
Seperti yang sudah Davi katakan sebelumnya pada sang istri, kini mereka berdua sudah dalam perjalanan menuju tempat yang Zara tidak tahu.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih sayang?" tanya Zara ketika Davi masih saja membawanya berkeliling di jalanan Ibukota.
"Sabar sayang, nggak sabaran banget ya." ledek Davi dengan tangan yang lagi-lagi tidak bisa diam dan kali ini malah nyelonong masuk ke dalam kaos yang Zara gunakan mengelus perut rata Zara dan kemudian malah semakin menanjak ke atas.
Mata Zara membelalak terkejut.
"Tangannya ih." suara Zara terdengar sangat menggemaskan kala suaminya itu malah semakin membuatnya merasa geli dengan gerakan tangannya.
"Abis kamu nya juga diem aja, menikmati banget kayaknya." malah meledek Zara yang memang tidak berniat untuk menghentikan gerakan tangannya padahal bisa saja Zara mencekal tangan Davi agar tak lagi bergerak ke sana-sini tapi nyatanya wanita tangan wanita itu malah tetap diam hanya mulutnya saja yang mengoceh.
"Aaaahhhh." Zara terpekik kencang merasa malu dengan ledekan sang suami karena pada kenyataannya yang di katakan oleh suaminya itu memang benar adanya, Zara menikmati setiap sentuhan yang Davi berikan pada setiap inci tubuhnya, semuanya selalu saja membuatnya melayang dan tak mampu untuk menolak.
Malu, Zara pun mengalihkan pandangannya ke jalanan di sebelahnya tak berani menatap wajah suaminya yang kini cengengesan kendati suaminya itu tau saat ini wajah Zara sudah Semerah udang rebus karena perbuatan dan perkataannya yang sangat tepat.
"Mau sampai kapan malu sama suami sendiri? aku malah seneng kalau kamu memang senang dan suka saat aku menyentuh kamu, karena itu artinya perasaan kita sama, sama-sama mencintai menyayangi dan sama-sama ingin di sentuh satu sama lain." berucap dengan senyum yang menawan.
Zara menoleh pada Davi yang tengah menatap lurus ke depan, dari posisi ini terlihat jelas betapa wajah suaminya itu memang sangat sempurna apalagi ketika lelaki itu tersenyum akan muncul gigi gingsul nya yang sejak dulu sangat Zara sukai.
"Nanti malam gantian kamu ya sayang." Davi berkata sangat pelan seraya menengok kepada Zara yang tengah menatapnya.
Zara mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Apa?" sepertinya Zara memang masih sangat polos untuk ukuran seusianya.
"Nanti malam aja aku kasih tau, sekalian praktek." tutur Davi dengan raut penuh godaan.
Zara masih di buat berpikir dengan perkataan sang suami ketika matanya mulai mengenali jalan yang kendati sudah bertahun-tahun tak ia lewati namun ia masih ingat jelas jalan ini menuju kemana.
Dan ekspresi terkejut Zara pun semakin tak bisa di sembunyikan lagi ketika mobil yang mereka naiki berhenti di sebuah rumah yang sangat familiar bagi dirinya, rumah yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa Zara lupakan karena terlalu banyak kenangan yang ada di dalamnya, dari tentang kebahagiaan sampai penderitaan yang ia terima masih terukir jelas dalam ingatannya.
__ADS_1
Seorang lelaki setengah tua membuka pintu pagar dengan lebar dan menunggu sampai mobil itu masuk baru kembali menutup pagar besi yang tampaknya sudah di cat ulang.
"Kita sudah sampai." seru Davi lalu mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengaman.
Zara masih larut dalam keterkejutannya bahkan ia sampai tak sadar ketika suaminya sudah membukakan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Ini?" Zara sampai tidak bisa berkata-kata melihat rumah yang dulu ia tinggali ada di depan matanya.
"Kita turun dulu, nanti di dalam aku jelasin." ucap Davi mengajak Zara untuk segera turun.
Zara mengangguk lalu mengikuti Davi yang turun lebih dulu, wanita itu berdiri di samping Davi yang tengah memanggil lelaki yang tadi membukakan pagar.
"Yang urus rumah sudah datang belum?" tanya Davi pada lelaki yang bernama Pak Rahmat yang memang Davi minta untuk menjaga rumah itu setelah dia beli.
"Katanya baru datang besok Mas Davi." lapor Pak Rahmat yang kelihatan sangat baik dan sopan itu.
Davi memang sudah mempersiapkan semuanya sebelum menikahi Zara, rumah yang dia beli pun sudah dia renovasi untuk memperbaiki yang rusak saja, karena dia tidak berniat sama sekali untuk merubah rumah yang menjadi kenangan istrinya.
Davi mengeluarkan kunci dari dalam saku celana yang dia pakai lalu membuka pintu.
"Kejutan untuk wanita yang aku cintai, untuk istriku, untuk calon Ibu dari anak-anakku kelak." tutur Davi seraya memeluk Zara dari belakang.
"Kenapa rumah ini bisa menjadi milik kamu? lalu Tante Dewi dan Dira kemana mereka?" tanya Zara masih tidak tau apa yang terjadi.
"Aku membelinya sayang, semua ini karena kamu yang bohongin aku waktu itu." ujar Davi.
"Bohong? aku bohongin apa? lalu hubungannya sama rumah ini apa?" tak mengerti karena memang ia lupa kebohongan apa yang sudah ia lakukan pada suaminya.
Davi mengatur napasnya sejenak lalu menarik Zara untuk lebih masuk ke dalam rumah yang masih bau cat karena rumah itu memang baru selesai di cat dengan warna cat yang sama seperti terakhir kali Zara pergi dari rumah itu.
__ADS_1
"Nomor HP, kamu bohongin aku. kamu kasih aku nomor HP yang tidak bisa di hubungi saat kita bertemu di pesawat." Davi tampak cemberut mengingat Zara yang mengerjainya dengan sengaja.
Zara yang langsung ingat apa yang sudah ia lakukan pada Davi dulu pun langsung mengucapkan kata maaf. "Maaf." kata Zara dengan wajah menyesal.
"Nyebelin banget, bisa-bisanya gitu ngerjain orang." mencubit hidung Zara gemas.
"Abis kamu nya juga nyebelin, udah bikin sakit hati terus pergi bertahun-tahun eh pas muncul enak banget langsung minta nomor terus pake cium-cium segala lagi." tutur Zara mengingat kelakukan Davi saat pertama kali mereka di pertemukan kembali setelah sekian tahun lamanya.
"Naluri lelaki kalau lihat cewek cantik ya gitu." tukas Davi yang dalam sekejap membuat mata Zara mendelik marah.
"Jadi kamu kalau setiap ketemu cewek cantik tuh kayak gitu? asal cium aja, iya? ngeselin banget." ketus Zara seraya menjauh dari suaminya.
Davi yang sebenarnya hanya ingin memuji bahwa Zara sangat cantik namun penempatan kata dan susunannya yang tak benar jadi kualahan dengan tanggapan yang Zara berikan.
"Bukan itu maksudnya sayang." seru Davi ketika Zara menaiki tangga menuju kamarnya yang dulu ia tempati.
Belum juga Davi menceritakan bagaimana rumah itu bisa dia beli namun istrinya itu sudah keburu ngambek karena ucapannya yang salah.
Davi berlarian mengejar Zara yang sudah berada di lantai atas dan masuk ke dalam kamar yang ada di sana.
Di sisi lain dari kejauhan nampak seseorang yang duduk di atas motor terus memperhatikan rumah yang yang tadi di masuki oleh kedua orang yang sejak tadi dia ikuti.
****
__ADS_1