
Menjelang subuh mereka baru pulang ke rumah dengan Zara yang terlihat begitu kelelahan, sungguh wanita itu sangat lelah harus bolak-balik kantor polisi lalu rumah sakit guna melakukan visum, semua itu Zara lalui di tengah matanya yang terus saja menitikkan air mata, mata itu seolah tak pernah berhenti menumpahkan semua isinya keluar.
Tubuh Davi bergetar kala mendengar semua kenyataan yang tadi Dokter sampaikan, kenyataan yang tak pernah dia sangka sebelumnya bahkan membuat matanya memerah menahan air mata dengan segala kenyataan yang harus dia dengar.
Davi melangkah perlahan masuk ke dalam rumah yang sejak hari ini sudah menjadi tempat begitu menyeramkan bagi sang istri, terbukti ketika Zara yang meminta untuk tidak lagi mau masuk ke dalam kamar mereka meminta untuk tidur di kamar tamu tanpa berkata Davi mengangguk menuruti permintaan sang istri.
"Aku mau mandi," kata Zara dengan suara yang sangat pelan dan terasa bergetar kala baru saja duduk di tepi tempat tidur langsung menerima tangan sang suami yang terulur untuk membantunya membersihkan diri.
Zara merasakan tubuhnya sangat menjijikkan, semua bayangan atas perbuatan Rangga terukir jelas di dalam ingatannya, tubuh yang semestinya hanya tersentuh oleh suaminya malah di sentuh oleh pria lain, pria bajingan yang nyatanya adalah teman sekolahnya, pria bajingan yang membuat Zara sangat menyesal karena dulu sempat menaruh perasaan pada pria itu.
Begitu telatennya Davi membantu Zara membuka seluruh pakaiannya dengan Zara yang diam saja berdiri di bawah shower, wajah dengan mata yang sangat membengkak terus menunduk tak berani menatap pada suaminya sendiri.
Tangan Davi berhenti sejenak dengan darah yang mengalir deras saat menangkap beberapa tanda merah di bagian depan tubuh sang istri, memejamkan mata berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan, sakit hati, terluka serta sedih semua bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Gerakan Davi yang terhenti tentu di sadari oleh Zara, jelas sudah bukan hanya dirinya yang hancur, tapi juga suaminya itu, sekejap Zara membalik tubuhnya membelakangi sang suami dengan telapak tangannya yang berada di dinding kamar mandi.
Pria di belakangnya mengerjapkan kedua mata guna menormalkan pandangannya yang terasa kabur karena air mata yang sejak tadi dia tahan, dan tangannya memutar keran mengeluarkan air yang langsung membasahi tubuh sang istri.
Kamar mandi itu terasa begitu hening tanpa obrolan yang keluar dari mulut dua orang di dalamnya, membuat suara air begitu mendominasi, semua seolah tidak ada lagi kehidupan dalam ruangan itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Zara Pul? Zara baik-baik saja kan? kenapa kamu melakukan hal tidak benar seperti itu Pul? dia istri Abang sepupumu." Ipul yang juga baru pulang langsung dihadapkan dengan berbagai macam pertanyaan membuat dia menarik nafas dengan menunjukkan seraut wajah penuh penyesalan.
"Hanna dimana Mah?" belum juga menjawab pertanyaan dari wanita yang melahirkannya, Ipul malah mengajukan pertanyaannya, menanyakan wanita yang mungkin saat ini sakit hati serta kecewa karena perbuatannya.
"Hanna pulang, segera temui dia hari ini dan jelaskan semuanya." suara berat sang Papa yang sejak tadi ikut menyimak dua orang di dekatnya itu memberitahu tentang wanita yang seharusnya lusa akan bertunangan dengan anaknya, namun setelah kejadian hari ini dia malah merasa ragu jika Hanna akan mau meneruskan pertunangan dengan anaknya.
"Iya, kamu harus jelaskan padanya apa yang terjadi lalu minta maaf lah, Hanna wanita yang baik, kamu akan menyesal jika sampai melepaskan Hanna," tukas Riska memegang lengan anaknya, dan terlihat jelas penyesalan dari wajah sang anak.
"Kamu belum menjawab pertanyaan Mamamu," Irman yang juga penasaran akhirnya meminta jawaban atas pertanyaan yang tadi di lontarkan oleh istrinya.
Ipul mendesah berat lalu mengurut keningnya, lelah dan sebuah rasa berdosa kembali mencuat kepermukaan mengingat bahwa Zara harus mengalami perkosaan dan itu semua bermula karena dirinya, karena kegilaannya hingga Davi akhirnya marah dan meninggalkan Zara sendiri.
Oh tuhan tolong tunjukkan bagaimana caranya agar Ipul bisa mengembalikan hidup Zara seperti semula.
Dan saat Ipul membeberkan apa yang sudah terjadi sontak keterkejutan menghinggapi dua wajah di depannya itu, beruntung orang tuanya tidak memiliki riwayat penyakit jantung, jika punya sudah bisa di pastikan detik itu juga serangan jantung akan langsung menyerang dengan cepat.
"Astaga Zaraaa!" pekik Riska keras dengan mata yang langsung saja mengeluarkan cairannya, sungguh sejak pertama kali mengenal Zara, wanita itu sudah begitu menyayangi Zara bahkan dulu dia sangat berharap kalau Ipul bisa membuat Zara menjadi menantunya, namun ia harus berlapang dada kala mengetahui bahwa Zara hanya menganggap Ipul sebagai seorang teman dan memilih melabuhkan cintanya pada Davi, keponakannya itu.
__ADS_1
Riska terduduk dengan kaki yang mendadak kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya sendiri, "Kenapa semua ini terjadi padanya," ratapnya sendu, jujur sampai saat inipun ia tetap sangat menyayangi Zara seperti anaknya sendiri terlebih ia tahu bahwa Zara sudah tidak mempunyai orang tua.
"Semua karena Ipul Ma," suara Ipul yang begitu bergetar menelisik ke telinga Riska dan tanpa berkata apapun dia langsung memukuli anaknya melampiaskan kemarahan dan mengomel.
"Iya, memang semua ini salah kamu, kamu ini anak yang kurang ajar tidak bisakah kamu merelakan Zara, dia sudah bahagia dengan Abang mu!" sentak Riska menumpahkan emosi di pagi yang mulai menampakkan sinar mataharinya.
Ipul menenggelamkan wajahnya pada pangkuan sang Mama, tidak melawan apalagi menjawab pada setiap Omelan yang tengah di luapkan oleh wanita itu, sungguh ia benar-benar merasa menjadi orang yang paling jahat dalam kisah hidup Zara.
\*\*\*\*
__ADS_1