
Kali ini Davi harus menghadapi seroang dokter kandungan yang baru saja selesai memeriksa Zara, melakukan USG agar mereka tahu berapa sebenarnya usia kehamilan Zara dengan perutnya yang nyatanya memang sudah besar meskipun tak terlalu tampak karena hari-hari Zara yang selalu mengenakan pakaian longgar.
Sejak masuk ke dalam ruangan sang dokter Davi tak sekalipun mengajak Zara bicara, pria itu mengabaikan wanita yang mengekor di belakangnya dengan wajah yang tertunduk dan sekarang kala sang dokter tengah menjelaskan tentang berapa usia kandungan Zara membuat Davi malah hanya memberikan tatapan yang teramat tajam pada sang istri.
"Dari ukuran dan berat janin sudah bisa di pastikan usia kandungan saat ini memasuki 14 Minggu," keterangan sang dokter membuat tarikan napas Davi menjadi sangat berat, ada kemarahan yang berusaha untuk tidak dia keluarkan namun dari caranya melihat pada wanita di sebelahnya jelas dia marah pada wanita itu.
14 Minggu? artinya kehamilan Zara memasuki 4bulan, bukankah pernikahan mereka juga baru akan menginjak 4bulan satu Minggu lagi? jelas Zara langsung hamil saat mereka pertama kali berhubungan! dan itu memang benar anak mereka bukan anak hasil perkosaan sialan yang membuat Zara menjadi tega pada anaknya sendiri sampai berpikiran untuk menggugurkannya.
"Mengenai tes DNA.."
"Saya akan membicarakannya lagi dengan istri saya," Davi memotong ucapan sang dokter yang gegas mengangguk.
__ADS_1
"Bicarakan dengan baik, jangan membuatnya stres usia kehamilannya masih sangat rentan," saran dokter wanita yang sejak tadi tidak menilai bahwa pasangan suami istri itu sedang terlibat masalah wajah Zara yang tampak begitu tertekan sangat jelas di matanya.
"Terima kasih, saya permisi," ucap Davi lalu mengambil kertas resep yang dokter berikan agar bisa menebus beberapa vitamin kehamilan untuk Zara.
Setelah selesai menebus vitamin Davi bergegas kembali menuju mobilnya mengabaikan Zara yang berjalan lambat di belakangnya, entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu sekarang yang jelas Davi puas dan sangat yakin anak yang Zara kandung adalah anaknya.
Davi lebih dulu masuk ke mobil memegang kemudi lalu menatap pada Zara yang akan membuka pintu.
"Puas Za?! sudah puas menguji kesabaran ku?! atau masih belum cukup? masih mau melanjutkan tes DNA?" tuding Davi di halaman parkir rumah sakit, pria itu cukup sadar diri untuk tidak melajukan mobilnya dalam keadaan emosi yang tidak terkontrol seperti ini, emosi yang benar-benar membara bisa saja membuat mereka berdua dan calon anak mereka celaka jika tetap nekat membawa kendaraan.
Suara yang keluar dari mulut Zara bukanlah jawaban justru malah suara tangisan yang sangat menyesakkan dada, wanita itu menangis tanpa mau tahu sedang berada di mana mereka sekarang, yang dia inginkan hanyalah meluapkan semua rasa perih yang begitu mengganjal.
__ADS_1
Davi pun mengusap wajahnya mencoba untuk mengendalikan kemarahan yang sejak tadi menguasainya lalu berkata dengan suara yang melemah, "tidak seharusnya kita seperti ini Za, seharusnya saat kamu memutuskan untuk tidak lagi meminta cerai itu artinya kamu dan aku sudah bersiap menerima apapun, berusaha menekan egois kita masing-masing terlebih lagi sekarang kamu sudah tahu kalau anak yang ada di perutmu itu adalah anakku, anak kita Za! apa kamu tidak percaya padaku? aku sudah berjanji untuk terus bersama denganmu apapun yang terjadi, tidak masalah semenyakitkan apa masa lalu yang pernah terjadi kita akan melupakannya, Tuhan pun memberikan anugerahnya pada kita," pada nyatanya semua yang Davi katakan memang benar adanya, mereka terutama Zara harus melupakan apa yang sudah terjadi, toh masa depan mereka tidak akan menjadi baik jika Zara masih saja berkutat dengan masa lalu.
Suara tangisan Zara malah makin menjadi layaknya anak kecil yang meminta sesuatu tapi tidak di kabulkan oleh orang tuanya, Davi memejamkan mata sesaat lalu menarik tubuh Zara dan membiarkan wanita itu menangis di pelukannya, siapa yang akan tega jika melihat wanita yang dicintai menangis? mungkin tidak ada, itulah yang Davi rasakan saat ini, dia tidak tega melihat sang istri menjadi begitu rapuh kemarahannya pun sejak tadi terbilang sangat wajar mengetahui istrinya malah akan menggugurkan anak yang tidak memiliki dosa sama sekali.
Baju yang Davi pakai pun basah oleh Ari mata yang tak kunjung berhenti dari kedua mata wanita di dalam dekapannya, Davi tidak mengucapkan apa-apa lagi hanya tangannya saja yang bergerak guna menenangkan sang istri.
Inilah seorang Davi yang akan selalu mencintai Zarania Permata, wanita yang dia nikahi beberapa waktu lalu.
Davi mengecupi puncak kepala Zara berulang kali sebelum akhirnya terdiam memikirkan sesuatu yang dua bulan lalu membuat dia selalu dihantui oleh rasa bersalah, bersalah terhadap wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya.
Kesalahan yang yang sebenarnya tak pernah dengan sengaja mau dia lakukan, namun harus terjadi ketika dia berada pada fase lelah menghadapi Zara.
__ADS_1
*****