Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 161


__ADS_3

Kebingungan orang-orang atas nasib orang yang mereka sayangi yang berada di dalam pesawat yang hilang itu pun sejenak terhenti untuk melihat pada seorang pria yang tampak begitu terpukul merasa iba namun mereka juga tengah merasakan hal yang sama, hancur karena kenyataan di depan mata sudah tampak jelas begitu mendengar serpihan pesawat di temukan oleh pelayan yang sedang melaut.


Dan kini bukan hanya sebagian hati Davi yang hancur tapi sudah seluruhnya hati bahkan tubuhnya seolah turut hancur tak bersisa menerima kenyataan yang barusan dia dengar.


Adakah ini mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa membuatnya untuk kembali bangun mengingat dia harus kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupnya dalam waktu yang bersamaan dan di saat jalinan rumah tangganya dengan wanita yang dia cintai dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Tentu tumpukan penyesalan jelas menimpa diri serta hidup kedepannya yang akan dia jalani jika mimpi buruk itu sungguh terjadi.


Getaran dari handphonenya mengharuskan dia mengatur nafas untuk menjawab panggilan dari sang Mama yang beberapa saat teleponnya dia putus begitu saja.


"Mah," hanya sepenggal kata itu yang mampu dia keluarkan namun sudah cukup untuk membuat wanita di seberang sana bertanya dengan nada gelisah.


Jelas Andini sangat paham pada anaknya, hanya dari nada suaranya saja sudah bisa dia ketahui bahwa ada yang sedang terjadi dan itu turut membuat jantungnya berlomba dengan cepat dan semakin tak karuan kala dia bertanya namun tak juga mendapat jawaban.


"Ada apa? apa yang terjadi?" tidak juga mendapat jawab hingga akhirnya dia berseru tak tenang.


"Davi! ada apa?!" tanyanya keras.


"Pesawat yang Zara naiki menghilang dan.."


Pria itu tercekat sungguh tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.


"Tidak mungkin menghilang! jangan mengatakan hal yang tidak-tidak itu tidak baik!" sentak Andini marah.


"Serpihan pesawat ditemukan di laut," akhirnya dengan kekuatan penuh dan terdengar tertekan Davi pun memberitahukan semua yang tadi dia dengar dari petugas bandara.


Bruk!


Tidak ada suara dari sang Mama namun Davi bisa mendengar ada benda berat yang jatuh begitu cepat.


"Mama pingsan, kamu di mana sekarang?"

__ADS_1


Terdengar suara sang Ayah yang sejak tadi berada di samping istrinya kala wanita itu berbicara dengan sang anak.


"Indonesia, Davi di bandara sekarang," sahut Davi yang kini kecemasannya bertambah berkali-kali lipat setelah membaca nama-nama daftar penumpang yang baru saja di tunjukkan oleh sang petugas yang sejak tadi memang harus dengan sabar menghadapi kericuhan dari orang-orang yang tidak terima akan apa yang sedang terjadi.


"Ayah ke sana sekarang." tegas Arman.


Sedangkan Davi? apa yang pria itu lakukan begitu membaca nama istrinya berada di daftar penumpang, tangannya bergetar dengan kedua mata yang sudah tidak lagi sanggup untuk tidak meneteskan air mata.


Sungguh saat ini dia menjadi pria yang sangat cengeng bahkan tidak lagi malu untuk menangis di depan petugas bahkan semua orang yang ada di bandara.


Sudah jelas hatinya hancur lebur bagaikan debu, lalu siapa yang akan bisa menatanya kembali dengan baik tanpa terlihat bahwa itu adalah hati yang hancur dan telah di tata ulang? tidak akan ada yang bisa, bekas itu akan terus ada sampai kapanpun.


"Aku telah membunuh kalian," rintihnya penuh dengan penyesalan karena memang dirinyalah yang telah memesankan tiket pesawat naas itu hingga akhirnya dia harus kehilangan istri dan calon anaknya yang bahkan belum sempat melihat dunia.


Penyesalan datang silih berganti sampai satu tangan besar menepuk bahunya seolah berusaha untuk menyadarkan dirinya dari semua rasa bersalah.


Davi mengangkat wajahnya dan langsung saja menubruk tubuh pria yang ternyata adalah sang Ayah, memeluknya lalu tanpa kuasa menangis seperti saat dia kecil dulu.


Tanpa kata dan hanya ada bahu yang bergetar dan Isak tangis dari anak laki-laki nya Arman mengusap seperti meminta anaknya untuk bersabar meski dia tahu kehilangan orang yang sangat di cintai itu tidaklah mudah.



"Bagaimana ini Ris," suara Andini sangat gemetar dengan air mata yang sedari tadi mengalir tak henti setelah mendengar kabar bahwa pesawat yang membawa menantunya malah menghilang.



Untungnya tadi Arman sempat menghubungi istri dari saudara kembarnya untuk datang menemani istrinya yang tadi sedang pingsan, kini setelah wanita itu sadar hanya ada Isak tangis dan juga ucapan-ucapan ketakutannya.



"Tenang Mbak, kita tunggu kabar dari Mas Arman dan juga Davi, semoga semua ini tidaklah benar, Zara pasti dalam keadaan baik-baik saja," suara Riska menenangkan meski di dalam hatinya dia pun merasakan ketakutan yang teramat besar namun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya agar Kakak iparnya sedikit tenang.

__ADS_1



"Aku tidak tahu bagaimana bisa nasib menantuku seperti ini, banyak sekali cobaan yang harus dia hadapi dan sekarang saat dia baru saja merasakan kebahagiaan karena akan menjadi seorang ibu tapi.." Andini tidak sanggup lagi mengatakannya, suaranya sudah tercekat di dalam tenggorokan.



Riska mengelus pundak Andini sangat mengerti dengan semua yang wanita itu katakan, bahkan diapun tahu dengan jelas bagaimana masa remaja seorang Zara yang berteman dekat dengan anaknya, Ipul.



Ipul, Riska pun baru ingat bahwa dia belum memberitahukan berita ini pada anaknya yang berada di Inggris, tentu Ipul harus tahu karena dia sangat menyayangi Zara.



Baru saja Riska akan menghubungi Ipul, dia malah berteriak kaget ketika melihat Andini lagi-lagi pingsan.



"Astaga Mbak!" serunya panik saat tiba-tiba tubuh Andini yang tadi ada di dekatnya merosot jatuh ke sofa.



Di rumah hanya ada mereka berdua, sedangkan Inaya dan Anaya belum pulang sekolah.



Riska berusaha membenarkan tubuh Andini yang sedang tak sadar, lalu menghapus air mata yang menjejak di kedua pipinya.



"Zara, Tante mohon kamu baik-baik saja," lirihnya seraya menatap sang Kakak ipar.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*


__ADS_2