
Sudah beberapa hari Zara seperti merasakan ada sesuatu yang ganjal di dalam hatinya, tanpa sadar dia menyadari ada perubahan dari diri suaminya, hingga akhirnya ketidaksadarannya itu malah memupuk rasa penasaran terlebih lagi suaminya selalu saja memintanya untuk tidak lagi bertemu ataupun berhubungan dengan Aleyara, dengan kata lain pria itu memintanya untuk berhenti berkonsultasi dan juga berteman dengan sang psikolog.
Memangnya kenapa dan apa yang sedang terjadi hingga Davi bersikap seperti itu? ada yang salahkah dengan wanita berkebangsaan Austria yang menurut Zara perilakunya normal-normal saja, sejauh ini yang terlihat tidak normal ialah dua orang itu yang tidak saling bicara saat ada dirinya, tapi Zara tahu ketika dia tidak ada dua orang itu saling bicara dengan ekspresi wajah yang tampak serius.
Apa yang terjadi hingga akhirnya Zara tidak bisa lagi membendung rasa ingin tahunya yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk mengikuti sang suami pada saat pria itu berbicara akan pulang terlambat dan ketika dia tanya apakah itu urusan pekerjaan namun Davi menjawab bukan tapi selalu mengatakan urusan itu cukup penting.
Memangnya ada yang lebih penting dari dirinya dan juga pekerjaan? sungguh kali ini Zara tidak bisa menahan keingintahuannya sampai akhirnya pada jam pulang kerja sang suami dia sudah menunggunya di tepi jalan dekat gedung kantor suaminya.
Menunggu dengan taksi sampai akhirnya mobil milik sang suami keluar tetap ketika Zara mulai yakin tidak ada apa-apa yang akan dia ketahui sebab suaminya baru keluar dua puluh lima menit lebih lambat.
"Tolong ikuti mobil itu Pak," pinta Zara menunjuk mobil Davi yang baru saja keluar dan tak jauh dari taksi yang dia naiki.
Sang sopir mengangguk, tentu saja pria itu menurut pada penumpang yang menyewanya, kemanapun akan dia turuti asalkan ada bayarannya.
__ADS_1
Zara terlihat tidak nyaman saat untuk pertama kalinya dia menguntit sang suami, rasanya memikirkan hal seperti inipun dia tidak pernah, tapi sekarang dia harus terpaksa melakukan ini demi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, bukan berarti dia tidak percaya hanya saja dia akan tetap tidak bisa tenang apabila terus mengabaikan isi hatinya.
Sepanjang jalan dia terus memperhatikan kemana perginya mobil sang suami yang berada tepat di depan taksi yang membawanya, hanya berjarak beberapa meter saja tentu sudah cukup untuknya mengawasi suaminya, jalan yang Davi lalui pun juga Zara lalui terjebak kemacetan saat ada kecelakaan pun Zara juga melihat beberapa kendaraan yang sudah penyok tak lagi utuh.
Dalam kegelisahan Zara menggigiti bibir bawahnya hingga tidak terasa bibirnya sedikit terluka.
Wanita hamil itu pun lantas terjengkit ketika mendapati mobil milik suaminya memasuki halaman parkir tempat yang baginya tidak asing lagi, sekitar dua bulan lalu dia memang sangat rutin mendatangi tempat itu guna menangani traumanya, dan beranjak jarang ketika dia merasa sudah membaik.
Zara bahkan sampai memutar tubuhnya ketika mobil hitam milik Davi memasuki halaman parkir, "berhenti di sini saja Pak," kata Zara pada pria separuh baya yang sejak tadi sangat setia mengikuti arahan darinya.
"Apa yang Mas Davi lakukan di sini?" suara Zara begitu samar kala menahan rasa tidak mengerti kenapa dan ada urusan apa suaminya itu datang ke kantor Aleyara, jelas tujuan Davi ke kantor psikolog itu karena di tempat itu memang hanya ada kantor itu satu-satunya.
Mata Zara tidak pernah dia palingkan sedetikpun bahkan ketika Davi turun dari mobil, wanita itu benar-benar tidak mau kehilangan momen apapun yang tengah dan akan Davi lakukan, Zara meremas kedua tangannya yang sejak tadi saling bertautan begitu Davi mulai masuk ke dalam kantor yang memang hanya ada sekitar empat tingkat saja.
__ADS_1
Cukup lama setelah Davi tak terlihat, akhirnya Zara memutuskan untuk turun, "tunggu sebentar Pak, saya tidak akan lama," ucap Zara lalu melangkah meski lambat namun dia pastikan dia akan menyusul suaminya untuk mencari tau apa yang pria itu lakukan di tempat itu, di saat pria itu sendiri terus memintanya agar tidak lagi begitu dekat dengan Aleyara.
Tapi lihatlah apa yang pria itu lakukan sekarang? sungguh sangat tidak bisa di mengerti oleh logika Zara yang selalu berusaha untuk berpikiran positif.
Zara melangkah lambat dan melihat ke tempat resepsionis yang tidak ada siapapun berjaga di balik mejanya, dia bahkan bisa melihat dengan jelas pada saat suaminya masuk ke sebuah ruangan yang lagi-lagi tentu saja Zara tau ruangan itu milik siapa! tidak tau bagaimana ceritanya tempat itu begitu sepi bahkan tidak ada siapapun di ruang tunggu kala Zara melewatinya.
Semakin dekat pada ruangan di mana suaminya tadi masuk Zara merasakan jantungnya sangat tidak bersahabat, terus menerus berdebar semakin kencang dan juga cepat.
Tinggal beberapa langkah saja dan telinga Zara menangkap pembicaraan dari dalam sana dengan sangat samar, di depan pintu Zara menghentikan langkahnya, pintu yang tidak tertutup sempurna membuatnya sekarang mampu mendengar dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Secara naluriah dengan sangat cepat bibirnya bergetar menahan tangis namun air matanya tak sanggup untuk dia tahan, mengabaikan air mata yang sudah meluncur dengan bebas akhirnya Zara melebarkan pintu itu membuat dua orang yang tadi sedang terlibat perdebatan begitu terkejut tidak menyangka.
"Mas," begitu bergetar dan membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasakan bagaimana sakit yang kini dia rasakan dan harus hadapi.
__ADS_1
******