
Davi melihat Ipul yang sedang tertawa.
"Gue dibohongin tahu Bang sama istri lu," adu Ipul, "bilangnya sama gue liburan tahunya kabur," lanjut Ipul, mulutnya terus saja meracau membongkar kelakuan Zara.
"Lagi ngomongin apa sih?" tanya Zara melihat dua orang pria yang duduk sambil mengobrol, tidak mendengar namun dari gerakan bibirnya Zara tahu kalau keduanya sedang membicarakan sesuatu.
"Mana saya tahu Bu, sayakan disini sama Ibu."
Si sopir malah menjawab omongan Zara membuat Zara memanyunkan bibirnya, rasa mules dari perutnya sudah sembuh sejak tadi mungkin itu hanya efek karena melihat suaminya babak belur.
"Kok mereka malah ngobrol Yah?" celoteh Andini yang sedari tadi mengintip di balik kaca.
"Jadi kamu maunya mereka berkelahi begitu? aneh! tadi marah sekarang malah tanya kenapa mereka ngobrol!" Arman bersungut kesal dengan tingkah istrinya lalu melenggang menuju dapur, tenggorokannya terasa sangat haus hingga dia menenggak habis dua gelas air penuh.
"Maksud lu apa?" Davi memicingkan matanya mengusut pernyataan Ipul barusan, "lu ngomong apa?" lanjut Davi tak mengerti.
"Lu lihat taksi di sana?" Ipul menunjuk taksi yang sedari tadi terparkir tepat di depan gerbang.
Davi melihat arah yang Ipul tunjuk seraya mengernyit, "itu taksi yang tadi lu tumpangi kan," kata Davi.
"Waduh ngapain sih Ipul malah nunjuk kesini," panik Zara terlebih lagi Davi pun melihat kearahnya.
Ipul mencebikkan bibirnya, "di dalam taksi itu ada seorang wanita yang bohongin gue, wanita yang datang ke tempat gue dengan alasan berlibur dan wanita yang bilang sama elu kalau dia ingin pulang ke Indonesia sampai akhirnya kalian mengira kalau wanita itu ikut dalam kecelakaan pesawat," ucap Ipul.
"Gue nggak paham dengan maksud perkataan lu, nggak paham!" sentak Davi tegas karena memang dia merasa Ipul sedang berbicara ngelantur tak jelas arah karena sedih Zara sudah tiada.
"CK!" Ipul berdecak gemas.
"Elu dibohongin Bang sama istri lu, lu dan gue dikerjain sama si Zara!" ketus Ipul gemas dengan Davi yang juga tidak mengerti apa yang tengah dia bicarakan.
"Zara! di dalam taksi itu ada Zara lagi nonton gue mukulin elu, dan lu harus tahu Bang istri tercinta lu itu juga yang ngijinin gue buat mukulin elu, kata dia untuk mengalihkan kemarahan lu sama dia," cerocos Ipul tanpa rem sedikitpun pada setiap pengakuan yang dia lontarkan.
Memang dasar teman kurang ajar! mungkin itu yang akan Zara lontarkan untuk sang teman.
"Za Zara? Zara hidup?" suara Davi terdengar sangat gugup dan terbata-bata tidak percaya tapi barusan dia mendengar sendiri apa yang Ipul katakan dan menjadi yakin saat Ipul mengangguk.
"Nah Loh dia bangun!" seru Zara kaget melihat Davi yang bangun dari duduknya.
"Gue nggak tega marahin dia, lu aja yang marahin," kata Ipul saat Davi beranjak dari duduknya dan sekarang menggerakkan kakinya menuju taksi yang terparkir tenang di luar pagar.
Mata Zara makin membola sempurna manakala semakin lama terdengar derap langkah Davi yang semakin mendekat.
Deg deg deg deg! jantung Zara berdebar cepat, rasanya baru sekarang ia menyadari betapa ia sudah durhaka pada suaminya karena pergi tanpa ijin, bahkan sampai membuat hal yang menggemparkan karena kelalaiannya yang melupakan koper yang sudah masuk bagasi pesawat.
__ADS_1
"Keluar Za," pinta Davi saat sudah berada di depan pintu penumpang.
Di panggil oleh suaminya, Zara malah beringsut semakin ke pojok pintu sisi lainnya menjauh dari pria yang berdiri dengan wajah yang babak belur.
"Bu," sang sopir jadi ikutan memanggil Zara.
"Nggak usah ikutan!" seru Zara kesal, saat ini ia menjadi sangat ketus pada sopir taksi yang padahal setia menemaninya sejak tadi.
"Za," suara Davi masih terdengar pelan dan tenang agar Zara mau keluar, tapi nyatanya itu tidak berlaku, istrinya adalah wanita keras kepala yang tidak akan dengan mudah mau menurut.
"ZARA!" suara Davi pun menggelegar membuat Zara tersentak hingga membuat kepalanya terantuk pintu mobil.
"Haha," Ipul malah mentertawakan Zara yang di bentak oleh Abangnya, "gue yakin sekarang nyali lu makin ciut Za," ejek Ipul terus menjadi penonton saat Davi mulai mencoba untuk membuka pintu mobil.
"Buka Pak," perintah Davi pada sang sopir.
"Jangan!" larang Zara membuat sopir taksi kebingungan dan pusing berada di antara dua orang yang saling meminta hal berbeda.
"Buka!"
"Jangan!"
Astaga kenapa suami istri ini malah melibatkan orang lain dalam urusan mereka!
"Keluar atau aku hancurkan taksi ini!!" tidak ada cara lain selain mengancam istrinya.
"Aku hitung sampai tiga," ancam Davi namun belum juga hitungan di mulai pintu sebelah sudah di buka.
Davi menatap tajam wanita yang dengan gerakan sangat lambat mencoba keluar dari taksi.
"Kemari," pinta Davi saat Zara sudah berdiri di seberangnya.
Selangkah demi selangkah Zara mulai menjejakkan kakinya dan ketika sudah hampir dekat wanita itu malah berjalan cepat melewati Davi masuk ke dalam pagar rumah, meninggalkan Davi yang melotot padanya.
Jangan pernah mengharapkan adegan romantis dari seorang Zara yang sering berkelakuan random sejak dari remaja.
"Pul tolongin," tukas Zara sambil menuju Ipul sedangkan di belakangnya Davi sudah mengikuti sambil terus memanggil namanya.
"Za, Zara!"
"Gue udah ikutin yang apa yang elu mau Za, tapi nyatanya suami lu nggak sebodoh yang kita kira," ucap Ipul sudah kembali memakai gue dan elu pada Zara, panggilan saat mereka sekolah dulu.
"Itu Zara kan Yah?" di dalam rumah Andini tercekat tak percaya melihat siapa yang tadi turun dari taksi.
__ADS_1
Arman pun turut melihat pada wanita yang sedang dibicarakan oleh istrinya, "mirip," katanya enteng.
"Bukan cuma mirip Ayah! itu memang Zara!" bentak Andini yang mendengar Davi terus saja menyebut nama Zara.
"Zara masih hidup Yah," Andini menangis haru seraya memeluk suaminya, sungguh ia tidak menyangka bahwa selama dua Minggu ini mereka menangisi orang yang masih hidup.
"Gue nggak mau ikut campur lagi, gue capek!" tolak Ipul tak kasihan sedikitpun pada temannya meski sekarang temannya itu sudah menunjukkan wajah yang sangat panik, takut cemas semua rasa bercampur menjadi satu.
Mertua! bukankah tadi ada mertuanya? yah tentu mertuanya itu akan bisa membantunya, pikir Zara hingga iapun menuju pintu masuk mengabaikan panggilan suaminya yang mulai sangat gemas dengan tingkahnya.
"Ma, Yah, tolongin Zara," ucap Zara pada sang mertua.
Andini dan Arman yang masih tak percaya belum sempat mengatakan apapun sampai Davi muncul dengan cepat.
"Aku manggil kamu!"
Suara Davi membuat Zara bersembunyi di balik tubuh sang mertua, menjadikan tubuh mertuanya sebagai benteng agar Davi tidak mendekat.
"Astaga Zaraaaa, hahaha," Ipul tertawa melihat kelakukan konyol Zara yang benar-benar tak masuk akan.
Zara melirik sadis pada Ipul yang duduk santai di sofa mentertawakan dirinya.
"Mama sama Ayah nggak usah ikut campur," tutur Davi dengan suara yang datar namun tetap saja terdengar begitu menakutkan bagi Zara.
Andini dan Arman pun perlahan bergeser, mereka cukup tahu diri untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga anaknya.
Zara membelalak ketika menyadari kedua mertuanya tidak mau menolongnya.
"Kak Zara!" suara gadis kembar mengalihkan Zara untuk berpindah kearah mereka, melakukan hal yang tadi dia lakukan pada mertuanya bersembunyi di balik tubuh remaja si kembar yang langsung ciut hanya dengan tatapan mengintimidasi dari sang Abang.
"Maaf Kak," kata keduanya menyesal dan langsung berpencar.
Rasanya Zara ingin menangis kencang saking takutnya, mungkin efek kehamilan juga yang menjadikannya seperti ini dengan ketakutannya yang menjadi sangat berlebihan, terlebih lagi ketika Davi menarik tangannya untuk mengikutinya menaiki tangga.
Zara melihat pada Ipul yang mengangkat tangan tanda pria itu benar-benar tidak mau ikut campur.
"Babay," kata Ipul melambaikan tangan.
Lalu Zara melihat kedua mertuanya yang berkata, "jangan melakukan hal yang keterlaluan Davi," ucap Arman memberi peringatan.
Dan terakhir Zara melihat dua Adik iparnya yang menampilkan raut wajah cemas.
Hari ini kelakuan Zara seperti seorang yang akan di hukum mati, menatap semua orang dengan pandangan memelas, meskipun Ipul sama sekali tidak iba padanya karena sangat tahu tingkah Zara seperti apa.
__ADS_1
Ipul yakin bahkan sangat yakin Davi tidak akan melakukan apapun yang akan menyakiti istrinya, dia tahu sebucin apa Abang sepupunya itu jadi Ipul pun sangat tenang bahkan kini dia pergi ke dapur untuk mencari makan, perutnya sangat lapar sekarang.
****