
"Zara hamil?!" Andini langsung terlonjak dari sofa yang dia duduki di ruang tamu ketika Davi memberikan kabar bahagia itu padanya.
Tentu saja Andini begitu sumringah kala berbicara dengan putranya yang sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah dan dia akan mempunyai cucu.
"Iya Mah, sudah 4bulan," jawab Davi pada sang Mamah yang senantiasa mendengarkan berita baik darinya.
"Mulai sekarang kamu harus lebih menjaga Zara, jangan biarkan dia kelelahan pola makannya pun harus kamu perhatikan, lalu.." Andini terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Itu anak Davi Mah," sepertinya Davi sudah tahu apa yang akan di tanyakan oleh sang Mamah jadi dia pun langsung memberikan jawabannya.
Andini mengangguk seraya kembali berkata, "Mamah yakin kamu anak yang baik, tidak akan mempermasalahkan apapun di saat kamu sudah mengambil keputusan, hanya saja Mamah memikirkan keadaan Zara," jelas Andini, wanita itu memang sangat khawatir pada sang menantu apalagi ketika anaknya memutuskan untuk menetap di negara orang, secara otomatis dia tidak lagi bisa memantau keadaan mereka berdua terutama keadaan sang menantu yang dia tau menderita trauma cukup berat setelah kejadian beberapa bulan lalu.
"Zara sudah jauh lebih baik, Davi juga tidak akan membiarkan Zara berlarut-larut dengan masa lalu, sebentar lagi akan ada anak yang akan menjadi penghibur bagi kami nantinya, Mamah tidak perlu mencemaskan apapun," tutur Davi sambil memperhatikan Zara yang sedang tertidur setelah meminum vitamin yang dokter berikan.
"Mamah turut senang, tapi kamu tidak boleh melakukan apapun yang akan membuat Zara sedih, Mamah peringatkan kamu Davi!"
Peringatan dari Andini membuat Davi membeku diam menggenggam handphonenya sekencang mungkin.
"Davi, kenapa diam?" panggil sang Mamah saya tak mendengar suara anaknya.
"Mah," akhirnya bersuara namun suaranya sangat rendah, suara yang mengisyaratkan ada sebuah beban yang ingin di katakan.
__ADS_1
"Kenapa? apa ada masalah?" dengan sangat cepat Andini bertanya, sebab sebagai seorang wanita yang telah melahirkan dan membesarkan Davi tentu dia sangat tau saat ada sesuatu yang mengganjal pada anaknya itu.
Namun bermenit-menit Davi tak juga bicara membuat Andini jadi gemas, "cepat bicara! apa yang sudah kamu lakukan!" Andini menyentak cukup paham ada yang tak benar sudah terjadi atau tengah terjadi.
Davi memejamkan matanya mengumpulkan semua keberaniannya untuk bicara, "Davi.."
"Mas, kamu lagi telepon sama siapa?" suara Zara membuat Davi tak bisa melanjutkan apa yang ingin dia bicarakan.
"Mamah," sahut Davi melihat pada sang istri yang langsung duduk begitu Davi menyebut sang Mamah.
Mama mertua yang selalu dia rindukan tentu membuat Zara senang dan tak sabar untuk berbicara dengannya mengadukan tentang keadaannya selama tinggal di negara orang.
"Aku keluar dulu," kata Davi mengelus rambut Zara dan segera keluar setelah melihat anggukan dari sang istri.
"Zara kangen sama Mama," Zara langsung mengungkapkan apa yang dia rasakan begitu mendengar suara sang mertua.
"Mama juga kangeeen banget sama kamu, kamu baik-baik dengan Davi ya," pesan Andini di tengah rasa penasaran yang dia rasakan akibat putranya.
"Davi memperlakukan kamu dengan baik kan Nak?" sambung Andini, jujur saja feeling sebagai seorang Ibu mulai bermain baru mendengar suara Davi saja dia sudah bisa merasakan sesuatu yang coba di sembunyikan, entah di sembunyikan untuk sebuah kebaikan atau karena alasan yang lain.
Zara mengulas senyum sekalipun mertuanya itu tidak melihat, tentu saja sebagai seorang istri Zara bisa merasakan betapa kasih sayang dan cinta yang Davi berikan begitu tulus untuknya, Zara bahkan merasa pria itu terlalu sabar menghadapi dirinya yang dalam kondisi tidak baik.
__ADS_1
"Davi sangat baik Mah, Zara sampai merasa tidak enak karena selalu merepotkan Davi," tutur Zara.
Terdengar Andini menarik napas dengan jawaban yang diberikan oleh sang menantu,"baguslah kalau begitu, jangan ragu untuk bicara pada Mama apabila ada masalah," Andini mengingatkan Zara.
"Iya."
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja, bukankah sekarang di sana malam?"
Zara tertawa kecil lalu menjawab,"iya Mah, disini malam. langit sudah sangat gelap cuaca juga sedang sangat dingin," jelas Zara menatap jendela yang belum di tutup padahal cuaca sangat dingin, mungkin Davi lupa menutupnya.
"Jangan lupa memakai pakaian hangat, jaga kandungan mu tidak perlu terlalu capek, biarkan Davi saja yang mengerjakan pekerjaan rumah," Andini memang seorang Ibu mertua berhati malaikat, dia bahkan lebih memikirkan perasaan menantunya ketimbang anaknya sendiri tentu karena dia tau kehidupan Zara sudah sangat berat di saat wanita itu masih sangat muda.
Zara terlihat sedikit lega setelah berbicara dengan mertuanya, dia pun mulai bisa menerima anak yang ada di dalam kandungannya adalah anaknya dengan Davi, tanpa sadar tangannya pun bergerak mengelus perutnya yang memang sudah tak lagi rata.
"Maafkan Mama ya.." suara Zara terdengar sangat lirih meminta maaf pada anaknya yang dengan bodohnya hampir saja dia aborsi.
Drrtt..
Handphone milik Davi yang tadi Zara letakkan di sampingnya bergetar, hanya sekali namun cukup mengundang perhatian Zara untuk kembali mengambil benda itu guna melihat pesan siapa yang masuk.
*******
__ADS_1