Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 68


__ADS_3

Wajah Zara tampak sangat bingung ketika mobil yang di kemudikan oleh Davi terus meluncur membawanya ke tujuan yang hanya lelaki di sampingnya itulah yang tau.


"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Zara dengan wajah galaknya namun nyatanya Davi tidak menjawab pertanyaan darinya, sebab lelaki itu terus fokus pada kemudi yang ada di kedua tangannya mengabaikan lontaran pertanyaan darinya.


"Davi!" seru Zara tak terima Davi abai pada dirinya.


"Aku ingin berbicara dengan kamu berdua saja Zara, aku tidak ingin ada orang lain yang tiba-tiba muncul." ujar Davi kemudian membuat Zara makin heran.


Zara sungguh tidak mengerti dengan maksud yang di katakan oleh Davi saat ini, Davi ingin berbicara dengannya.


"Aku sudah bilang sejak pertama kali kita bertemu bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, hubungan kita sudah berakhir dan tidak menyisakan apapun lagi Davi." Zara berkata tajam seperti tengah mengingatkan lelaki di sampingnya malam ini bahwa mereka memang tidak perlu membicarakan apapun tentang hubungan mereka yang sudah kandas bertahun-tahun lalu, dan itupun sesuai dengan yang di minta oleh Davi.


Davi menggeleng cepat menolak mentah-mentah pernyataan Zara barusan.


"Aku tidak ingin kita berakhir Za, Aku ingin kamu yang dulu." ungkap Davi seraya menghentikan mobil yang dia kendarai di dalam sebuah halaman Villa.


Ya Davi sengaja membawa Zara ke Villa milik keluarganya yang ada di Bogor agar bisa berbicara berdua saja dengan Zara.


Tidak ingin ada yang mengganggunya lagi dan juga tidak ingin Zara pergi darinya dan membohongi hingga sulit untuk dia temukan kembali.

__ADS_1


Davi turun dari mobilnya untuk membuka gerbang pagar berwarna putih dengan lebar agar mobilnya bisa masuk ke dalam.


"Aku mau pulang Vi." pinta Zara yang entah kenapa ia merasa takut jika hanya berdua saja dengan Davi.


Hanya berdua dengan lelaki yang sesungguhnya masih mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya, takut jika dirinya akan kembali goyah dengan perasaan yang ia punya.


Takut ia kembali terjebak dalam perasaannya sendiri, takut jika akhirnya ia harus merasakan kecewa yang berulang seperti dulu.


"Za, Aku mohon." tutur Davi menatap wanita di sampingnya.


"Aku ingin berbicara dengan kamu." ujar Davi lagi.


"Aku mohon beri aku kesempatan." kata Davi dengan tatapan mata yang memohon dan ketulusan yang sungguh Zara bisa rasakan dari sorot matanya itu.


Zara menunduk terdiam, ia tidak bisa berkata apapun lagi, ia tahu perasaannya untuk Davi sebenarnya tidak sungguh-sungguh pergi, begitupun dengan kebenciannya pada lelaki itu tidak benar-benar sangat besar.


Hanya sekedar kemarahan yang sedikit menggores hatinya.


"Ijinkan aku menebus kesalahan ku sama kamu Za." ujar Davi seraya mengelus rambut Zara dengan sangat lembut meninggalkan buaian tersendiri di dalam hatinya.

__ADS_1


Setelah Zara hanya bisa diam Davi pun memasukkan mobilnya ke dalam Villa yang kosong saat malam, sebab orang yang di tugaskan untuk merawat Villa keluarganya itu hanya datang saat pagi sampai sore hari.


Tadi saat di jalan Davi sudah meminta orang yang mengurus Villa itu untuk meletakkan kunci Villa di dekat pot yang ada di samping pagar agar dia tidak perlu repot menunggu orang itu datang.


Davi menuntun Zara keluar dari mobil dan membuka pintu dengan kunci yang dia pegang.


Sekitar Villa tampak sangat gelap ketika mereka datang apalagi karena banyaknya pohon yang berdiri di samping kiri kanannya.


Ketika sudah sampai di dalam Davi lantas berdiri di hadapan Zara dengan menatap wanita itu sangat lekat.


"Maafkan aku Za, tolong kasih aku kesempatan." ucap Davi memohon pada wanita yang sungguh tidak percaya bisa kembali bertemu dengan lelaki yang sekian tahun coba ia lupakan itu.


Langit di luar sana sudah bertambah gelap dengan cahaya dari petir yang terkadang muncul menandakan hujan yang akan segera turun membasahi bumi, hembusan angin juga terasa sangat kencang meskipun mereka kini ada di dalam Villa namun nyatanya dingin tetap saja merasuki seluruh persendian mereka.


Zara menundukkan wajahnya, sungguh ia tidak tahu harus menjawab apa, ia tidak tahu harus melakukan apa.


Lelaki ini masih tetap kokoh berdiri di hadapannya memandang wanita yang terus menunduk dengan dada yang bergerak naik turun menandakan wanita itu tengah bernapas dengan sangat cepat.


\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2