
Ipul dan Hanna dalam perjalan pulang ke rumah setelah mengantarkan Zara dan Davi.
"Jika kamu memang ingin membatalkan pernikahan kita serta mengakhiri hubungan ini, aku tidak akan mencegah, aku bersedia menerima apapun yang menjadi keputusan kamu. karena aku tau kesalahan yang sudah ku perbuat tidak akan pernah bisa di maafkan sekalipun bibir kamu mengucapkan maaf tapi aku tau di dalam hatimu sangat sulit menerima apa yang aku perbuat."
Ipul berbicara panjang lebar sebab dia melihat wajah Hanna yang jauh berbeda ketimbang saat mereka bertemu dulu lalu menjalin hubungan.
Jelas hati tidak akan bisa di bohongi sekalipun berulang kali Hanna mengatakan sudah memberikan maafnya dan mau meneruskan rencana pernikahan mereka.
"Apa harus kita bahas lagi semua yang sudah berlalu?" tanya Hanna dengan tatapan yang begitu serius, tatapan yang menunjukkan bahwa ia tidak percaya jika Ipul masih saja membahas semua yang seharusnya dan tidak ingin ia bahas lagi.
Bila di tanya sakit hati, jelas ia sakit hati serta kecewa terhadap kekasihnya yang masih saja menyimpan perasaan pada wanita lain, terlebih lagi wanita itupun sudah menikah bahkan menikah dengan Abang sepupunya sendiri.
Ipul menatap ke dalam mata wanita yang terlihat begitu teduh, sesungguhnya dia merasa sangat bersalah dan rasa bersalahnya malah semakin bertambah ketika Hanna dengan mudahnya memberikan maaf untuknya.
"Aku hanya tidak mau kamu menyimpan luka serta kecewa, karena aku tau semua yang sudah aku lakukan tidak mungkin bisa dengan mudah kamu lupakan," jelas pria yang sejak dulu sampai sekarang pun memiliki kulit yang sedikit gelap namun tetap saja tidak mengurangi ketampanan yang dia miliki.
"Dengan kamu membahasnya terus menerus itu yang justru membuat aku malah ingat dan sulit melupakan," terang Hanna seraya menghembuskan nafas berat.
Benar, ia sedang berusaha untuk melupakan apa yang di perbuat Ipul, namun pria itu malah terus membicarakannya sekalipun tujuannya hanya untuk agar dirinya tidak menyesal di kemudian hari setelah mereka menikah.
Karena bagi Ipul lebih baik mundur ketimbang harus menjadi beban di kemudian hari yang akan membuat pertengkaran demi pertengkaran nantinya.
Dengan jawaban yang diberikan oleh Hanna sudah membuat Ipul tidak lagi berkata, dan kini hanya terdengar tarikan nafasnya saja dengan kedua tangannya yang mencengkeram erat kemudi mobil yang sedang dia arahkan menuju rumahnya.
****
Davi membuka pintu apartemen yang lumayan lama tidak dia tempati, pria itupun langsung membuka seluruh gorden juga jendela agar udara bisa masuk.
Mereka tiba malam hari dan udara malam pun jauh lebih terasa menyejukkan.
Zara melihat sekeliling ruangan yang kini akan menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami, tempat tinggal baru yang ia harap bisa membantunya untuk melupakan kejadian mengerikan yang telah terjadi.
Berharap di tempat ini bayangan itu tidak lagi menghantuinya dan ia bisa menjalani hari-harinya dengan sang suami tanpa perlu ketakutan lagi.
"Kamu pasti lelah, aku akan mengganti seprai dulu agar kamu bisa beristirahat," tutur Davi kepada Zara yang berdiri mematung di dekat meja ruang tamu.
__ADS_1
"Biar aku saja, kamu juga pastinya lelah," kata Zara mengelus lengan suaminya.
"Ya sudah," ucap Davi sambil merangkul pinggang sang istri dan mengantarnya ke kamar.
"Dimana seprainya?" tanya Zara.
"Di dalam sana." Davi menunjuk deretan laci-laci besar di samping lemari.
Zara yang akan melangkah malah tak bisa karena tangan Davi semakin erat memeluk tubuhnya.
"Biarkan seperti ini sebentar saja," tukas Davi membenamkan kepala Zara ke dalam dadanya sedangkan tangan Zara sengaja dia lingkarkan agar memeluk pinggangnya.
"Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini," sambung Davi.
Benar, saat kemesraan mereka sebagai pengantin baru harus dibuat hancur oleh perbuatan seorang pria bajingan yang sangat tega meninggalkan kenangan buruk pada istrinya, dengan dalih karena mencintainya sejak lama.
Kebahagiaan yang mereka reguk sebagai pengantin baru malah benar-benar berantakan sedemikian rupa hingga akhirnya kini mereka harus meninggalkan rumah yang seharusnya menjadi kado terindah bagi istrinya.
Zara pun ikut larut menikmati rangkulan suaminya, merasakan betapa hangat dan juga nyaman kala berada di dalam pelukan pria yang sangat ia cintai, sungguh ia merasakan tentram yang luar biasa meski tidak di pungkiri hatinya belum mampu untuk melupakan kejadian yang tanggal, hari serta waktu pun cukup jelas ia ingat.
"Sudah?" tanya Zara.
Davi mengedipkan kelopak matanya seraya mengangguk disertai dengan seulas senyum yang begitu luar biasa.
Zara pun melepaskan kedua tangannya dari pinggang sang suami lalu perlahan menjauh menuju laci yang tadi di tunjuk oleh suaminya itu.
"Aku akan membuatkan minum," kata Davi yang lalu bergegas keluar dari dalam kamar.
Belum juga pria itu sampai pada dapur suara dering handphone miliknya terdengar sangat keras, pria itupun memutar haluan untuk menuju ruang tamu dimana benda yang tengah bersuara itu berada.
Davi langsung menjawabnya begitu melihat nama yang tertera di layar yang sedang menyala itu.
"Halo," terdengar suara berat milik Davi.
"Sudah sampai?" tanya Lugo yang memang mengetahui bahwa hari ini Davi akan kembali ke Australia membawa istrinya.
__ADS_1
"Baru sampai," jelas Davi seraya melangkah menuju jendela yang terbuka.
"Kalau begitu besok gue akan membawakan berkas yang harus di periksa," kata Lugo kemudian.
Sekarang dialah yang menjadi satu-satunya orang yang sangat Davi percayai untuk mengelola perusahaan yang selama ini dia tinggalkan.
"Oke," jawab Davi singkat lalu segera mematikan handphonenya dan kembali menuju dapur untuk membuatkan minuman yang sempat tertunda karena panggilan dari temannya itu.
Davi terbengong kala melihat teh serta gula sudah tidak layak untuk di konsumsi, pria itupun membuka kulkas dengan harapan ada minuman dingin, namun nihil lemari pendingin itu juga kosong.
Pria itu hanya bisa menggaruk kepalanya karena memang dulu dia sangat jarang membeli bahan-bahan dapur, tentu karena dia seorang pria dan hanya tinggal sendiri jadi menurutnya lebih baik beli jadi ketimbang harus repot-repot membuat dulu yang pasti membutuhkan waktu meski hanya sebentar tapi dia bukanlah seorang pria yang senang untuk menunggu.
"Kenapa?" Zara yang mendadak muncul di belakang Davi terlihat bingung ketika mendapati suaminya itu sedang berdiri saja menatap lemari es yang terbuka.
"Sepertinya aku harus ke minimarket," jawab Davi seraya menunjukkan raut wajah lucu.
"Kalau begitu aku ikut," seru Zara.
"Ya sudah kita pergi sekarang," kata Davi jelas tidak akan menolak keinginan istrinya apalagi jika itu bisa sedikit mengalihkan Zara untuk tidak berpikir tentang hal yang mereka berusaha lupakan.
Keduanya pun melangkah bersama keluar dari apartemen dan menuju minimarket yang berada di bawa apartemen.
__ADS_1
\*\*\*\*