
Flashback..
Davi yang tengah tergesa untuk ke toilet yang berada di pom bensin namun langkahnya harus terhenti karena tubuhnya ditabrak oleh seseorang bahkan orang yang menabraknya itu sampai jatuh duduk di lantai.
Davi sontak meminta maaf pada gadis yang tengah mengomel kepadanya itu.
Namun omelan dari gadis didepannya malah berhenti ketika melihat wajahnya.
Davi yang bingung pun hanya melemparkan senyum saja lantas segera pergi dari tempat itu karena memang tujuannya untuk ke toilet.
Davi sudah melupakan gadis yang tadi menabraknya dan setelah buang hajatnya selesai ia pun kembali ke warung bakso dimana teman-temannya berada sekarang.
Pemuda berusia 18tahun itu melangkah tegap menuju warung namun ketika baru akan memasuki warung dia melihat gadis yang tadi menabraknya ada didalam warung dan tengah mengobrol dengan satu wajah yang nampak tak asing dimatanya.
Dari kejauhan Davi memicingkan matanya guna memastikan benarkah penglihatannya itu.
Dan gadis yang ada didalam sana menunjuk kerahnya diikuti dengan wajah orang yang memang sangat dia kenal.
"Saipul." gumam Davi yang lalu bergerak untuk masuk kedalam saat matanya bertabrakan dengan mata Ipul yang melihat kearahnya.
Davi duduk bersama teman-temannya dengan tatapannya yang terus saja mengarah kepada Saipul yang pergi dengan tergesa-gesa begitu melihat dirinya.
"Itu Saipul sepupu lu kan?" tanya Ari yang menyadari kemana mata Davi tengah melihat.
Davi mencebikkan bibirnya.
"Ceweknya? cantik juga." kata Ari lagi seraya melihat Zara yang duduk di motor Ipul.
Kali ini Davi mengedikkan bahunya karena dia tidak tahu siapa gadis yang bersama adik sepupunya itu.
"Ngomongin apaan?" Tiba-tiba suara seorang temannya yang sejak tadi hanya mendengarkan ikut bersuara.
"Saipul!" sentak Ari dengan suara tertahan namun dapat terdengar jelas.
"Kenapa?" tanya pemuda bernama Rian.
"Itu ceweknya Saipul bukan? Lu kan banyak kenal informan di sekolah nya Saipul." tutur Ari yang entah kenapa jadi lebih penasaran dengan gadis yang bersama Ipul.
"Oh itu." ucap Rian membulatkan mulutnya.
"Lu kenal?" kali ini Davi yang bertanya, rupanya dia sudah mulai ikut terpancing dengan keingintahuan Ari.
"Nggak." sahut Ari yang dengan santainya menggelengkan kepala padahal dua orang didekatnya tengah menanti dengan tak sabar guna memenuhi rasa ingin tahu mereka.
"Sialan." Ari melempar kerupuk yang ada ditangan nya dan langsung mengenai kening Rian.
"Hahahahaha." Rian bukannya marah malah tertawa meledek melihat dua wajah didepannya tampak kecewa karena tidak mendapatkan jawaban darinya.
"Tanya noh sama Fahri ceweknya diakan satu sekolah sama Saipul satu kelas juga lagi." imbuh Rian seraya menghentikan gelak tawanya karena mendapat tatapan sinis dari dua orang temannya itu.
"Fahri nya kemana sekarang?" kali ini Davi yang bertanya dan membuat Ari memandang bingung.
"Kok sekarang malah elu yang kepo Dav?" tanya Ari.
"Nggak, biasa aja, cuma pengen tahu aja dikit." elak Davi sambil menyeruput es teh manis miliknya yang batu esnya sudah mencair karena terlalu lama didiamkan.
"Sama aja itu dodol." Ari dan Rian menyoraki Davi.
Davi pun mendengus karena merasa dipojokkan oleh kedua orang temannya itu.
__ADS_1
"Noh Fahri dateng." sontak Ari dan Davi menengok kearah masuk warung bakso yang sudah mulai sepi karena pengunjung yang tadi kebanyakan anak sekolah sebagian sudah pergi.
Fahri menuju ketiga temannya yang sedang melihat arahnya dengan tawa lebar nya yang membingkai di wajah.
"Bang bakso satu ya." Fahri berteriak kepada sang penjual bakso yang langsung menanggapi permintaannya yang tentunya sudah sangat hafal bakso apa yang diinginkan anak muda itu.
"Darimana aja lu? perasaan cepet banget ngilang nya tadi." kata Ari yang memang tadi setelah turnamen basket selesai sempat mencari temannya itu namun tidak ketemu.
"Nganter Dira pulang." sahut Fahri dengan tenang seraya dengan enaknya mengambil es teh manis milik Davi dan langsung menenggaknya dan hanya menyisakan beberapa tetes saja.
"Maen nenggak aja lu." omel Davi seraya melihat sinis.
"Hehe sorry, abisnya gue haus." cengengesan yang malah semakin membuat Davi kesal.
"Tuh katanya lu pada mau tanya." Rian melihat kepada Davi dan Ari bergantian mengingatkan apa yang tadi membuat mereka penasaran.
Fahri mengerutkan keningnya menatap dua orang yang ada didepannya dengan tatapan kecurigaan.
"Kenapa lu berdua?!" tanya Fahri dengan curiga.
"Cewek lu satu sekolah kan sama Saipul?" Ari yang mewakili Davi untuk bertanya ya meski sebenarnya dia juga ingin tahu tentang gadis yang bersama Saipul tadi.
"Iya." kata Fahri seraya menerima semangkok bakso pesanannya yang baru saja diantar.
"Minta es jeruknya ya." katanya pada sang penjual.
"Woy." pekik Ari mengagetkan karena sekarang Fahri malah sibuk dengan baksonya.
"Ya udah tanya aja gue dengerin, kalau tahu juga bakal gue jawab." omel Fahri seraya mengaduk bakso dan menuangkan saos kedalamnya.
"Cewek lu kenal sama Saipul nggak?" kali ini Rian yang mengajukan pertanyaan.
"Saipul sepupunya elu kan Dav?" Fahri malah balik bertanya pada Davi.
"Santai monyet." tukas Fahri seraya mengunyah bakso yang sudah masuk kedalam mulutnya.
"Pasti kenal lah, orang satu kelas kan mereka." akhirnya memberi jawaban yang padahal kalau soal satu kelas itu tanpa dijawab pun mereka sudah tahu, hanya saja memang Ari yang kurang kerjaan menanyakan hal yang tidak penting itu.
"Saipul punya cewek nggak?" tanya Davi dengan ekspresi yang dipenuhi keingintahuan yang begitu mendalam.
"Lah mana gue tahu, kan itu adek sepupu lu, ya lu tanya aja sendiri sana sama orangnya." ketus Fahri dengan raut wajah yang mulai merasakan pedas akibat sambal yang dia masukkan terlalu banyak.
"Yeeuuuh, lu kayak nggak tahu aja, dia kan musuh utamanya itu ya si Saipul, punya dendam pribadi kayaknya dia sama sepupunya sendiri." Rian menyambar dengan mata yang melirik kepada Davi.
Sedangkan Davi yang dibicarakan oleh temannya bahkan didepan matanya hanya melontarkan tatapan mata yang sangat kesal dan begitu nyalang, jika bukan teman-temannya sudah dapat dipastikan Rian akan merasakan gelas melayang sejak tadi.
"Tanya cewek lu coba." Ari memberi saran.
"Ck." Fahri terlihat enggan untuk menghubungi sang kekasih hanya untuk bertanya tentang Saipul.
"Nggak usah pake ck ck ck segala." omel Ari lagi.
"Ya udah gue telepon Dira, rese lu ah bertiga." sentak Fahri seraya mengeluarkan HP nya dari dalam kantong.
Tak perlu menunggu lama karena panggilan Fahri dengan cepat di jawab oleh Dira.
Ari terlihat mengajari Fahri tentang apa yang harus ditanyakan oleh pemuda itu kepada kekasihnya.
"Ooh gitu, ya udah deh makasih ya sayang atas infonya." kata Fahri setelah mendapatkan jawaban dari sang kekasih.
__ADS_1
"Cewek lu bilang apa?" Ari dan Davi bertanya sedangkan Rian hanya menjadi pendengar saja kali ini.
"Cie yang pada nggak sabar." ledek Fahri seraya melempar senyum lebar.
"Bacot ah." maki Ari emosi.
"Nih dengerin." Fahri memasang wajah serius sebelum mulai berucap.
Dan herannya ketiga orang didekatnya itu menuruti perkataan Fahri dengan masing-masing menunjukkan wajah serius.
"Itu cewek yang sama Saipul namanya Zarania, bukan ceweknya si Saipul, mereka cuma temen deket nggak tahu deh kalau diantara mereka ada perasaan, yang jelas sih kata Dira tadi antara Saipul sama Zarania nggak ada hubungan apa-apa, dan yang lebih wow lagi, kalian tahu apa?" Fahri mulai berteka-teki yang malah membuat orang jadi makin tak sabar.
"Ngomong yang jelas lu, nggak usah pake tebak-tebakkan segala." lagi dan lagi Ari yang malah begitu emosi.
Fahri menarik napas kesal.
"Nggak bisa diajak bercanda lu pada." gerutu Fahri.
"Ya udah lah tuh si Zarania saudara tirinya Dira." kata Fahri yang membuat ketiga pasang mata didekatnya membuka lebar.
"Maksudnya?" Rian malah seperti orang bodoh.
"Dih perkataan simpel begitu masih juga nggak ngerti, bego nya kebangetan." maki Fahri melotot kepada Rian.
"Jelasin tuh Ri temen lu." berkata pada Ari.
"Tau ah, yang simpel kayak gitu aja dia nggak ngerti apalagi kalau gue jelasin panjang lebar, makin muter tuh kepala." tutur Ari sinis.
Sedangkan Davi hanya diam saja seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tuh anak kenapa?" Fahri bertanya pada Ari seraya menunjuk Davi dengan dagunya.
Ari mengedikkan bahunya karena memang dia tidak tahu menahu dengan yang ada didalam kepala Davi saat ini.
Hingga akhirnya Davi berucap kepada teman-temannya itu.
Mereka pun mendengarkan dengan serius semua yang dikatakan oleh Davi.
"Serius lu?!" Ari nampak tak percaya dengan rencana yang sekarang tengah dibicarakan oleh sang teman.
"Jangan berulah yang aneh deh Dav." Rian nampak tidak setuju dengan ide ngelantur yang mendadak muncul dari dalam otak Davi.
"Gue sih terserah lu." kata Fahri yang tidak mau peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh temannya itu.
"Kalau ternyata Saipul suka sama tuh cewek gimana?" sekarang Ari yang membuka mulutnya.
"Malah lebih bagus." jawab Davi seraya memamerkan senyum liciknya.
"Itu yang gue harapkan, karena dengan begitu gue bisa melihat betapa dia sakit hati ketika cewek yang dia sukai malah menyukai gue, sepupunya sendiri yang kerap kali harus mendengar namanya dipuji-puji oleh saudara-saudara gue yang lain, bahkan orang tua gue pun tak jarang membandingkan gue dengan dia." sahut Davi yang memang tidak pernah suka dibandingkan dengan adik sepupunya itu apalagi tentang Saipul yang tidak pernah membuat masalah di luaran, sangat berbeda dengan dirinya yang selalu saja terlibat masalah seperti tawuran balap liar sampai ditangkap oleh polisi pun semua hampir sering dia rasakan.
"Ya kan karena emang lu nya yang bandel Dav." tukas Rian.
"Gue bandel juga kan karena sering dibandingin mulu, gedeg gue lama-lama." jawab Davi dingin.
Ari menghembuskan napas.
"Ya udah lah terserah elu aja kita-kita mah ikut aja." ucapnya kemudian.
Davi tersenyum senang ketika akhirnya teman-temannya mendukung dirinya.
__ADS_1
flashback off...
**""""""""""*********