Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 159


__ADS_3

Suara ban mobil yang berdecit begitu nyaring seiring dengan rem mendadak yang di injak ketika mobil masih dalam keadaan sangat cepat, bukan karena ada sesuatu mengerikan yang terjadi melainkan karena mobil yang sejak tadi mengebut itu sudah sampai di tujuan bahkan memarkirkannya dengan begitu serampangan.


Davi keluar dari dalam mobil dengan sangat tergesa bahkan pintu mobil di tutup dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman yang luar biasa kencang membuat orang yang berada di sekitar apartemen itu menoleh terkejut, melihat kearah sumber suara yang membuat jantung mereka hampir saja keluar dengan serentak, lalu setelahnya hanya menggelengkan kepala kala mendapati sosok pria penghuni apartemen yang sama dengan mereka keluar dengan wajah yang amat tegang menyiratkan sesuatu.


Semua gerakan yang Davi lakukan tampak sangat cepat dan terkesan terburu-buru bahkan ketika dia sudah berada di dalam apartemennya pun dia masih saja menderapkan langkah besarnya masih dengan sedikit berlalu menuju ruang kerjanya, mengumpulkan tumpukan berkas pekerjaan yang beberapa hari lalu dia bawa dari kantor.


Selesai dengan berkas-berkas pria itupun kini beralih ke dalam kamarnya mengambil tas punggung miliknya yang berwarna hitam mengecek semua yang ada di dalamnya tidak boleh ada satupun barang yang semalam sudah dia masukkan tertinggal atau sampai dia melupakan barang yang harus dia bawa.


Tangannya memeriksa satu persatu barang di dalam tas lalu setelah yakin semuanya tersedia Davi pun memakai tas itu lalu keluar dari kamar mengambil tumpukkan berkas di atas meja ruang tengah yang tadi dia tinggalkan lalu keluar dari apartemennya dan kembali menuju mobil yang terparkir di depan gedung apartemen.


Pria yang tampak gelisah itupun masuk ke dalam mobil dan menghembuskan nafas kencang sebelum menyalakan mesin kendaraannya untuk kembali melaju ke jalan raya menuju kantornya.


"Masalah ini terjadi karena kamu yang tidak jujur dari awal," ucap Lugo kala selesai mendengarkan semua yang baru saja Davi ceritakan.

__ADS_1


Tentang bagaimana temannya itu yang kini duduk di depannya dengan wajah yang benar-benar sangat jauh berbeda dari yang dulu dia kenal.


Dulu, sekalipun Davi jarang sekali bicara namun dia tahu tidak pernah menghadapi masalah yang sungguh luar biasa sulit itu, bahkan seorang Lugo pun tahu dan cukup mengerti seperti apa perasaan Davi pada Sarabia, istri dari temannya itu yang sekarang memilih untuk kembali ke Indonesia untuk menenangkan dirinya atas satu guncangan dalam rumah tangga yang Lugo pun yakin tidak pernah Zara dan Davi inginkan.


"Dan sekarang kamu malah membiarkan istrimu pulang sendiri?" tanya Lugo merasa tak mengerti.


"Istriku keras kepala.."


"Oh ya ampun Davi, sejak kapan kamu menjadi laki-laki lemah seperti ini?" Lugo tampak menggelengkan kepala, sungguh dia seakan tidak mengenal laki-laki di depannya ini.


Lugo mendesah berat lalu berkata, "serahkan semuanya padaku, selesaikan masalahmu dengan Zara dan beri aku kabar yang menyenangkan nantinya."


Sungguh Davi memang sangat beruntung karena mempunyai teman seperti Lugo, baik bahkan teramat baik untuk dia yang selalu saja merepotkan.

__ADS_1


Davi mengangguk lalu mengurut pangkal hidungnya yang mancung.


"Sebelum pergi aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang kemarin aku tinggalkan," ujar Davi lalu bangkit dari tempatnya duduk dan bersiap untuk menuju ruangannya sendiri yang berbeda satu lantai dengan Lugo.



"Baiklah," ucap Lugo seraya mengiringi kepergian Davi dengan kedua matanya sampai temannya itu menghilang di balik pintu yang kembali di tutup.


Di dalam ruangannya Davi bergegas membuka lembaran demi lembaran yang sejak kemarin ada di atas mejanya, entah kenapa pekerjaannya ini sellau bertumpuk setelah semua masalah yang terjadi di dalam hidupnya sekalipun dia sudah berusaha untuk membawa pekerjaannya itu ke apartemen tapi tetap masih ada yang tertinggal.


Gerakannya begitu cepat sambil sesekali melihat jarum jam di arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dengan kedua mata tajamnya menunggu waktu untuk segera pergi ke bandara.


Hingga akhirnya pekerjaannya sudah dia selesaikan sungguh sangat tepat waktu karena sekarang pun dia sudah harus berangkat.

__ADS_1


Davi berpamitan pada Lugo sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan kantornya itu yang mungkin akan cukup lama, setidaknya sampai dia dan Zara sudah benar-benar memperbaiki keadaan rumah tangga mereka yang memang harus dia perbaiki.


\*\*\*\*\*


__ADS_2