Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 76


__ADS_3

Mata Zara bertabrakan dengan sepasang mata berwarna biru yang pernah ia lihat sebelumnya.


Lelaki bernama Lugo dan yang sempat berkenalan dengannya saat pertama kali bertemu dengan Davi.


Kening lelaki itu mengernyit lalu tampak kembali melongok ke depan guna memastikan bahwa dia tidak salah apartemen.


"Kamu.."


"Zara." Zara menyebutkan namanya begitu melihat ekspresi Lugo yang sedang berpikir.


"Ya Zara." rupanya dia masih ingat dengan wanita yang sempat mendatangi mejanya dan mengajak berkenalan.


"Aku tidak salah apartemen bukan?!" tanyanya dengan raut wajah bingung dan tentunya dengan bahasa Inggris yang bisa diimbangi oleh Zara dengan sangat baik.


"Tidak." Zara menggelengkan kepala.


"Dimana Davi?" tanyanya kemudian seraya melongok ke arah dalam membuat Zara serentak menyingkir.


"Oh maaf." ucap Zara mempersilahkan Lugo untuk masuk.


"Mungkin sedang keluar." sahut Zara.


Lugo pun melirik jam tangannya yang memang sudah menunjuk pada angka 1, itu artinya sudah dini hari dan heran karena biasanya di jam segitu Davi akan sibuk memeriksa pekerjaannya atau bahkan sudah tidur.


****


Davi yang sedang berada di supermarket 24jam langsung bergegas kembali ke apartemennya ketika membaca pesan dari Lugo yang mengatakan bahwa lelaki itu sudah ada di depan apartemennya dan marah ketika password yang dia masukkan untuk membuka pintu malah salah ketika dia mencoba menekannya berulang kali.


Lelaki yang memakai mantel hitam itu berjalan cepat bahkan kini tengah berlari dengan membawa kantong berisi belanjaan untuk mengisi kulkasnya yang memang jarang sekali dia isi.

__ADS_1


Tadi setelah memarahi Zara dia berniat membuat makanan untuk mereka berdua, namun ketika membuka kulkas tidak ada apapun yang bisa dia gunakan untuk membuat makanan membuat dia pergi begitu saja tanpa memberitahu Zara.


Davi yang baru masuk sudah di serbu dengan pertanyaan dari Lugo tentang kenapa Davi mengganti password apartemennya itu.


"Lalu kenapa wanita di cafe itu bisa ada di sini? bagaimana jika Lisa tau?" lontaran pertanyaan Drai Lugo menyambut kedatangan Davi yang bahkan belum sempat menyimpan barang belanjaannya di dapur.


"Nanti gue jelasin." katanya seraya berjalan ke dapur dan mendapati Zara tengah berdiri di depan kompor dengan panci di atasnya.


"Kamu sedang apa?" tanya Davi yang sontak membuat Zara terkejut mendengarnya.


"Buat air panas, teman kamu minta di buatkan kopi." sahut Zara.


"Ck." Davi berdecak kesal karena biasanya Lugo akan membuat kopi sendiri jika memang ingin, tali kenapa sekarang malah meminta wanitanya untuk membuatkan.


"Kamu masuk kamar, biar aku yang buat." ucap Davi sambil berdiri di dekat meja.


"Iya." Zara menurut dan hendak masuk melewati Davi untuk masuk ke dalam kamarnya, namun Davi meraih tangannya hingga langkah wanita itu terhenti.


Zara mengangguk sekilas dengan wajah menunduk membuat Davi meraih dagunya dan mengangkat wajah Zara hingga kedua mata mereka saling menatap.


"Aku tidak suka kamu menyalahkan dirimu sendiri, apalagi ini terjadi karena aku, akulah yang bersalah dan akulah orang yang pantas di sebut jahat." tutur Davi dengan mata mereka yang saling mengunci.


Zara diam membisu memperhatikan wajah Davi yang semakin mendekat padanya, bibir mereka hanya berjarak satu centi saja ketika dari arah ruang tamu terdengar panggilan dari Lugo.


"Masuk ke dalam." akhirnya mendorong tubuh Zara pelan dari dapur dengan wajah Zara yang sudah memerah karenanya.


Air yang di masak oleh Zara sudah berbuih membuat Davi lantas mematikan kompor dan menuangkan air itu ke dalam cangkir yang sudah berisi bubuk kopi lalu membawanya kepada Lugo.


Davi duduk berhadapan dengan Lugo dan kedua lelaki itupun akhirnya terlibat perbincangan serius.

__ADS_1


"Bagaimana Lisa? gue tau dia tidak akan bisa menerimanya." kata Lugo yang Menag sudah sangat paham bagaimana Lisa terhadap Davi selama ini.


Bagaimana perjuangan wanita itu untuk bisa memiliki Davi seutuhnya, bagiamana wanita itu terus berusaha agar Davi bisa membalas perasaannya.


Davi mengangguk lambat membenarkan pernyataan sang teman.


"Bahkan dia terus mendatangi kantor serta apartemen ini, makanya gue sengaja mengganti password agar dia tidak bisa masuk." seru Davi.


"Dari awal harusnya lu jangan kasih akses dia untuk masuk ke lingkup pribadi lu Vi, termasuk apartemen ini." keluh Lugo.


"Selama ini gue nggak pernah ngerasa kasih dia password apartemen gue Go." sahut Davi.


"Bukannya elu yang kasih tau dia." kening Davi mengernyit melihat Lugo menggeleng.


"Nggak." sanggah Lugo karena memang dia tidak pernah memberikan password apartemen temannya itu pada Lisa.


Davi menghela napas panjang dan berseru menebak siapa yang sudah memberitahu Lisa.


"Robert." kata Lugo yang berpikiran sama dengan Davi.


"Kamu tau Davi bagaimana selama ini Robert sangat dekat dengan Lisa." tutur Lugo.


"Sangat tau, bahkan mereka sudah sering tidur bersama." sahut Davi dramatis tentang apa yang sudah dia ketahui tentang Lisa dab Robert di belakangnya namun tidak pernah mau membukanya sedikitpun.


Itu karena Davi tidak peduli dengan apa yang di lakukan oleh kedua orang itu, dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap Lisa, Jika saja Zara lah yang melakukan itu bisa di pastikan Davi akan mengamuk seperti orang gila.


Kedua lelaki itu mengobrol sampai menjelang pukul 3 pagi hingga akhirnya Lugo memilih untuk pulang ke rumahnya sendiri, dia cukup sadar diri untuk tidak mengganggu dua orang yang akhirnya bertemu setelah sekian tahun berlalu.


Pergaulan orang luar memang sangat bebas, dan dia menerapkan itu juga pada Davi, meski selama ini dia tidak pernah melihat Lisa menginap di apartemen temannya itu.

__ADS_1


Di ruang tamu Davi bersandar pada sofa sambil mengurut keningnya dan memejamkan kedua matanya guna menghilangkan sedikit rasa pusing yang mendera sebelum akhirnya dia masuk ke dalam kamar untuk tidur.


****


__ADS_2