Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 155


__ADS_3

Rasanya sudah tidak ada kata-kata apapun lagi yang sanggup Zara ucapkan dari bibirnya yang sedari tadi bergetar, bahkan dia menggigit bibirnya sendiri berusaha untuk menahan tangis meskipun air mata dari kedua matanya sudah membuktikan bahwa dia tidak akan bisa menahan tangisnya itu.


Sungguh rasanya teramat sakit, dia merasa di khianati tidak pernah terpikirkan olehnya kalau pria yang menjadi suaminya itu tidur dengan wanita lain, yang lebih menyakitkan lagi wanita itu adalah psikolog nya sendiri, psikolog yang sudah dia anggap sebagai teman.


Bagaimana bisa wanita itu Setega ini padanya? salah apa dia?


Zara sudah tidak sanggup lagi melihat dua orang di dalam sana hingga memaksakan kakinya yang terasa sangat bergetar dan lemah itu untuk melangkah pergi, memaksa berjalan cepat ketika mendengar suaminya mengejar.


Dengan deraian air mata Zara menuju pada taksi yang masih sangat setia menunggunya, mengabaikan suara sang suami, rasanya tidak ingin sekali dia menoleh apalagi menghentikan langkahnya, dia tidak ingin terbukti ketika dia malah makin berlari lalu membuka pintu taksi dan masuk ke dalamnya.


"Jalan Pak," suaranya terdengar begitu mengenaskan saat berbicara pada sang sopir.


"Za, tunggu Za," Davi mengetuk kaca mobil tepat di samping Zara yang bahkan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Jalan Pak, sekarang!" seru Zara ketika si sopir malah tampak bimbang, tidak tau apa yang sebenarnya tengah terjadi namun akhirnya pria itu memilih untuk menurut pada penumpangnya itu.


Tanpa perlu di jelaskan tentu sopir itu mengerti ada yang terjadi antara penumpangnya dan pria yang kini memohon untuk di buka kan pintu.


Mobil mulai bergerak tapi Davi tetap mengikuti mobil itu sambil terus mengetok kacanya berharap Zara mau membiarkannya berbicara, tapi kenyataannya hati Zara sedang benar-benar hancur dan kecewa, tentu tidak akan bisa baginya untuk berhadapan dengan orang yang telah menyebabkan kekecewaannya saat ini.

__ADS_1


Saat mobil tak juga mau berhenti dan malah semakin cepat hingga akhirnya Davi berlari ke arah mobilnya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengejar mobil yang di naiki oleh sang istri.


Davi berusaha untuk mengejar namun dia justru tertinggal cukup jauh sebab tadi harus lebih dulu mengambil mobilnya di parkiran, sempat khawatir ketika mobil yang Zara tumpangi tidak lagi terlihat, takut kalau istrinya itu tidak pulang ke apartemen dan dengan kegilaannya malah menginjak gas dengan dalam dan lama, hingga akhirnya bisa bernapas lega kala mendapati Zara yang baru saja akan masuk ke dalam gedung apartemen saat mobil yang Davi bawa baru sampai di seberang jalan.


Dengan cepat dan tanpa berpikir apapun lagi Davi pun bergegas melajukan mobilnya menuju halaman parkir, mematikan mesin mobil paling segera turun dan berlari cepat mengejar sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift.


Pria itu memilih untuk berlari menaiki tangga darurat guna mengejar sang istri, lelah sudah pasti tapi itu tidak akan mampu untuk membuatnya berhenti di saat rumah tangganya sedang dalam keadaan genting seperti ini.


"Aku bisa menjelaskan semuanya," kata Davi seraya menarik Zara yang baru saja akan masuk ke dalam apartemen, perbuatannya itu bahkan membuat tubuh Zara tertarik ke arahnya.


"Aku sudah mendengarnya sendiri," suara Zara terdengar begitu rapuh, tentu saja dia hancur, dia merasa dunia runtuh di atas kepalanya dan dengan tanpa perasaan menimpa kepala hingga tubuhnya, hancur lebur dan hanya menyisakan seonggok daging yang seharusnya di kubur saat ini juga.


"Aku tidak pernah mau dengan sengaja melakukan itu, aku khilaf.." terdengar sangat putus asa disertai dengan sorot mata yang tidak tenang.


"Aku tau semua itu terjadi karena aku, tapi tidak bisakah kamu berbicara denganku? tidak bisakah kamu mengatakan itu sendiri padaku, daripada terus membohongi aku dan akhirnya justru aku mengetahui sendiri apa yang sudah kamu dan dia lakukan! jahat! kalian jahat!" seru Zara membebaskan diri dari Davi dan berjalan cepat untuk menjauh, tapi lagi-lagi Davi mengikutinya dan untuk kedua kalinya menahan tangannya lalu tanpa Zara sangka pria itu berlutut di depannya.


"Maafkan aku Za, maafkan aku," nyatanya pria itu pun tidak tahan untuk menahan air matanya, Davi menangis menyesali semua yang sudah dia lakukan.


Zara melihat pria yang tengah menunduk sambil memegangi kedua tangannya, ada getaran yang terlihat dari punggung sang pria, suaranya pun benar-benar mengisyaratkan bahwa pria ini tengah menangis.

__ADS_1


"Seharusnya ini tidak perlu terjadi jika aku bisa menahan diri," ucap Davi.


"Jika memang sudah terlanjur terjadi pun bukankah lebih baik kamu memberitahukan ak? memberitahu aku agar aku bisa sedikit menerima dan tidak terlalu sakit seperti ini," tuntut Zara.


Sudah tidak ada lagi perkataan yang bisa Davi ucapkan, karena yang kini terdengar hanyalah suara tangis dari mulutnya.


"Aku ingin sendiri," tutur Zara samar.



Davi menggeleng malah makin erat memegang kedua tangan sang istri.



"Biarkan aku sendiri, aku mohon, aku butuh waktu," tukas Zara seraya melepaskan tangan pria yang sejak tadi berlutut di kakinya.



Penuh perjuangan sampai akhirnya genggaman Davi terlepas dan pria itu hanya bisa menatap Zara yang berlalu masuk ke dalam kamar, wanita itu tidak menutup pintu hingga Davi bisa melihat Zara yang duduk di tepi tempat tidur dengan tubuh yang sedikit membungkuk, terlihat jelas bahwa wanita itu sedang sangat terpuruk atas kenyataan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2