perbelanjaan di salah satu kota di Australia.

__ADS_1


"Lu akan tinggalin Lisa dong?" tanya teman Davi Robert. (Anggap aja mereka lagi pake bahasa Inggris).


"Gue pasti balik ke sini lagi bro." sahut Davi.


"Lagi ngaco lu, dia kan punya perusahaan disini, siapa yang mau ngurusin kalau dia nggak balik lagi." timpal Lugo yang sedari tadi matanya terus mengawasi sekelompok orang yang baru saja datang dan duduk tak jauh dari meja mereka.


"Tuh kayaknya orang Indonesia." kata Lugo pada Davi dan Robert.


Davi dan Robert pun mengabaikan pernyataan Lugo tanpa menoleh.


"Siapa aja bisa datang ke tempat ini." kata Robert seraya meminum minumannya.


"Bodynya bagus-bagus." kata Lugo yang tidak juga mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah di depannya itu.


Merasa penasaran akhirnya Robert pun ikut melihat apa yang sekarang sedang di lihat oleh Lugo dengan pandangan kagum mengalahkan pemandangan indah di sekitarnya dari cafe terbuka yang berada di atas gedung ini.


"Yang baju putih luar biasa." akhirnya mulut Robert mengeluarkan pujiannya untuk sang wanita yang langsung terlihat di matanya itu.


Davi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja mendengar ocehan dua orang temannya itu tanpa mau tahu apa dan siapa yang sedang menjadi pusat perhatian dua orang di depannya.


****


Zara tengah tertawa mendengar lelucon dari teman-temannya tanpa menyadari ada dua pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya, memperhatikannya dengan pandangan tajam seperti tengah menelanjangi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2