Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 17


__ADS_3

"Itu Davi mau kemana?" tanya Zara ketika melihat Davi menjauh dari tempatnya dan sekarang sudah terlihat dengan teman-temannya yang lain dan tidak dikenal oleh Zara.


Bahkan Zara sampai harus berdiri dari duduknya untuk melihat Davi yang tengah berada di atas motor seraya memainkan gas hingga menimbulkan suara yang cukup berisik berbarengan dengan pemuda lainnya yang melakukan hal sama dengan yang dilakukan oleh Davi.


"Mau balapan Zar." celetuk Rian yang sebelumnya sudah berkenalan dengan Zara.


Mata Zara membulat sempurna mendengar celetukan Rian tentang Davi yang akan balapan, pantas saja kekasihnya itu terlihat sibuk dengan motor yang entah milik siapa Zara tidak tahu yang jelas bukan motor yang tadi dipakai Davi untuk menjemput Zara.


"Mau kemana?" tanya Rian ketika Zara mulai melangkah.


"Mau larang Davi supaya jangan balapan." sahut Zara yang memang tidak suka dengan balapan motor apalagi itu adalah balapan liar, tentu ia tidak mau terjadi hal yang buruk terhadap Davi.


"Biarin aja, udah biasa dia jadi joki balap kayak gitu, lagian percuma dilarang juga nggak bakalan didengerin sama dia." kata Rian melarang Zara untuk tidak usah bersusah payah menghentikan Davi agar tidak balapan.


Zara melirik Rian dengan tajam, lalu melangkah begitu saja tidak memperdulikan perkataan Rian.


Kakinya membawa Zara menuju Davi yang sedang men setel motor yang akan dia pakai untuk balapan malam itu.


"Ini sudah dibawa ke bengkel belum?" tanya Davi pada sang pemilik motor yang juga ikut memeriksa motornya itu.


"Udah, tadi baru aja dicek sama si Ucok." menyebutkan sang pemilik bengkel yang memang sudah terkenal dikalangan pebalap liar macam mereka.


Zara menghampiri Davi yang masih disibukkan dengan motor yang sebentar lagi akan dia bawa dengan kencang untuk memenangkan balapan liar itu yang memang memakai taruhan uang yang jika menang hadiahnya cukup lumayan besar dan tentunya dia akan mendapatkan imbalan dari hasilnya menjadi joki ditempat itu.


Rian menarik napas panjang membiarkan Zara menyusul Davi, dia merasa tidak perlu untuk memaksa Zara duduk diam saja menyaksikan Davi balapan, dia paham betul rasa khawatir yang melanda Zara sekarang.


"Dav." tangan Zara memegang lengan Davi sehingga pemuda itu yang tadi sedang menunduk mengecek motor mendongak guna melihatnya.

__ADS_1


"Kok disini? Rian mana?" tanya Davi ketika wajah Zara sudah berada didepannya.


"Aku mau pulang." pinta Zara.


"Nanti ya, 1jam lagi." ujar Davi.


"Aku maunya sekarang." kata Zara lagi dengan suara memaksa karena sepertinya itulah caranya untuk membuat Davi tidak mengikuti balapan liar yang pastinya akan mengancam keselamatannya sendiri.


Davi menarik napas lalu berdiri tegak.


"Sebentar ya." kata Davi pada Arda yang mengangguk mengiyakan.


Davi membawa Zara ketempat duduk yang tadi dimana ditempat itu masih ada Rian yang sedang menghisap rokok dengan begitu santai sambil menikmati hembusan angin dari pohon besar didekatnya.


"Aku nggak suka kamu balapan." tutur Zara akhirnya ketika mereka saling berhadapan dan Rian sudah beranjak pergi membiarkan sepasang kekasih yang baru berhubungan dua hari itu berbicara.


"Tapi aku juga nggak suka kamu balapan kayak gitu, apalagi balapan liar, bahaya!" ketus Zara dengan matanya yang terlihat tajam.


"Putusin aja sih, cewek kayak gitu mah." Tiba-tiba saja ada suara wanita yang nimbrung tanpa diajak dan itu adalah suara dari mantan kekasih Davi yang sejak tadi rupanya terus saja menguntit Davi dan Zara.


Zara langsung menengok ketempat Dinda berada sekarang ini dengan ekspresi marah yang tidak bisa disembunyikan lagi.


"Kamu belum jelasin dia siapa." kata Zara pada Davi.


"Iya nanti aku jelasin, sekarang kamu tunggu disini dulu, aku nggak lama kok." ucap Davi.


Dinda yang sedari tadi mendengarkan tutur kata Davi yang begitu lembut saat berbicara dengan Zara membuatnya makin tidak terima, sebab selama berhubungan dengannya Davi tidak pernah bersikap semanis itu kepadanya, sangat berbeda jauh dengan perlakuannya terhadap Zara, kekasih barunya itu.

__ADS_1


Sungguh hal itu semakin membuat Dinda tidak terima dibuatnya.


"Dav, buru Remon udah siap nih." teriakan Arda membuat Davi harus segera berlalu meninggalkan Zara yang masih kesal apalagi harus mendengarkan ocehan-ocehan dari tiga sekawan yang terus menyindirnya.


"Jagain Zara." kata Davi pada Rian yang sedang ngobrol dengan teman mereka.


Setelah berkata begitu Davi langsung berlari menuju motor yang akan dia pakai balapan tidak lupa memakai helm untuk keamanan.


Rian kembali menghampiri Zara yang duduk sendirian ditemani ocehan dari Dinda dan dua temannya yang terus saja menyindir bahkan menghina Zara.


Beruntung Zara memilih untuk tidak memperdulikan mereka, karena jika Zara mendengarkan ocehan mereka tentu saja ketiga wanita itu akan dilabrak oleh Zara.


"Nggak usah di dengerin." ujar Rian duduk di samping Zara.


"Siapa juga yang dengerin kaleng rombeng kayak gitu." sahut Zara ketus seraya mendengus.


Rian terkekeh mendengar jawaban Zara.


"Kenal Ipul kan?" tanpa disangka oleh Zara, Rian malah menanyakan Ipul, pemuda yang sejak kemarin marah padanya.


Zara melihat Rian.


"Kenapa memangnya?" tanya Zara dengan raut heran.


"Nggak apa-apa, cuma tanya aja." kata Rian membuat Zara mengernyit bingung tidak mengerti maksud pertanyaan Rian menanyakan Ipul.


Setelah pertanyaan tentang Ipul yang tidak jelas apa maksudnya, Rian pun hanya diam memainkan hp nya, sangat sibuk dengan benda kotak tipis itu.

__ADS_1


******************


__ADS_2